Memantik Gelora Sejarah Islam (Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujadid)

- Advertisement - Pfrasa_F
Ket: Buku “Api Tauhid” karya Habiburrahman El-Shirazy. (Sumber: bukurepublika.id)
- Advertisement - jd

 

Judul buku                                   : Api Tauhid

Penulis atau pengarang                : Habiburrahman El Shirazy

Nama penerbit                            : Republika Penerbit

Cetakan dan tahun terbit             : Keenam, 2015

Tebal buku dan jumlah halaman   : xxxv + 588

ISBN                                           : 9786028997959

 

Apa yang terlintas di benak kalian jika mendengar kata-kata Sejarah? Pasti yang kalian pikirkan sejarah itu kuno,  membosankan, dan kurang mengasyikkan. Tapi, nggak semua sejarah seperti itu. Dalam novel Api Tauhid ini, sejarah disajikan dengan indah dan yang pasti nggak bikin kantuk kalian merajelela.

Novel Api Tauhid memuat sejarah Islam di Turki, kehadirannya sangat pas dengan perkembangan dunia Islam yang saat ini dihadapkan pada persoalan radikalisme dan kaburnya orientasi peradaban. Novel ini seperti menghidupkan kembali peristiwa di balik tokoh berpengaruh dan penuh keajaiban, Sang Mujaddid Badiuzzaman Said Nursi. Novel Api Tauhid mengangkat kisah sejarah Badiuzzaman Said Nursi yang dihidangkan melalui perjalanan wisata rohani enam pemuda. Tokoh utamanya ialah Fahmi, seorang Mahasiswa Universitas Madinah yang berasal dari Lumajang, Jawa Timur. Juga teman-teman yang lainnya yaitu Ali, Subkhi, dan Hamzah yang belajar di universitas yang sama.

Dalam perjalanannya, Fahmi mengalami situasi yang amat pelik pada urusan rumah tangganya. Awalnya, dia dipaksa untuk menikah secara siri dengan gadis yang bernama Nuzula, seorang putri dari Kyai Arselan, gurunya yang tinggal di Indonesia. Namun setelah 4 bulan pernikahan ia dipaksa harus menjatuhkan talak kepada istrinya tersebut, tanpa ia pahami dan ketahui apa sebabnya. Padahal pernikahan itu melalui proses yang rumit dan dipenuhi kebimbangan batin setelah menolak lamaran yang lain. Permasalahan tersebut tidak ia ceritakan kepada teman-temannya sedikit pun. Ia melampiaskan kegundahan hatinya dengan cara beriktikaf di masjid dan ingin mengkhatamkan hafalan Alqurannya sampai ke-40 khataman, namun belum mencapai target Fahmi sudah kelelahan hingga jatuh pingsan.

Melihat keadaan Fahmi, Hamzah mengajaknya berlibur ke Turki. Barangkali itu bisa menjadi obat dan membuat Fahmi melupakan masalahnya. Fahmi pun setuju, dia berangkat bersama Subkhi, sedangkan Ali tidak ikut karena ada urusan keluarga di Indonesia.

Setibanya di Turki, mereka menempati vila milik seorang perempuan yang bernama Aysel, yang tidak lain adalah saudara sesusuannya Hamzah. Di Turki mereka (Fahmi, Subkhi, Hamzah, ditambah Bilal, Aysel, dan Emel) melakukan perjalanan wisata religi ke berbagai tempat bersejarah Badiuzzaman Said Nursi sebagai ulama besar dengan kisah perjuangannya menegakkan Islam di Tanah Turki. Said Nursi menjadi tokoh utama dalam perjalanan wisata religi tersebut, dan secara tidak langsung Hamzah menjadi pemandu mereka.

Said Nursi kecil hidup di tengah keluarga yang sangat kental agamanya dan baik didikannya. Said yang sangat cerdas, pada usianya yang masih menginjak umur 15 tahun sudah menghafal 80 kitab. Tidak hanya itu, kecerdasannya juga dibuktikan dengan mampu menghafal Alquran dalam waktu dua hari saja. Kecerdasannya yang luar biasa itu, membuat gurunya Muhammed Emin Effendi memberikan julukan Badiuzzaman kepada beliau yang berarti keajaiban zaman. Keistimewaannya membuat teman-temannya iri, namun Said Nursi pantang menyerah. Beliau berpindah-pindah madrasah yang siap menampungnya dan memberikan ilmu yang lebih kepadanya, karena ia selalu haus akan ilmu.

Banyak ulama yang tidak percaya akan kecerdasan Said Nursi, sehingga banyak ulama turut mengujinya. Namun semua pertanyaan dari ulama tersebut bisa dijawabnya dengan lancar dan benar. Akhirnya para ulama pun mengakui kecerdasan Said Nursi, tidak sedikit pula ulama yang merasa tersaingi karena lebih mengidolakan Said Nursi.

Selain fokus mempelajari ilmu agama, beliau juga sangat keras menentang rezim Mustafa Kemal. Tindakan itu mengakibatkan beliau diasingkan ke beberapa wilayah, dan juga beberapa kali dijebloskan ke penjara. Namun kobaran semangat api tauhidnya tidak akan pernah padam, ia terus mengajarkan ilmu agama kepada para tahanan maupun kepada masyarakat sekitar. Kalimat-kalimat dalam Risalah Nur disalin dengan bantuan murid-muridnya sehingga dihasilkanlah karya yang berjilid-jilid yang dikenal dengan ‘Rasa’ilun Nur’. Penelusuran jejak sejarah Badiuzzaman Said Nursi juga dikombinasikan dengan pasang surutnya kisah cinta Fahmi dengan Nuzula.

Orang-orang yang tak suka dengannya karena merasa tersaingi membuat makar dan mengusir beliau. Bahkan ada yang mengatakannya tidak waras, sehingga beliau dibawa ke rumah sakit jiwa, namun dokter yang memeriksanya malah takjub akan kecerdasan Said Nursi. Banyak juga yang tidak setuju akan kebijakan Said Nursi dalam hal pendidikan, menurutnya pendidikan yang kebarat-baratan akan menjadikan tidak sinkronnya negara karena pendidikan Islam mulai terabaikan. Itu juga menjadi salah satu alasan beliau diasingkan dan dijebloskan ke dalam penjara.

Selama 25 tahun berada di penjara dan pengasingan, Said Nursi bukannya sedih. Beliau malah terus mengobarkan semangat dakwahnya, karena di situlah ia menemukan cahaya abadi ilahi yaitu api tauhid. Melalui pengajian-pengajiannya baik di masjid maupun di pengasingan, murid-muridnya selalu menyebarluaskan ajaran tersebut, dengan cara menuliskan ulang yang diajarkannya dan  memperbanyak risalah dakwah. Murid-muridnya sendiri tidak ingin semangat kobaran api tauhid Said Nursi berakhir begitu saja.

Kebersamaan mereka semakin terasa dan akrab. Berbagai tempat seperti Keyseri, Istanbul, Konya, dan kota lainnya yang juga bersejarah mereka kunjungi. Tak lupa merka juga mengunjungi masjid-masjid, hotel-hotel serta restoran yang menyediakan berbagai macam makanan dan kopi khas Turki. Seiring dengan perjalanan itu, Fahmi sedikit bisa melupakan pikirannya tentang Nuzula. Kisah cinta Fahmi semakin bertambah rumit ketika Aysel menyatakan perasaannya kepadanya. Aysel sebagai wanita modern London berubah total setelah bersama rombongan. Kehidupan Aysel yang bermasalah dengan mantan pacarnya yaitu Carlos—yang mengejarnya sampai ke Turki dan mengikuti jejak rombongan tersebut—membuat perjalanan rombongan sedikit terganggu. Sampai pada akhirnya Aysel tertangkap bersama Fahmi, mereka mengalami penyiksaan yang begitu mengenaskan hingga mereka sekarat dan harus menjalani beberapa operasi di rumah sakit.

Bantuan teman-temannya dalam menyelamatkan Fahmi sangat berarti, mulai dari mencarikan dokter terbaik, pengobatan, sampai operasi mereka usahakan. Kakinya harus di amputasi, namun Fahmi dengan kekeh menolaknya. Sampai Emel pun membujuknya dan menawarkan diri dengan penuh rasa cinta untuk mengurusnya dan dinikahi menjadi istrinya dengan mahar potong kaki kanannya, namun Fahmi tetap menolak.

Kabar duka Fahmi ini sampai pada telinga Ali yang kemudian datang ke Turki bersama rombongan umroh Indonesia beserta Nuzula, Nuzula meminta maaf dan menjelaskan yang sebenarnya terjadi, pada awalnya Fahmi tidak memaafkan kesalahan Nuzula, lalu Nuzula pun kecewa dengan Fahmi dan beranjak pergi meninggalkan Fahmi. Namun sebelum beranjak keluar dari rumah sakit Fahmi memanggil Nuzula, dan akhirnya pun dengan keikhlasan hatinya Fahmi memaafkan Nuzula dan merajut kembali cinta yang pernah pudar. Dengan penuh cinta, Nuzula merawat Fahmi sampai ia sembuh total dari kelumpuhannya. Akhirnya mereka melaksanakan pernikahannya secara resmi di Turki dan berbulan madu ke Van.

Apiknya, penulis dalam menceritakan kisah Dakwah Baiduzaman Said Nursi dalam novel Api Tauhid ini, bisa membawa kita menyelami sejarah peradaban Islam yang sangat mengagumkan, dan tidak membuat bosan para pembaca  dengan bahasa yang sistematis, sehingga pembaca mudah memahami isi dari sejarah kehidupan Badiuzzaman Said Nursi. Selain itu, penulis juga melibatkan tanggapan dari tokoh-tokoh dalam cerita tersebut, seperti kesan dan pertanyaan-pertanyaan yang tokoh lontarkan menjadikan pembaca seperti ikut tenggelam dalam perjalanan wisata rohani dan diskusi mereka.

Keunggulan lain dari novel ini ialah kover yang memuat judul yang masih misteri ini membuat pembaca penasaran, begitu pula dengan lukisan foto dan belakangnya berupa masjid semakin menarik bagi pecinta novel. Namun sedikit disayangkan, pada novel ini terdapat beberapa kata saltik yang bisa menjadi pusat perhatian karena novel ini sudah memiliki gelar Best Seller.

 

Peresensi : Dina Purnama

Editor : Rizki Audina

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles