Krisis India-Pakistan, Ketegangan Militer, Diplomasi, dan Sumber Daya Alam

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Istimewa)

Penulis: Shadrina Asya Putri

Hubungan antara India dan Pakistan kembali memanas setelah serangan udara yang dilakukan oleh India terhadap dua pangkalan militer utama Pakistan, yaitu Nur Khan dan Sorkhot pada April lalu. Serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas penyerangan di Pahalgam, Khasmir yang telah menewaskan 26 warga sipil dan meyakini bahwa yang telah melakukan serangan itu adalah sekelompok teroris di wilayah Pakistan. Pakistan sendiri akhirnya menanggapi hal tersebut dan mengakui bahwa mereka meminta gencatan senjata dari India setelah serangan udara tersebut, yang dikenal sebagai operasi Sindoor.

Tindakan ini diambil kedua pihak setelah terlibat dalam serangkaian serangan udara dan ancaman peningkatan lebih lanjut yang dapat memicu peperangan dalam skala besar. Pakistan bahkan telah menangguhkan akses udara untuk maskapai India. Sementara India menghentikan sejenak kesepakatan penting seperti “Indus Water Treaty”, yang mengatur penggunaan air dari berbagai sungai yang mengalir melalui dua negara tersebut.

Baca Juga: Menimbang Halal dan Haramnya Bitcoin dalam Perspektif Islam

Selain itu, ketegangan militer kini sedang memuncak, persoalan sumber daya alam, khususnya krisis air yang terjadi pada wilayah Pakistan, turut mempersulit situasi. Tepat pada 23 April 2025, India secara sepihak menangguhkan persetujuan yang mengatur aliran air melalui Sungai Chenab dan Sungai Indus ke wilayah Pakistan. Pakistan menilai bahwa hal ini merupakan ancaman langsung terhadap negara mereka, karena sebagian besar kebutuhan air negara Pakistan bersumber dari sungai-sungai yang terletak di India.

Kegelisahan ini semakin diperburuk dengan adanya krisis air yang semakin intens di negara Pakistan, dengan level air di bendungan utama seperti Mangla dan Tarbela telah mencapai titik krisis. Ketergantungan Pakistan terhadap sumber daya alam ini telah menyebabkan ancaman pada sektor pertanian negara mereka yang sangat mengandalkan aliran irigasi dari sungai-sungai tersebut.

Kesulitan air ini juga memiliki efek jangka panjang pada ketahanan pangan dan keberlanjutan ekonomi Pakistan. Hal ini diakibatkan ketergantungan yang sangat besar pada kawasan pertanian untuk penghasilan internasional dan ketahanan pangan. Kawasan pertanian di Pakistan telah lama mengalami pembekuan, terutama pada faktor cuaca yang tidak dapat ditentukan dan irigasi yang tidak efektif.

Rancangan-rancangan besar pembangunan dam dan kanal yang menata aliran air, seperti proyek Indus Basin, sudah lama menjadi akar perseteruan antara dua negara. Kegagalan dalam pengendalian bersama sumber daya air ini hanya memperkeruh ketegangan yang sudah terjadi. Banyak juga ahli yang mengusulkan supaya kedua negara hanya fokus kepada solusi bersama dalam masalah pengelolaan air untuk mencegah bencana yang lebih besar.

Di lain hal, Amerika Serikat berperan sebagai mediator. Pada pertengahan Juni 2025, Jenderal Asim Munir, Panglima Militer Pakistan, mengadakan kunjungan diplomatik ke Washington dan dijamu langsung oleh presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Presiden Amerika Serikat itu menyatakan bahwa Amerika Serikat memainkan peran penting dalam mendukung tercapainya gencatan senjata antara India dan Pakistan. Akan tetapi, pernyataan itu dibantah oleh Perdana Menteri India, Narendra Modi, yang mengatakan bahwa gencatan senjata tersebut terwujud melalui upaya militer bilateral antara kedua belah pihak negara, bukan melewati mediasi internasional.

Di sisi lain, Pakistan mengalihkan perhatiannya ke interaksi yang lebih erat dengan China. Negeri Tirai Bambu telah menyiapkan dukungan militer dan ekonomi, termasuk menawarkan pesawat tempur siluman J-35 dan sistem radar yang lebih canggih. Sebaliknya, India yang menyadari hal itu semakin terpojok dengan upaya Pakistan yang turut menyadarkan, bahwa mereka akan terus memperkuat kekuatan militer di kawasan dan siap dengan rangkaian tindakan tegas untuk menghadapi kemungkinan ancaman dari luar.

Di bidang ekonomi, India dan Pakistan juga saling menerapkan sanksi perdagangan. India menangguhkan impor beragam barang dari Pakistan, termasuk juga bahan pangan dan tekstil sebagai tanggapan atas tindakan Pakistan menghentikan kesepakatan dagang dan membatasi jalur perdagangan bilateral.

Pemblokiran perdagangan ini memperburuk kondisi ekonomi di kedua negara yang semakin merasa teraniaya oleh ketegangan politik. Selain itu, dalam bidang digital, akun media sosial yang berkaitan Pakistan telah diblokir oleh India, sementara itu Pakistan melakukan pemblokiran serupa terhadap platform India. Tindakan ini hanya memperburuk ketegangan yang sudah terjadi dengan kedua negara yang sudah terisolasi dalam ruang komunikasi dan juga informasi. Walaupun beberapa pihak di dalam kedua negara mengharapkan normalisasi hubungan ekonomi sebagai jalan keluar untuk mengurangi perseteruan.

Baca Juga: Perang Terbuka Israel-Iran, Sebabkan Kondisi Timur Tengah Tidak Stabil

Editor: Ranum Aisyah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles