Addin Edisi 274: Komunikasi Berkembang Adab Berkurang

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi: Putri Ayu Dahniar
- Advertisement - jd

Oleh: M. Rio Fani

Hidup di zaman modern saat ini, masyarakat lebih dikenal dengan sebutan millennial society. Penggunaan komunikasi terus berkembang sesuai dengan teknologi yang semakin maju. Namun, dampak tetap ada dan terus bertumbuh seiring penggunaannya. Begitupun pengabaian seseorang terhadap orang lain meningkat sesuai pola hidup sosial. Cara berkomunikasi antar individu pun mengalami perubahan.

Adapun dampak positifnya yakni, terjalinnya konektivitas baik jauh maupun jarak dekat, dan mengurangi jumlah waktu dimana kita tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain serta memudahkan informasi.

Namun, gadget menjadi fenomena yang sangat umum, kita terbiasa melirik smartphone setiap satu menit sekali jika ada notifikasi yang masuk. Komunikasi yang seharusnya kita gunakan sebagai alat, kini hanya menjadi bahan kita untuk melupakan hal yang penting.

Sedangkan kebanyakan dari kita menggunakan smartphone terlalu signifikan menjadi hal yang terikat. Tidak bisa dihapuskan atau ditinggalkan sebentar saja. Sampai-sampai kita pun sering sekali mengabaikan percakapan secara langsung dan berpaku pada layar smartphone masing-masing.

Padahal Rasulullah sangat memperhatikan adab ketika berbicara dengan orang lain. Dalam kitab Syamail Muhammadiyah, disebutkan Baginda Nabi selalu perhatian kepada lawan bicaranya. Bila ia tertawa maka Nabi ikut tertawa. Jika ia takjub terhadap apa yang sedang dibicarakan maka Nabi juga ikut takjub.

ولا يقطع على احد حديثه

“Dan Rasulullah tidak pernah memotong pembicaraan orang lain.” (Hadist Riwayat Tirmidzi)

Tujuh tahun silam, tepatnya pada bulan Mei 2012 para ahli bahasa, sosiolog, dan budayawan berkumpul di Sidney University. Hasil pertemuan tersebut melahirkan satu kata baru dalam tata bahasa Inggris. Kata tersebut adalah phubbing; sebuah tindakan seseorang yang sibuk sendiri dengan gadget ditangannya, sehingga ia tidak memperhatian lagi orang yang berada di dekatnya.

Fenomena ini mungkin sulit dipisahkan, bahkan ada yang tidak rela untuk meninggalkan smartphone nya meski sedang berada di toilet atau pun pada saat khutbah jum’at. Sering sekali komunikasi pun terhambat karena terlalu sibuk dengan gadget. Akibatnya, pembicaraan tidak serius, tidak konsentrasi dan terkadang tidak nyambung. Hal ini bisa jadi bentuk ketidaksopanan dan tidak menghargai teman bicaranya.

Perhatikan hadits berikut, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai cincin yang bagus. Membuat beliau sering menatap cincin tersebut dan memalingkan beliau dari perhatian kepada para sahabat ketika berbicara. Akhirnya beliau melempar cincin tersebut karena mengalihkan perhatian dari para sahabatnya ketika berbicara.

Dari ibnu ‘Abbas, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai sebuah cincin dan memakainya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” “Cincin ini telah menyibukkanku dari (memperhatikan) kalian sejak hari ini (aku memakainya), sesaat aku memandangnya dan sesaat aku melihat kalian”. “kemudian beliaupun melempar cincin tersebut. ”(Shahih An Nasa’i : 5304)

Bahkan kita mungkin pernah duduk di suatu masjid untuk salat, dan masih bermain smartphone sepanjang khutbah. Ini bukan lagi phubbing kepada orang lain, tetapi juga kepada Allah. Hendaknya, kita benar-benar memperhatikan dan mendengarkan. Jika tidak memperhatikan, tentu kita akan kehilangan sebagian besar pahala pada saat itu.

Seiring perkembangan, media sosial juga menjadi sarana masyarakat untuk berkomunikasi secara masal. Dan adab tak lagi terwujud, kebanyakan penggunanya malah akan saling menggibah dan namimah (adu domba). Bila ucapan itu sampai kepada orang yang sedang dibicarakan, maka ia tidak menyukainya.

Seorang mukmin tidaklah boleh mencari keburukan atau menceritakan aib orang lain, kemudian menceritakan aib tersebut kepada orang lain. Hal ini dapat menimbulkan kebencian dan permusuhan antar sesama. Perbuatan ini sama saja dengan memakan daging saudaranya sendiri.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al Hujurat: 12)

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam pernah menyebutkan dua dosa penyebab azab kubur dan beliau sendiri telah menyaksikan serta mendengar secara langsung siksaan itu. Dua dosa tersebut adalah tidak sempurna dalam membersihkan najis air kencing dan melakukan perbuatan gibah atau namimah.

Dari Abu Bakrah radliyallahu anhu, ketika Nabi Shallallahu alaihi wasallam berjalan di antara ku dan orang lain, tiba-tiba Beliau mendatangi dua buah kuburan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya dua penghuni kubur ini sedang diazab, datangkan sebatang pelepah (korma) kepadaku”.

Berkata Abu Bakrah, “Lalu setelah nabi menyuruh kami, aku pun berlomba dengan kawanku (untuk mendapatkannya)”.

Maka aku bawakan kepada Beliau sebatang pelepah (korma), lalu Beliau membelahnya menjadi dua potong. Kemudian meletakkan sepotong pada kubur ini dan sepotong yang lain pada kubur itu.

Beliau bersabda, “Mudah-mudahan diringankan (azab) dari keduanya selama kedua potong pelepah itu masih basah. Keduanya diazab bukan karena sebab perkara besar yaitu ghibah dan air kencing”. (HR Ahmad: V/ 35-36, 39 dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih)

Begitupun dampaknya, kita akan menjadi antisosial karena hanya fokus bermain smartphone. Terkesan cuek atau tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Hingga pada akhirnya dapat menghancurkan hubungan pertemanan, dan terlalu berlebihannya eksistensi karena ingin selalu mengabadikan kejadian.

Saudaraku, mari kita berbenah diri. Bukan berhenti menggunakan teknologi, tapi bijak dalam menerapkannya. Hargai orang-orang di sekitar kita. Dan penting, mari kita teladani Rasulullah sebagai panutan kita. Jangan sampai smartphone yang kita beli dengan keringat hasil usaha sendiri ini, justru memisahkan kita dengan orang-orang yang kita sayangi. Bahkan memisahkan kita dengan Rasulullah SAW.

Penulis adalah Mahasiswa UIN SU, Fakultas Ilmu Sosial, Jurusan Ilmu Komunikasi

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles