Konten Tidak Bermutu Viral, Salah Siapa?

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Webmaster (Dok. Pribadi)

Penulis: Muhammad Kautsar Muntazar

- Advertisement - jd

Bukan sebuah hal baru jika setiap kali kita menggulir laman di media sosial, besar kemungkinan kita akan melihat berbagai macam hal viral yang terkesan ‘tidak bermutu’. Tentu, bukan orangnya yang tidak bermutu, melainkan kontennya saja. Bahkan saking viralnya orang-orang ‘tidak bermutu’ ini bisa diundang ke berbagai acara televisi, talkshow, podcast, dan segala macamnya.

Apa itu viral? Menurut KBBI Edisi V, viral memiliki arti ‘meluas dengan cepat’. Kata viral biasanya digunakan di dunia maya untuk menggambarkan berita dan informasi yang tersebar luas dalam waktu yang singkat.

Kenapa banyak orang yang sampai rela melakukan apa saja demi menjadi viral? Hal ini dikarenakan adanya pemahaman publik bahwa dengan menjadi viral, mereka akan mendapatkan penghasilan secara instan baik itu dari endorsement, panggilan ke berbagai acara televisi, dan lain-lain. Di samping itu, orang-orang juga didorong oleh motivasi sosial untuk mencari validasi dari lingkungan sekitarnya. Bahkan, menjadi viral—bagi sebagian orang sudah seperti kebutuhan hidup.

Sekarang, kenapa konten seperti inilah yang cepat viral? Secara simpel, hal ini tak lain dan tak bukan adalah salah kita sendiri selaku netizen. Karena tanpa sadar, netizen itu sendiri yang merasa terhibur dan menaikkan engagement dari konten-konten tidak bermutu tadi. Setiap klik, setiap tayangan, dan setiap kali kita membagikan konten-konten tersebut ke media sosial malah akan menjadi keuntungan tersendiri bagi para kreator tersebut.

Sejujurnya, tidak ada formula pasti yang bisa memastikan sebuah konten menjadi viral, karena banyak sekali faktor internal dan eksternal yang mempengaruhinya. Namun hasil riset Unruly, sebuah perusahaan teknologi marketing menganalisa 430 miliar video views dan 100.000 poin data konsumen, dan menemukan dua kunci utama pada sebuah konten video viral: respon psikologis (perasaan yang didapat setelah melihat konten tersebut) dan motivasi sosial (alasan Anda membagikan video tersebut).

Semakin besar efek yang dihasilkan oleh sebuah konten terhadap emosi seseorang, maka semakin besar kemungkinan besar orang tersebut akan membagikannya pada jaringan koneksi atau relasi yang dimilikinya. Ironisnya, setelah tanpa sadar bahwa mereka sendiri yang menaikkan konten tidak bermutu tersebut menjadi viral, para netizen seolah-olah lupa diri dan mengatakan, “Kok bisa konten bodoh begini jadi viral?”

Yang lebih berbahayanya lagi, para konten kreator yang membuat konten-konten macam ini pada akhirnya menginspirasi masyarakat lainnya untuk membuat konten-konten tak bermutu lainnya. Dengan adanya hasrat untuk menunjukkan eksistensi ke dunia luas, inilah yang menjadi ide dasar para konten kreator dan masyarakat lainnya—khususnya di Indonesia ingin menjadi viral. Karena itu konten-konten aneh ini akan selalu bermunculan tiap harinya.

Namun, tidak berarti dengan banyaknya konten-konten seperti ini yang menjadi viral, membuat media sosial menjadi rusak. Konten-konten ini bisa menjadi viral karena tentu saja memiliki sifat yang entertain atau menghibur. Sifatnya yang simpel, mudah dipahami, menghibur, dan sering kali memberikan kejutan membuat siapapun merasa nyaman menikmatinya, dan pada akhirnya membagikannya pada orang lain.

Pada akhirnya, sebagai netizen kita jugalah yang harus pandai memilah konten yang baik dilihat oleh publik dan mana yang tidak. Jangan asal membagikan sebuah konten apabila konten tersebut tidak pantas untuk dijadikan pembicaraan di media sosial. Karena para konten kreator itu tak jauh berbeda dengan para masokis: semakin banyak yang membicarakan keburukan mereka, semakin kaya juga mereka.

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles