
Penulis: Shendy Sanjaya
Indonesia, negara yang kita huni dan kita banggakan, dikenal akan sifat penduduknya yang ramah dan terbuka dari pandangan wisatawan yang sering berkunjung. Memang tidak semua warga Indonesia seperti itu, tetapi rata-rata perilaku tersebut menjadi ciri khas negara kita. Sejak kecil, kita diajarkan orang tua dan guru kita untuk selalu menjaga adab dan memperlakukan teman atau pun orang-orang sekitar kita dengan baik.
Namun, tidak semua anak mendapatkan ajaran yang baik dari guru atau pun orang tuanya terkait adab dan cara memperlakukan orang lain. Ada yang tumbuh dalam kekerasan dari masa kecilnya, ada yang tumbuh dalam kelembutan, hingga merasakan pahitnya kehidupan dunia sebelum beranjak dewasa. Banyak kasus seperti ini terjadi di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Jiwa yang Ingin Tenang, Terkurung dalam Riuh Riang
Kita bisa ambil dari kasus nyata seperti, perundungan di sekolah yang berawal dari candaan semata, baik candaan fisik maupun nonfisik. Kejadian tersebut tidak hanya terjadi ketika kita berada di masa SMA saja, tetapi sejak dari Sekolah Dasar. Jika kita berpikir bahwa di SD anak sudah diajarkan dengan baik, dari akhlak atau pun pemikiran, sebaiknya orang tua memeriksa kembali. Mengapa? Karena kita perlu mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Jika kita perhatikan lingkungan anak-anak yang menjadi tempat mereka bermain dan berteman. Pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Ada yang memiliki pertemanan solid dan akrab, tetapi lingkungan sekitarnya terdapat orang-orang berandalan, perokok, atau mantan kriminal. Ada pula yang memiliki lingkungan positif, tetapi pertemanannya ekstrem sehingga anak meniru kebiasaan buruk.
Kita memang sering bercanda kepada teman-teman kita, tetapi tidak semua candaan itu bisa dimaafkan, terutama jika melukai perasaan dan berdampak psikologis. Tidak hanya anak-anak, remaja dan orang dewasa juga bisa terkena dampaknya. Salah satu kasus yang sempat viral “Seorang siswa SD Negeri di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan berinisial NAA meninggal dunia di tangan teman sekelasnya berinisial R pada 18 September 2015. Bocah berusia 8 tahun itu tewas akibat beberapa luka di bagian kepala dan dada setelah perkelahian sederhana yang terjadi dengan “R”.
‘‘Tragis, Candaan Berujung Maut Remaja Desa Nowa Tewas Tertembak Senapan Angin Oleh Teman Sebaya’’, itu contoh kasus viral yang terjadi pada remaja dan anak anak. ‘‘Dikerjai oleh bos dengan kompresor angin nasib pria ini berujung-tragis’’ kasus yang terjadi kepada orang dewasa. Dari beberapa kasus yang baru kita lihat, terungkap jelas bahwa candaan remeh saja bisa menjadi suatu keseriusan, apalagi kalau sudah diseriuskan dari awal. Jadi, mulai sekarang mari budayakan menjaga adab ketika berbicara ataupun berurusan kepada lawan bicara kita.
”Tragis, Candaan Berujung Maut, Remaja Desa Nowa Tewas Tertembak Senapan Angin Oleh Teman Sebaya”, ini contoh kasus viral yang terjadi pada remaja dan anak-anak. ”Dikerjai Bos dengan Kompresor Angin, Nasib Pria Ini Berujung Tragis.” Kasus ini terjadi pada orang dewasa. Dari beberapa kasus yang baru kita lihat, jelas bahwa candaan yang dianggap remeh dapat berujung serius, apalagi jika sudah diniatkan serius sejak awal. Oleh karena itu, marilah kita mulai sekarang membudayakan sikap santun dalam berbicara dan berinteraksi dengan lawan bicara.
Mari kita teladani ajaran Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai salah satu rasul kepercayaan Allah Subhanahu wa ta’ala, yaitu beliau selalu beradab ketika berbincang dengan sahabat-sahabatnya. Jangan ada kata bawa perasaan (baper) dalam pemikiran kita, tetapi pusatkanlah kedalam kata ‘‘hargai’’ supaya generasi kita selanjutnya akan meniru kita sebagai seseorang yang bergaul dengan baik kepada orang-orang disekitarnya.
Baca Juga: Seni Mengembangkan Diri, Membangun Versi Terbaik dari Diri Sendiri
Editor: Ummy Syafitri

