Konklusi Puasa dan Raya dalam Perspektif Konsumsi

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi: Tumbularani
- Advertisement - jd

Penulis: Iin Prasetyo

Hakikat Puasa dan Raya adalah dua momen suci yang sangat perlu dikaji ulang dalam perspektif konsumsi. Apa sebenarnya orientasi yang diberikan Allah pada saat momen tersebut, sehingga relevansinya terhadap momen Ramadan sampai Lebaran dan pascalebaran akan menjadi konklusi catatan yang sangat penting untuk memperbaiki kualitas laallakumtattaquun-nya seseorang.

Sebagai orang-orang yang mengimani-Nya sepatutnya membuka hati seluas-luasnya menerima didikkan langsung dari Sang Khalik yakni, menahan diri dari segala yang berpotensi menjadi “orang yang melampaui batas”.

Tingkat konsumsi masyarakat di saat Ramadan sampai jelang 1 Syawal tidak pernah menampakkan kelesuan permintaan pada setiap jenis produk. Segala pernak-pernik Ramadan dan Lebaran baik makanan, pakaian baru, sampai perlengkapan rumah tangga telah menjadi hal yang wajib dipenuhi sehingga antara kebutuhan dan keinginan juga menjadi keniscayaan sampai menomorsekiankan pendapatan yang ada.

Pada dasarnya, naiknya kuantitas permintaan suatu barang atau jasa merupakan efek dari harga yang sangat terjangkau ditambah kualitas atau menariknya suatu produk. Namun, hal tersebut tidak ditunjukkan pada fenomena pasar saat Puasa hingga Raya (Idulfitri) karena berapa pun harga produk tersebut terpaksa tidak menjadi persoalan.

Konsumsi bagi seseorang saat ini bukanlah sekadar memenuhi kebutuhan dasar namun, telah menjadi paradigma stratifikasi untuk memandang seseorang berada di kelas bawah, menengah, atau atas. Oleh karena itu banyak orang berlomba-lomba untuk berada pada kelas atas atau minimal menengah yang akan menjadikan kedudukan antara orang atau kelompok yang satu lebih tinggi dengan yang lain dalam sudut pandang konsumsi pada saat momen Ramadan, sehingga kecenderungan tersebut menghasilkan suatu gaya hidup yang dikenal dengan istilah konsumerisme.

Konsumerisme sangat terlihat fenomenanya pada saat Ramadan hingga jelang Lebaran padahal harga-harga secara umum mengalami kenaikan. Dari fenomena ini ada hal-hal penting untuk menjadi konklusi dan perbaikan ke depannya.

Pertama, Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah: 183, “Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Jelaslah dalam ayat tersebut Allah mengorientasikan kewajiban puasa pada orang-orang yang beriman yakni agar bertakwa. Puasa merupakan momen pendidikan untuk menjadi pribadi yang berserah diri kepada Allah secara total, tunduk dan patuh atas semua perintah-Nya. Kaitan antara puasa dan takwa adalah seseorang berpuasa dengan niat yang utuh karena Allah bukan karena manusia.

Kedua, Azhari Akmal Tarigan (2016) menyatakan, jika para ulama menyebut bahwa makna Ramadan adalah al imsak yang artinya pengendalian diri termasuk dalam hal konsumsi maka, kaum kapitalis mengajarkan pengendalian diri hanya berlangsung dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Namun, setelah berbuka kesempatan Anda untuk mengumbar nafsu konsumtif Anda. Jika ulama menjelaskan berbuka puasalah dengan amat sederhana, seteguk air dan sebutir atau dua butir kurma, kaum kapitalis mengajarkan berbukalah dengan memanjakan selera Anda. Tidak perlu ditahan-tahan. Bukankah kesempatan ini hadir hanya satu bulan dalam setahun

Ketiga, bila Puasa dan Raya berbicara dalam konteks konsumsi maka bulan yang suci tersebut mengedukasi diri untuk lebih bersahaja. Allah berfirman dalam QS. Al A’raf: 31, “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Hakikinya Ramadan mengingatkan diri setiap orang yang berpuasa bahwa keistimewaan Ramadan bukan dari beragamnya menu takjil yang dibeli maupun pakaian yang dipakai.

Ramadan mengingatkan bagaimana kondisi orang-orang yang kurang beruntung menahan diri atas rasa lapar atau ketidakmampuannya membeli sesuatu. Maka itu, sikap sederhana adalah sebuah keniscayaan bagi orang-orang yang berpuasa. Begitupun Raya 1 Syawal yang keistimewaannya tidak dilihat dari pakaian baru, gorden baru, sofa baru dan lain sebagainya namun, sesuai dengan namanya yakni Idulfitri, kembali fitrah (jiwa lahir dan batin yang suci).

Antara pahala dan keterpaksaan

Momen puasa Ramadan adalah kesempatan setiap orang (yang beriman) untuk berlomba-lomba menggapai pahala yang sangat besar dari Allah. Berbeda dengan momen di luar Ramadan, segala bentuk ibadah baik salat, puasa, sedekah, dan lainnya tidak begitu antusias dijalankan setiap orang. Hal ini terjadi karena orang telah paham bahwa Ramadan adalah bulan yang sangat istimewa dan momen yang sangat tepat untuk memperbanyak pahala.

Namun, ketika Ramadan tiba dan akan dijalani selama sebulan penuh tampaknya akan menjadi sebuah keterpaksaan bila perhatian ditujukan pada bagaimana cara memenuhi kebutuhan (terlebih keinginan) hidup secara materil. Padahal, Allah telah jelas mengorientasikan puasa Ramadan supaya manusia mencapai la’allakum tattaquun.

Sebenarnya kalau dipikir, Ramadan adalah kesempatan untuk berhemat. Bulan-bulan biasa umumnya, makan sehari tiga kali maka Ramadan makan dua kali sehari yakni ketika sahur dan berbuka—otomatis beban atau pengeluaran rumah tangga berkurang. Namun, yang terjadi pada saat sahur terlebih saat berbuka adalah seolah menyelenggarakan pesta besar yang harus menyediakan makanan sebanyak-banyaknya.

Lucunya, ketika puasanya seseorang sampai pada waktu berbuka mengasumsikan bahwa ia telah mencapai kemenangan (falah), oleh karena itu ia mesti merayakan kemenangan dengan membeli makanan ini dan itu, padahal puasa yang dijalani bukan tiga hari melainkan tiga puluh hari.

Merayakan asumsi falah yang dimaksud selama tiga hari terasa biasa saja, tidak membuat beban pengeluaran terlalu besar. Akan tetapi yang jadi masalah adalah ketika merayakan falah tersebut selama tiga puluh hari, misal selama tiga hari tersebut pengeluaran tiga ratus ribu—jika pada kenyataanya merayakan falah tiga puluh hari maka beban falah yang dikeluarkan sebanyak ….

Kapitalisasi momen suci

Fenomena konsumerisme saat Puasa dan Raya adalah hal yang biasa terjadi. Tapi fenomena tersebut jelas bukanlah masalah yang dapat dimaklumi. Secara tidak langsung konsumerisme akan menyebabkan pudarnya makna dari dua momen suci itu sendiri pada diri seseorang yang terjangkit virus konsumtif. Dewasa ini, seseorang dituntut mampu bersadar diri terhadap arus kapitalisasi yang semakin menyeruak ke setiap sisi kehidupan terutama di hari-hari raya keagamaan.

Memang, konsumsi adalah bagian yang tidak akan dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia, akan tetapi kapitalisasi bukanlah bentuk keniscayaan. Azhari Akmal Tarigan (2016) menyatakan, pola budaya konsumsi masyarakat tidak lagi ditandai oleh logika kebutuhan (need) melainkan logika hasrat (desire). Masyarakat tidak saja akan mengonsumsi benda-benda tetapi juga simbol, ada suatu pesan di balik benda tersebut yakni eksternalisasi diri dalam strata tertentu.

Ada modus desideratif dari kapitalisasi saat Ramadan hingga jelang 1 Syawal yakni, ketika para ulama mengajarkan akan pentingnya meningkatkan ketakwaan termasuk kesalehan sosial melalui kualitas dan kuantitas sedekah dan infak, berbeda dengan para kapitalis yang mendikte kesalehan sosial yang pertama harus menampakkan kesalehan simbolik. Artinya, seseorang tidak dikatakan saleh jika tidak memakai busana muslim dengan model terbaru.

Pemakaian busana muslim terutama muslimah (kaum hawa) akan dipandang orang yang saleh lagi modis apabila mengenakan pakaian ala desainer terkenal dengan harga yang tidak semua orang dapat menjangkaunya. Inilah contoh kecil dari kapitalisasi puasa saat kesalehan ditentukan dengan nominal rupiah. Pada saat yang sama pula bahwa orientasi la’allakum tattaquun bisa-bisa menjadi al musrifiin. Astagfirullah.

Editor: Cut Syamsidar

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles