Lost in Peace /2/

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator : Lelya Hilda Amira Ritonga
- Advertisement - jd

Penulis: Mulia Wilandra Harahap

Siang sebelum masuk waktu zuhur, aku sampai di tambang itu. Tambang batubara yang katanya telah menelan banyak nyawa pekerjanya, padahal belum sampai 10 tahun beroperasi tapi sudah seperti kerja rodi.

“Ah kerja rodi, masa iya jaman sekarang masih ada penindasan yang segitunya,” batinku bertanya.

Tambang ini cukup unik, entah unik atau aneh jika dilihat secara geografis lingkungannya. Karena tambang ini benar-benar tertutup, tak selazimnya lokasi tambang lain yang masih bisa dilihat aktifitas pekerjanya dari luar. Pagar beton setinggi 30 meter mengelilingi tambang seluas 800 hektar ini, di depan gerbang masuknya terdapat menara penjaga.

“Sudah seperti Rutan saja, bagaimana orang-orang ini mampu mendirikan tambang seperti ini?” aku terus penasaran.

Baca juga: Tolak Valentine Day, Muslimah Qonitaa Adakan Talkshow

Belum ada satupun para mahasiswa yang hendak berdemo itu, memang aku sengaja datang lebih awal untuk mencari informasi terkait tambang ini, karena bisa saja terjadi kericuhan dan aku belum sempat melengkapi dataku terkait tambang bermasalah ini. Aku terus berkeliling, mencari jalan untuk masuk tanpa diketahui. Tapi tembok tinggi ini sepertinya sudah dipersiapkan untuk menghalau orang-orang nakal sepertiku yang masuk tanpa izin.

“Aaaarrgghh, Allahu Akbar” sebuah teriakan mengagetkanku. Aku berlari mencari sumber suara, terdengar seperti dari dalam. “Allah!! Angkat cepat angkatt” teriakan berubah menjadi kegaduhan. Tak lama terdengar suara sebuah mesin berhenti, suasana di dalam semakin ramai. “Biarkan!! Ku bilang biarkan bangs*t! kembali bekerja atau kalian ingin merasakan peluruku” kepanikan di dalam mulai hilang perlahan.

Aku masih diam terbodoh, antara ketakutan dan penasaran tentang apa yang terjadi di dalam barusan. Tiba-tiba kudengar suara gerombolan orang datang mendekati tambang, ternyata para mahasiswa itu sudah sampai. Jumlah mereka sangat banyak, sepertinya mendekati 1000 massa. Pantas saja ramai, ternyata mereka beraliansi antar universitas di kotaku.

Baca juga: Lost in Peace

Mobil komando meringsek masuk di paling depan, satu persatu perwakilan universitas mulai berorasi. Anehnya tidak ada perwakilan tambang yang keluar untuk menemui massa, bahkan pihak keamanan sekalipun, hanya terlihat satu orang security yang sempat mengintip melalui menara di gerbang utama. Dua jam berorasi, massa mulai kesal sebab tidak ada yang merespon mereka. Aku duduk sambil terus memantau dari pinggir kerumunan, terlihat sekelompok mahasiswa tengah mempersiapkan sesuatu di belakang. Tiba-tiba seorang dari mereka berlari ke depan sambil memegang sebuah benda, aku terus memperhatikan. Molotov! Aku bangkit dari tempatku saat menyadari pria tersebut membawa Molotov, pria tersebut melemparkan Molotov ke dalam tambang. Duarr! Sebuah ledakan kecil terdengar dari dalam, massa mulai riuh. Beberapa mahasiswa lainnya ikut melempari tambang dengan Molotov, batu dan berbagai benda yang bisa dilempar.

“Keluar atau kami hancurkan tempat ini!!” teriak massa.

“Woyy Kapitalis anj*ng!!” orasi berubah menjadi makian.

Suasana makin tak kondusif, massa bersiap untuk mendobrak gerbang. Gerbang sedikit terbuka, tiga orang petugas keluar membawa air shoft gun, massa malah makin beringas. Sebelum ketiga petugas tersebut menarik pelatuknya massa sudah lebih dulu mengkroyok mereka, sebagian dari kelompok massa memisahkan diri dan berlari masuk ke dalam tambang. Aku mendekati massa yang tengah mengeroyok ketiga petugas tersebut, ketiganya sekarat ditelanjangi, hidung dan pelipis mereka pecah dengan telinga yang tak berhenti mengeluarkan darah. Senjata mereka dilucuti massa, sekarang seluruh massa masuk ke areal tambang, terdengar beberapa suara tembakan. Massa yang memegang senjata ikut terlibat dalam baku tembak, sementara yang lain menghancurkan eskavator dan kendaraan berat lainnya.

“Ke gedung ituu, disana mereka!” teriak salah satu massa sambil menunjuk ke arah gedung.

“Itu kantornya!!” massa berlaraian ke arah gedung tersebut.

“Jangan woyy mereka cuma pekerja” aku berlari mendekati beberapa orang yang sepertinya pekerja, mereka menjadi amukan massa yang salah sasaran.

“Ayo pak ikuti saya” aku coba mengevakuasi mereka ke tempat yang lebih aman.

Baca juga: Jadwal Pembayaran UKT Diperpanjang

Aku membawa mereka ke sebuah gudang kosong, ternyata di dalam sudah banyak para pekerja yang berkumpul. Mereka ketakutan dan mengira merekalah yang menjadi sasaran, “Tenang pak, kami justru mau menyelamatkan kalian” aku coba menenangkan. Di dalam gudang itu ada lebih dari 100 orang pekerja yang sudah berkumpul, masing-masing terlihat ketakutan dan masing-masing juga berusaha menenangkan. Sementara di pojok belakang terlihat beberapa pekerja kepanikan, ada apa batinku.

“Mas mas, tolong teman saya mas!”

Terdiam, aku terperangah ketika melihat seorang pemuda tergeletak dengan lubang di bahu sebelah kanannya. “Mas tolongin mas, teman saya ditembak”. Permohonan itu terdengar seperti aduan kepasrahan, kutatapi wajah mereka yang gusar itu. Menetes, mataku mengeluarkan apa yang batinku rasakan saat melihat wajah-wajah yang ditindas itu.

 

Kita terlalu sering menikmati keberagaman

Hingga lupa bahwa,

Orang-orang munafik juga bagian dari keberagaman

Mereka yang tak beriman juga aset keberagaman

Bahkan kapitalis-kapitalis itu juga menjadi bagian.-

 

Penting, toleransi

Apapun itu, toleransi

Katanya menyuarakan hak

Padahal biar dapat “Hak-nya”

Ternyata, tikus di negeri ini sudah pandai memakai dasi,

 

***

Editor: Khairatun Hisan

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles