
Penulis: Indah Rominta Berutu
Pernahkah kamu merasa bahwa gaya hidup remaja saat ini, hanya dikendalikan oleh hal-hal yang viral? Hal ini disebut dengan algoritma. Tidak salah lagi, jika remaja saat ini dikendalikan oleh algoritma kehidupan media sosial. Apalagi pada masa sekarang, konten media sosial seolah menjadi kebutuhan harian bagi diri kita, seperti halnya, makanan yang selalu dikonsumsi setiap hari. Hal ini, menyebabkan rasa ketergantungan terhadap algoritma kehidupan media sosial.
Apalagi, saat ini konten yang muncul di laman beranda media sosial seperti lalu lalang yang tidak berhentinya untuk lewat. Dikutip dari laman kompasiana.com, algoritma bekerja secara pintar, menyajikan konten berdasarkan kebiasaan dan preferensi pengguna. Beberapa contohnya seperti konten motivasi atau rekomendasi belanja online, semua dirancang agar pengguna terus terlibat. Namun, kenyamanan ini justru membuat Gen Z secara tidak sadar masuk ke dalam filter bubble, ruang yang membatasi sudut pandang mereka hanya pada hal-hal yang dianggap “relevan”.
Baca Juga: Dedi Mulyadi, Sesosok Pemimpin Rakyat dalam Cahaya Islam
Algoritma juga membuat budaya FOMO (fear of missing out) semakin parah. Feed yang terus diperbarui menciptakan tekanan untuk selalu terhubung dan mengikuti tren, tentunya ini berdampak pada kesehatan mental dan produktivitas manusia. Mengapa hal ini terjadi? Seharusnya kendali ini berada di tangan kita sendiri sebagai manusia. Bukan diri kita yang dikendalikan oleh algoritma tersebut. Karena itu, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan agar tidak terpengaruh oleh algoritma media sosial.
Pertama, kita harus sadar bahwa setiap aplikasi menggunakan algoritma tertentu yang tidak kita ketahui arahnya. Ada nilai atau kepentingan yang terdapat di dalamnya. Apabila kesadaran ini sudah muncul, maka setiap klik yang kita lakukan harus didahului dengan refleksi dan pemikiran yang matang. Jangan terlalu mudah mengklik atau membagikan informasi yang tidak jelas validitas dan manfaatnya.
Kedua, kita perlu melatih diri menjadi pemikir mandiri yang tidak mudah terjerumus oleh narasi publik, termasuk informasi yang direkomendasikan oleh beragam aplikasi. Tentu, menjaga independensi seperti ini tidak selalu mudah. Dalam konteks ini, tingkat asupan individu terhadap informasi terverifikasi, pendidikan, dan kemampuan berfikir kritis yang baik akan mempermudah seseorang menjadi pemikir mandiri.
Ketiga, kita harus bisa menganasila konten yang masuk ke dalam beranda media sosial. Penyebaran informasinya baik itu fakta atau palsu (hoaks), tidak bisa kita kendalikan. Apalagi saat ini, banyak sekali berita bohong yang sering kali dibuat oleh berbagai instansi dan media, untuk menimbulkan perpecahan di antara masyarakat.
Keempat, tetapkan batas waktu harian. Kita bisa mengatur batas waktu harian dalam menggunakan media sosial. Misalnya, ketika kita sedang menggunakan akses internet untuk mengerjakan tugas, jangan sampai kita lengah beralih ke aplikasi media sosial lainnya. Kita boleh saja, jika melihat konten media sosial untuk sekadar hiburan saat sudah selesai mengerjakan tugas. Tetapi, jangan sampai kita berlarut-larut dalam menonton hiburan yang hanya sesaat itu di media sosial. Karena, efek sampingnya bisa menyebabkan burnout, dan juga kecanduan terhadap media sosial.
Kelima, ikuti akun positif dan inspiratif. Hal ini bisa dilakukan dengan mengikuti saluran dan akun media sosial yang bermanfaat. Tentunya, ini dapat membantu kita dalam mengembangkan ide positif, dan mengasah kemampuan remaja agar lebih kreatif lagi terhadap bakat yang dimiliki.
Keenam, latih kesadaran diri (self-awareness). Hal ini bisa dilakukan dengan sering meluangkan waktu untuk diri sendiri, misalnya dengan melakukan hal-hal yang kita sukai, seperti menulis segala aktivitas yang sudah kita lakukan hari ini, bercerita dengan diri sendiri, dan menulis pencapaian yang sudah kita lakukan hari ini. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan rasa kesadaran diri kita dan mengingat tujuan dan nilai hidup kita sesungguhnya. Sehingga, kita tidak mudah dikendalikan oleh algoritma media sosial.
Pada intinya, kita harus bisa menjadi pribadi yang dapat mengendalikan diri kita sendiri, jangan sampai kita dikendalikan oleh algoritma. Tetapi, jadilah remaja yang tangguh serta dapat menjadi pemimpin atas diri kita sendiri dari segala hal di dunia ini.
Baca Juga: Teknologi Melesat, Ruang untuk yang Unik Menyempit
Editor: Aqlia Matslina Fattah

