Mahasiswa Baru dan Tantangan Literasi

- Advertisement - Pfrasa_F
Penulis: Redaktur Bahasa LPM Dinamika UIN SU
- Advertisement - jd

Oleh: Iin Prasetyo

“Aduh! Banyak banget tugasku. Oh deadline! Where is my weekend?” Barangkali celetukan seperti itu bisa jadi kesan-kesan awal saat kita sudah menyandang emage mahasiswa baru (maba). Bagi yang tidak terbiasa dengan deadline, mungkin bisa terkejut-terheran-heran, hehe….

Sebentar lagi ribuan maba memadati setiap ruas jalan kampus, nih. Bahkan bisa buat jalanan macet. Kalau tidak pergi dari rumah atau kos lebih awal bisa-bisa berakibat fatal karena terlambat mengikuti ospek. Apalagi lokasi kampus berada di kota metropolitan seperti Medan, biasanya saat Senin pagi situasi lalu lintas antara jam 7.30-8.00 jalanan akan terlihat padat.

Hai, maba! Sudahkah kamu berbekal untuk menginjakkan langkah di kampusmu? Dunia sekolah dengan dunia kampus tentu berbeda. Di kampus seorang mahasiswa harus memperbarui sikap dan perilakunya yang tidak baik saat di sekolah. Misalnya, kita masih bergantung banyak hal dengan orang tua dan masih cengeng, kurang berdisiplin mengatur waktu, tugas sekolah kurang rapi, banyak jajan dan kongko-kongko, dan lainnya.

Sikap-sikap buruk saat di sekolah harus dihilangkan. Memang, tak semudah membalikkan telapak tangan untuk mengubahnya. Belajar dan perlahan mau berubah ke arah yang lebih baik maka kita akan semakin sadar bahwa menjadi mahasiswa itu sangat berat. Berjuanglah!

Ada salah satu hal yang mungkin bagi sebagian maba akan menjadi tantangan besar dalam menjalani perkuliahannya. Apa itu? Literasi. Ya, tidak hanya bagi maba, literasi sampai saat ini masih menjadi problematika bagi kalangan terpelajar seperti mahasiswa. Minat membaca, menulis, dan meneliti masih menjadi penampakan yang tidak mengenakkan bagi dunia keilmuan Indonesia.

Tingkat literasi di Indonesia begitu rendah. Setidaknya, ada dua hasil penelitian seperti Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) pada 2015 dan peringkat literasi bertajuk World’s Most Literate Nations yang diumumkan pada Maret 2016 dari Central Connecticut State University (CCSU).

Dari penelitian PISA, dengan klasifikasi keterbacaan, sains, dan matematika, Indonesia berada di peringkat 60 dari 70 negara. Tak jauh berbeda dari survei CCSU yang membuat pemeringkatan perilaku literasi atas lima indikator kesehatan literasi negara, yakni perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer. Dari 61 negara yang disurvei, Indonesia berada di peringkat akhir setelah Bostwana.

Duh! Ini csmbukan buat kita sebagai kalangan cendekia. Maba, sebelum kamu memulai pelajaran maka kamu harus tahu kedua hasil penelitian tersebut. Sebagai agen perubahan, jika kita benar-benar meresapi tanggung jawab moral tentu kita harus bertekad untuk mengubah negeri ini ke arah yang semakin baik. Sekecil-kecilnya perubahan itu adalah pola pikir kita yang semakin terbentuk untuk banyak membaca bacaan yang berkualitas.

Membaca itu wajib, bukan hobi. Kalau membaca itu kita mindset-kan sebagai hobi maka kita akan sesuka hati melakukannya, jika hati tidak suka otomatis kita tidak melakukannya. Begitu juga dengan menulis bahkan meneliti.

Di kampus yang sudah menerapakan kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) tentu membaca, menulis, dan meneliti sudah menjadi “makanan sehari-hari” mahasiswanya. Maka, siapkan mental untuk itu. Karena lelah dan bosan akan terus mengusik.

Jagalah hati! Semua berawal dari hati. Jika hati senang maka kita akan menjalani keseharian dengan baik, kesehatan pun terjaga. Jangan pikirkan hal-hal yang mengganggu proses perjalanan akademik kita, seperti mengikuti gaya hidup teman yang tidak sesuai dengan kita, sehat-sehatlah dalam pergaulan dengan berteman dengan orang-orang baik. Berorganisasi sesuai minat-bakat bisa menjadi solusi untuk mengasah diri.

Ingat! Membaca itu wajib. Dari banyak membaca kita bisa percaya diri untuk tampil saat presentasi. Kalau ada rezeki lebih belilah buku, minimal sebulan ada satu buku baru selain buku-buku kebutuhan perkuliahan yang kita beli. Dan, pandai-pandailah mencari uang halal Sudah menjadi mahasiswa jangan malu untuk berwirausaha. Kita juga bisa menulis di media cetak yang berhonor, apakah itu artikel, esai, opini, cerpen, dan puisi. Semoga sukses, ya!

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles