Maha Vihara Maitreya, Bukti Antusiasme Dan Toleransi Beragama

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Irham Aliyafi Siahaan
- Advertisement - jd

Bagi orang Tionghoa perayaan tahun baru Imlek diartikan sebagai malam pergantian tahun. Imlek yang ditandai dengan lampion, barongsai, olahan makanan tradisional seperti kue keranjang hingga tradisi bagi-bagi angpao yang selalu dinantikan. Setiap tahun, Maha Vihara Maitreya Cemara Asri, Medan membuat perayaan yang berlangsung meriah serta antusias pengunjung dari berbagai kalangan dan agama.

Perayaan tahun baru Imlek tahun ini identik dengan Shio Tikus Logam. Memberikan makna tersendiri untuk kepercayaan warga Tionghoa. Vihara yang terletak di Komplek Perumahan Cemara Asri No. 8, Jl. Cemara Asri Boulevard Raya. Akses menuju Vihara masih dapat diakses dengan angkutan umum. Namun, bagi pengunjung yang ingin menggunakan jasa angkutan umum harus bersabar, karena jumlahnya yang sedikit serta memakan waktu cukup lama. Ketika masuk ke dalam area komplek, kita akan dilihatkan perumahan-perumahan yang bergaya modern, dilengkapi dengan alat-alat sembahyang.

Baca juga: Langsungkan Mukel, LPM Dinamika Lahirkan Pemimpin Baru

Jalan sepanjang komplek yang cukup tenang, menambah kesan khusyuknya umat Tionghoa dalam beribadah. Sesampai di Maha Vihara Maitreya, mata kita akan melihat ratusan lampion warna warni yang menggantung memenuhi pelataran Vihara. Pelataran yang bersih dan dikelilingi patung-patung bersimbolkan macam-macam Shio. Tak kalah indah, bangunan Maha Vihara Maitreya ini berdiri kokoh. Terpahat pula bentuk ukiran-ukiran khas bangunan Tionghoa yang menambah daya tarik klasik saat diperhatikan. Semakin berjalan waktu, pengunjung yang datang silih berganti. Banyak anak-anak kecil Tionghoa befoto ceria, rambut-rambut mereka dibuat unik dan lucu-lucu. Pasangan kekasih dari kalangan usia yang setia berjalan berdampingan. Hubungan orang tua dan anak yang terlihat harmonis, sangat hangat ketika dibicarakan dalam hati.

Semangat orang-orang yang datang terlihat dari cara berjalan mereka, pembicaraan yang menimbulkan gelak tawa, sudut-sudut tempat yang tak pernah absen dengan pemburu foto dan selfie. Ditilik, banyak orang yang berdatangan dengan memiliki tujuan berbeda-beda.  Hal ini diakui salah satu pengunjung, “Sebenarnya untuk hiburan saja. Dan kalau untuk kita-kita yang bukan orang Tionghoa, datang kesini untuk foto-foto, mau lihat perayaannya bagaimana, kemudian acara disini apa saja,” kata Lianti.

Baca juga: Juarakan Kampus, Rektor Resmikan Hotel Syariah

Dekorasinya sangat color full dan cocok dijadikan latar belakang foto. Untuk dekorasi sendiri setiap tahun berganti, tapi tidak menghilangkan kesan kemeriahannya. “Setiap tahun ya berbeda-beda. Mungkin disesuaikan juga sama tema Shionya,” tambahnya. Cyndy, Pengunjung yang berstatus mahasiswi mengatakan bahwa dekorasi yang ada tidak sesuai pikirannya. Ia beranggapan bahwa warna lampion yang akan disuguhkan identik dengan merah, hal itu berbanding terbalik dengan kenyataan beraneka ragam warna. Lampion yang banyak, membuat kita bingung bila menghitung dengan jari tangan, “Mungkin ada sekitar 3.800 lampion,” katanya.

Di tengah hari, angin yang lumayan kencang menyelimuti pelataran Maha Vihara Maitreya. Lampion-lampion bergoyang-goyang, kemudian menimbulkan bunyi-bunyi yang berasal dari ukiran tulisan-tulisan yang dikaitkan pada lampion. Mereka yang duduk-duduk sambil makan, minum, mengobrol melengkapi kehangatan suasana Imlek tahun ini. Bukan hanya warga Tionghoa saja yang datang untuk sembahyang, mereka yang berbeda agama terlihat mengisi sudut-sudut Maha Vihara Maitreya. “Ya oke saja sih kalau untuk datang dan masuk kesana. Kalau tidak dikasih ya nanti bagaimana. Tapi sih kalau ada orang yang lagi sembahyang jagan lalu lalang didepannya. Saling menjaga saja,” tutur Winda warga Tionghoa setelah selesai sembahyang.

Baca juga: Perayaan Imlek 2020 Maha Vihara Maitreya Meriah

Tidak lengkap rasanya jikalau rasa nyaman dan damai tidak bersanding dengan kata aman. Salah seorang petugas keamanan terlihat siap dan sigap. “Untuk ketertiban belum bisa dikatakan tertib. Orang-orang yang datang sering kali lalu lalang didepan orang sembahyang. Nanti jikalau sudah ditertibkan satu, yang lain melanggar juga tetap dijaga saja. Mungkin juga karena kurang tempat duduk, jadinya kurang tertib, ” jelas Ramli Napitupulu. Pada puncak acara yang disebut Cap Go Meh, keamanan akan ditambah lagi. “Pasti. Pada puncak malam Cap Go Meh kami akan menambah keamanan,”tambahnya.

Walaupun kami tidak menyaksikan cantiknya cahaya-cahaya lampion pada malam hari, itu tidak mempengaruhi kesan senang yang kami rasakan. Apalagi, melihat setiap umat beragama yang hidup berdampingan tanpa ada pertengkarang, menyinggung dan mengotori kesucian ajaran agama. Antusias dan fenomena toleransi yang telah dianut sejak lama, melengkapi ruang-ruang suka cita dan senyum yang mencerminkan kedamaian.

Reporter : Lisa Maulida dan Putri Oktavia

Editor      : Khairatun Hisan

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles