Mempersiapkan Hari Esok

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Dok. Internet
- Advertisement - jd

Judul Buku : Dear Tomorrow
Penulis        : Maudy Ayunda
Penerbit      : Bentang Belia Publishing House, English
Tahun          : Second Edition, Mei 2018
Halaman     : xviii+173 hlm.
ISBN             : 978-602-430-192-7

I have different ideas of what I want to be: one thing is for sure – I want to be the reason of many smiles. I want to be able to look back and say I have made a difference, that I have brought impactful change in people’s lives.

Waktu akan menjadi senjata makan tuan bila kita tidak benar-benar berkuasa menjadi pengendali bagi diri sendiri. Waktu sama halnya dengan pohon kehidupan. Akar adalah muasal kehidupan, dahan menunjukkan bagaimana kita bertahan saat ini, dan buah adalah bagaimana kita melihat hari esok. Semuanya tidak terlepas dari situasi ketika kita dihadapkan oleh kenyataan hidup dan mimpi.

Being Yourself, Dreams, Love, dan Mindsets merupakan topik yang selalu saja hangat untuk dipercakapkan, baik dalam hal motivasi public speaking maupun bahan bacaan self improvement. Maudy sebagai pencerita soal kehidupannya berhasil membawa situasi catatan (notes) demi catatan untuk “memikirkannya kembali” — mengoreksi diri. Barangkali banyak topik bacaan sama seperti Dear Tomorrow ini tengah menghipnotis pembaca dengan kemasan “sok tahu” tanpa memikirkan kembali seperti apa sebenarnya kegelisahan-kegelisahan yang dialami seseorang. Akan tetapi dalam empat topik tersebut artis multitalenta ini mengemas notes dengan cara bersahaja, tidak menggurui.

“Jadilah diri sendiri” begitu tetuah arif yang entah dari siapa muasalnya. Dalam satu fase kehidupan manusia tentu akan tengah dihadapkan situasi kepercayaan terhadap diri sendiri. Utamanya remaja, proses mencari jati diri bukanlah hal yang mudah. Peduli terhadap diri sendiri kadang lebih diperlukan juga saat kita juga tahu kapan peduli dengan orang lain. “The more you take care of yourself, the more you can take care of others” (hlm. 21). Jiwa, raga, hati dan pikiran pun bagi seorang remaja harus benar-benar berada dalam perjuangan, apakah hasil akhirnya membentuk diri yang sukses atau semakin terperosok dalam arus yang tidak bagus.

Berbicara soal mimpi Maudy menuliskan, “The key to achieving things is to prioritize, and minimize the distractions that may get in the way of achieving the single most important thing we choose to do” (hlm. 47). Dan pada bagian “Notes on Love, Do not be afraid to give, because even if the subject of your love gives less in return, the world will give back so much more” (hlm. 86). Ya, bermimpi mengajarkan kita bagaimana soal memprioritaskan sesuatu pilihan namun soal cinta kita akan dididik oleh rasa khawatir — keikhlasan akan menggantikan banyak hal yang lebih baik dan lebih banyak dari apa yang telah pergi.

Mungkin, saat ini kita tengah dihadapkan oleh pola pikir yang tertutup, memandang sesuatu hal hanya dari satu sisi dan acapkali mengaitkannya dalam satu bentuk politisasi. Penulis dalam Notes on Mindsets-nya, mengemukakan pemikiran yang keliru yakni “Jangan melihat ke belakang”. Padahal, kesalahan masa lalu akan menjadi motivasi terbaik untuk terus berusaha meningkatkan diri dan mendidik kita untuk lebih baik untuk hari esok (dear tomorrow).

Belajarlah dari waktu yang telah berlalu. Waktu bukanlah sampah yang dibuang dan tak digunakan lagi. Hari esok akan sangat lebih berharga jika kita memuliakan hari ini dan banyak memetik pelajaran di hari yang telah berlalu.

Peresensi: Iin Prasetyo

Editor: Cut Syamsidar

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles