Masih Perlukah Guru pada Masa yang Akan Datang?

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi Guru. (Foto/Ilustrasi/Pixabay)
- Advertisement - jd

Penulis: Diana Aliya

Disrupsi digital menjadi dampak dari perubahan industri yang telah memasuki perubahan industri keempat. Sejak industri 4.0 merambah ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia, juga terkena dampak perubahan tersebut. Di awal tahun 2011, industri 4.0 sudah merambah ke Indonesia dan menjadi perbincangan publik hingga sekarang. Distrupsi digital sangat mempengaruhi berbagai sektor, tak terkecuali dalam dunia pendidikan.

Dunia pendidikan tak bisa luput dari perkembangan industri 4.0 yang berdampak pada digitalisasi. Beriringan dengan jalannya kehidupan di awal tahun 1970, benda-benda elektronik yang serba canggih sudah ada sejak masuknya industri 3.0. Ditambah lagi dengan kedatangan industri 4.0 yang menjadikan kehidupan serba digital. Tak ayal digitalisasi mempermudah semua pekerjaan. Semuanya terasa mudah dan cepat. Siswa tak sulit lagi bertanya tentang hal yang tidak diketahuinya. Tidak repot-repot mencari guru untuk menanyakan sesuatu, sudah ada ‘Mbah Google yang bisa dengan mudah dan cepat ditanya-tanyai. Lantas, akankah posisi guru tidak dibutuhkan lagi seiring distrupsi digital?

Kecanggihan peralatan eletronik di era disrupsi digital ini diakui kalah saing dengan guru dalam hal hitungan, hafalan hingga ke pencarian sumber informasi. Uniknya, mesin yang notabene buatan manusia bisa bekerja lebih cerdas, efektif, dan professional dibandingkan manusia itu sendiri. Bisa saja kecanggihan mesin pintar dapat menggantikan posisi guru beberapa tahun mendatang. Guru yang cenderung emosional, merasakan lelah dan bosan dapat dikalahkan dengan kekuatan mesin yang bekerja dua kali lebih professional dibandingkan guru.

Bahkan di kehidupan sehari-hari, mesin-mesin canggih mendampingi hidup kita layaknya sahabat. Mungkin kita asing dengan AI yang merupakan singkatan dari Art Intelligence, yaitu mesin kecerdasan yang dirancang untuk membantu keseharian manusia. Menurut BBC, sederhananya AI merupakan “mesin” yang mampu melakukan berbagai hal yang dipandang membutuhkan kecerdasan ketika manusia melakukannya, seperti memahami bahasa manusia secara natural, mengenali wajah dalam foto, mengemudikan kendaraan, atau menerka buku apa yang kita mungkin sukai berdasarkan buku-buku yang telah kita baca sebelumnya.

AI yang sangat mudah kita jumpai adalah Google Assistant yang dapat ditemui pada smartphone Pixel, atau Siri pada ekosistem perangkat keras Apple, dan Cortana pada sistem operasi Windows mungkin bisa merepresentasikan hal itu. Dan jika lebih jeli lagi, AI yang lebih sederhana sesungguhnya dapat kita temukan pada kalkulator, atau ketika memproses sejumlah data menggunakan Microsoft Excel.

Saat ini, dengan segala keterbatasan teknologi manusia, AI hanya baru bisa berkembang pada tahapan pengolahan data, termasuk Big Data, untuk kemudian melakukan tugas tertentu seperti yang dilakukan oleh Siri, Cortana, dan Google Assistant. AI model ini disebut dengan narrow AI atau weak AI, yakni AI yang hanya dapat melakukan tugas-tugas yang terbatas.

Namun demikian, teknologi ini tidak berhenti di sini. Ilmuwan tersebut berupaya untuk mengembangkan AI hingga ke sebuah model yang disebut dengan general AI (AGI atau strong AI). Sebuah model di mana AI dapat belajar dan beradaptasi untuk kemudian melakukan hampir setiap tantangan ataupun tugas yang membutuhkan kecerdasan manusia.

Centre For Study of Existential Risk University of Cambridge menuliskan dalam laman resminya, meski saat ini general AI belum mampu diciptakan, banyak peneliti memprediksi AI dengan tingkat kecerdasan manusia itu mampu terwujud di masa depan yang tidak terlalu fana. Mereka memprediksi hal itu akan terwujud dalam tempo 300 tahun hingga dalam tempo 15 tahun, dengan sebagian besar prediksi tersebut jatuh pada tempo 70 tahun. (Tirto.id)

Mungkin di Indonesia belum ditemukan AI yang bertugas seintens ini dalam dunia pendidikan. Namun, di Amerika Serikat sudah diterapkan AI yang terlibat dalam proses online learning. Seperti yang dikutip dari laman Beyonder.asia, di tahun 2017 Amerika Serikat sudah menggunakan AI untuk penilaian ujian yang mirip dengan UN di Indonesia, yaitu SAT dan GRE. Penerapan fungsi NLP atau pemrosesan bahasa natural juga sudah diterapkan di Georgia Tech University untuk membantu dosen menjawab pertanyaan dari Mahasiswa.

Banyak keuntungan yang didapat siswa jika dalam dunia pendidikan menggunakan AI. Salah satunya, memiliki kemampuan untuk mengajar siswa secara individu dan mengenali area yang dibutuhkan untuk menemukan cara pengajaran yang tepat pada siswa melalui kecerdasan buatan tersebut. Misalnya, jika teknologi ini tahu siswa tertarik dengan mobil balap, maka itu yang digunakan sebagai analogi untuk memahami materi pelajaran. (www.pendidikan.id) Jadi, sudah siapkah manusia diajar oleh robot?

Guru Tetap Dibutuhkan

Seperti data yang terdapat di laman katadata.co.id, Kishore Mahbubani, Profesor Bidang Kebijakan Publik yang baru melepas jabatan Dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy di National University of Singapore awal November 2017 mengidentifikasi dua tantangan pendidikan saat ini, yaitu berita hoaks dan AI. Menurutnya, perkembangan AI yang sangat tinggi dapat memberi dampak negatif pada masyarakat. Sebab, AI dapat melakukan apa yang biasa dilakukan oleh manusia.

Hal ini yang harus kita khawatirkan bersama karena, masyarakat bisa kehilangan pekerjaannya akibat diganti oleh teknologi. Jadi saat ini kita harus berpikir keras mengenai apa yang bisa dilakukan manusia dan apa saja yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. Ini hal yang sangat penting, mencari tahu apa yang tidak bisa dilakukan oleh mesin. Kondisi ini tentunya juga menjadi tantangan bagi dunia pendidikan. Bagaimana membuat sistem pendidikan yang bisa beradaptasi dengan perkembangan AI tersebut dan apa saja yang harus diubah.

Namun, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen DTK), Supriano tetap optimis dengan urgensi posisi guru di dunia pendidikan. Beliau mengatakan meskipun teknologi informasi berkembang demikian cepat dan sumber-sumber belajar begitu mudah diperoleh, peran guru sebagai pendidik tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi tersebut. “Tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi setiap peserta didik. Oleh sebab itu, profesi guru sangat lekat dengan integritas dan kepribadian,” Jelasnya dalam kata sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2018.

Bisa dikatakan guru tidak mungkin mampu bersaing dengan kecanggihan teknologi buatan manusia yang bisa bekerja dua kali lebih professional dibandingkan guru. Namun, ada hal besar yang kita tidak boleh abaikan. Peran guru bukan hanya sebagai penyampai materi pelajaran atau pemberi nilai pada ujian tapi, seorang pendidik yang dibutuhkan untuk mengajarkan nilai-nilai budaya, etika, norma-norma kebijaksanaan, pengalaman, hingga melatih empati. Hal-hal ini  tidak dapat diajarkan oleh mesin apapun.

Membludaknya mesin-mesin canggih tidak bisa disalahkan adanya. Arus globalisasi mau tidak mau harus kita rasakan juga dampaknya dalam keseharian kita. Hanya saja kecanggihan mesin di era disrupsi digital ini harus dimanfaatkan dengan sangat baik oleh guru agar mempermudah proses belajar mengajar di kelas maupun di luar kelas. Justru dengan digitalisasi, dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Mewabahnya virus Corona (Covid-19) saat ini yang mengharuskan seluruh masyarakat dunia, khususnya Indonesia menjaga jarak dan tetap berada di rumah menjadi bukti bahwa digitalisasi di dunia pendidikan itu sangat penting. Sebab, di era distrupsi digital ini semuanya bisa diakses dari rumah. Jadi, kebijakan Work From Home (WFH) dari pemerintah tidak sulit dijalankan untuk dunia pendidikan, seperti guru yang menyampaikan materi pelajaran dan murid yang menerima materi pelajaran bisa diakses dengan mudah di rumah via daring. Yang menjadi PR besar adalah upaya guru dalam mengemas kelas daring lebih efektif dan efisien yang harus ditingkatkan.

Editor: Nurul Liza Nasution

- Advertisement - DOP

Share article

Latest articles