Ketika Cinta Mengalahkan Cinta

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Internet www.kubikleadership.com)

Penulis: Aghna Zainina

- Advertisement - jd

Gadis manis nan tomboy berusia 14 tahun itu, kerap disapa dengan Ana. Seperti biasa setiap sore Ana pergi ke lapangan voli di dekat rumahnya. Yap, gadis tomboy itu merupakan seorang bintang lapangan voli yang ada di desanya. Sifatnya yang ceria dan selalu menghadirkan tawa bagi teman-temanya cewek ataupun teman cowoknya, semua menyukai Ana yang selalu menghadirkan keceriaan di segala suasana. 

Selain terlihat selalu ceria, Ana juga tomboy totalitas. Dia melewati masa pubernya layaknya anak lelaki seperti merokok, kadang juga begadang dan ngumpul di warung kopi, main catur, dan sering bernyanyi di pinggir jalan sampai larut malam. Walau demikian, dia masih menjadi sosok gadis yang religius, tak pernah meninggalkan sholat lima waktu, yasinan setiap malam jum’at, dan juga mengikuti kegiatan pengajian remaja masjid di desanya. 

Saat Ana duduk di kelas 3 SMP datang penduduk baru di desanya. Seorang lelaki tampan, dengan tinggi kurang lebih 185 cm, berdada bidang, memiliki poni yang lucu ala Korea, hidungnya yang mancung seperti perosotan yang berhasil merosot ke hatinya, serta alis yang tebal nan bulu mata yang teduh seteduh ulasan senyumannya dengan sikap yang ramah pula. Lelaki itu juga pandai bermain voli, seringnya bertemu di lapangan voli, membuat mereka saling perhatian satu sama lain. 

Seiring waktu berjalan, Ana pun bersahabat dengan lelaki yang telah mencuri perhatiannya, dia kerap memanggilnya Abel. Persahabatan pun semakin akrab, berlanjut sampai ke warung kopi di desanya dan di halaman rumah Ana yang biasa untuk berkumpul dengan teman-teman desanya.

Kehadiran Abel dalam kehidupan Ana sedikit merubah perilakunya yang biasanya tomboy menjadi lebih feminim. Yaa…, Abel selalu mengingatkannya bahkan terkesan sedikit  ngegombal kalau Ana terlihat lebih cantik bila dia tak memangkas habis rambutnya seperti cowok. Semenjak Abel mengatakan itu, Ana tak pernah lagi memangkas rambutnya, mulai kelas 3 SMP itu, dia terus memanjangkan rambutnya hingga tamat SMA. 

Perjalanan persahabatan itu melahirkan cinta di hati Ana, namun Ana tak pernah berharap untuk cinta itu berlanjut karena ada dinding pemisah yang tak mungkin dia lampaui. Yaa…, terlalu prinsipil karena mereka berbeda kepercayaan. Namun, rasa cemburu saat mendengar Abel memiliki pacar membuat hati Ana hancur, maka untuk membalas sakit hatinya. 

Ana berpacaran dengan sepupu Abel yang baru datang dari ibu kota, hanya untuk membuat Abel panas. Namun, hal itu tak berjalan lama karena sepupunya kembali lagi ke ibu kota setelah setahun berada di desanya, saat itu Ana masih duduk di bangku kelas 3 SMA. 

Saat ujian akhir SMA Ana belajar ditemani Abel di rumahnya. Ya, kebiasaan mereka kalau belajar suka lapar, karena itu Ana pun pergi ke dapur meninggalkan Abel untuk memasak mie instan dengan meninggalkan tas dan buku-buku yang berserakan di meja belajarnya. Tanpa diketahui Ana, kalau Abel telah membaca buku diary miliknya yang berisikan tentang semua rasa yang disimpannya pada Abel selama ini.

Tentang rasa cintanya, tentang rasa sakitnya saat mengetahui Abel punya gadis idaman lain. Semua tertuang di buku diary miliknya itu. Tak lama kemudian, Ana pun selesai memasakkan mie instan spesial untuknya dan bergegas menghidangkan untuk Abel.

“Bel, bel, abelll…, tadaaaa nih dah masak mienya, hayyukkkk mamam…, enak nih, Ana tambahin cabe rawit lo kayak seleranya Abel yang pedas-pedas hehehh, pasti Abel belum pernah makan mie seenak yang Ana masak,” dengan bangga Ana memamerkan kepiawaiannya memasak mie instan, tanpa melihat mata Abel yang berlinangan air mata. 

Abel hanya menjawab “Iya,” sambil memalingkan wajahnya dan dengan sigap mengembalikan diary ke dalam tas Ana. Pada saat makan Ana pun bingung melihat gerak-gerik sahabatnya ini “kenapa sih bel, kok mandangin Ana kayak gitu, awas jatuh cinta lo bel baru tau, hahah,” canda Ana setelah selesai menyeruput es teh karena kepedasan makan mie buatannya sendiri, spontan tangan Abel menarik Ana keluar dari rumah, dituntunnya Ana duduk dibangku halaman rumah Ana, di bawah pohon nangka yang rimbun.

Di bawah sinar bulan yg kebetulan sedang purnama, “na…”, kata Abel dengan sedikit bergetar, “Maafin Abel, Abel yang telah membuat Ana menangis selama ini, Abel memang laki laki pengecut, gak seharusnya Abel sembunyikan rasa cinta Abel kepada Ana, namun saat ini Abel beranikan diri, bukankah Ana juga uda lama memendam rasa cinta ke Abel?”. Ana tersontak mendengarkan tiap rangkaian kata yang keluar dari mulutnya tanpa bisa berkata-kata Ana hanya terdiam dan melanjutkan mendengar perkatannya lagi, “Naa, terima Abel jadi pacar Ana yah, dan kalau Ana mau, kita bisa lanjut ke jenjang selanjutnya,” Ana tersentak lagi dan lagi.

Jantungnya kembali berdebar dan air matanya mengalir begitu derasnya, peristiwa ini yang dia tunggu selama tiga tahun. Namun, Ana yang memang gadis cerdas dan selalu memakai akalnya dalam bertindak, membuatnya menolak ajakan Abel untuk berpacaran, walau hatinya sangat menginginkan hal itu, dengan berat hati Ana membalas.

 “Bel.., maafin Ana, kita ga bisa pacaran, karena ga mungkin kita bisa bersatu, agama kita berbeda bel, Ana ga mungkin ngikuti agamanya Abel dan Abel pun gak mungkin mau ngikuti agama Ana, karena Abel laki-laki. Abel yang memimpin keluarga Abel nanti,” ujar Ana sambil menyeka air matanya. Abel terpaku mendengar jawaban Ana, mereka sama-sama bingung dan merasakan sakit yang sama terhadap fakta yang tidak mungkin bisa ditepis oleh keduanya.

Hingga pada akhirnya, cinta Ana kepada Allah mengalahkan cintanya kepada manusia. Rasa cinta mereka tulus datang dari persahabatan yang tulus, bahkan sampai saat ini mereka masih bersahabat, masih saling mendukung dalam menjalani kehidupan masing-masing.

“Tak selamanya cinta harus berakhir dengan memiliki, adakalanya bagian akhir dari cinta adalah mengikhlaskan.”

Editor: Annisa

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles