Menjemput Ilmu di Negeri Kangguru

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Dok. Internet
- Advertisement - jd

Penulis: Syafrita

Perkenalkan Aku, Si Penyuka Warna Oranye
Inilah aku, Isma Eriyati. Aku biasa dipanggil Isma. Perempuan yang selalu bermimpi memiliki rumah berwarna jingga dan penggemar Boneka Garfield. Aku memiliki moto hidup “There is nothing impossible as long as you make your best effort whole heartedly and keep patiently praying for that”. Artinya “Tidak ada yang mustahil selama kamu melakukan usaha terbaikmu dengan sepenuh hati dan dengan sabar mendoakannya.” Sebagai anak tunggal dari keluarga kelas menengah. Orang tuaku adalah pedagang sembako dan ayahku juga bekerja sebagai Kepala Lingkungan. Tapi itu tak menyurutkan niatku sama sekali.

Semua berawal dari mimpi yang aku ukir sejak tamat S1 dulu. Mimpi yang akhirnya membawa aku ke Negeri Kangguru. Tak menyangka bagaimana Tuhan menakdirkan ini sedemikian indah. Berbekalkan ilmu yang aku dapatkan dari pendidikan yang berhasil aku tamatkan pada tahun 2015 lalu di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UNIMED menjadi modalku memberanikan diri mencoba Beasiswa LPDP (Lembaga pengelola dana pendidikan) dari Pemerintah Indonesia.

Keinginan menjadi dosen

Saking kebeletnya ingin menjadi dosen, aku selalu berpikir bahwa biaya S2 itu mahal, lalu bagaimana caranya aku bisa melanjutkan S2? Aku mulai mencari-cari beasiswa. Bertanya ke kakak kelas, ke dosen yang dulu sangat aku sukai riwayat pendidikannya bahkan sampai googling. Awalnya pilihannya jatuh di Universitas Negeri Malang. Namun, seorang kakak kelas menyahutiku saat diskusi waktu itu dengan perkataannya yang membuka celah pikiranku.

“Mah, kenapa sih gak coba luar negeri aja? kalau bisa di luar negeri, kenapa di dalam negeri? Lagian jurusanmu Bahasa Inggris, pasti akan lebih baik kalau kita kuliahnya di negara yang memang menggunakan bahasa inggris sehari-harinya,” katanya padaku.

Sontak selepas itu aku berpikir untuk mengikuti sarannya. Aku sidang meja hijau pada Juli 2015. Tapi, baru di wisuda pada Oktober 2015. Pada saat itulah aku sudah mendapatkan info tentang Beasiswa LPDP. Usai dinyatakan tamat dari program S1, aku memutar otak untuk memenuhi segala impianku untuk bisa melanjutkan S2. Masalah biaya memang menjadi kendala yang membuatku harus mencari pekerjaan dengan bayaran yang memuaskan.

Perjuangan dan pengorbanan

Rasa tidak enak hati pada orang tua yang akhirnya membawaku mandiri untuk mencari penghasilan sendiri setelah tamat dari S1. Dalam kurun waktu sekitar satu tahun dari aku di wisuda S1 waktu itu, aku menjalani beberapa pekerjaan dengan maksud mengumpulkan uang untuk mengikuti berbagai persiapan program beasiswa itu. Sebenarnya berbagai penawaran datang kepadaku saat itu, apalagi dari sekolah tempatku dulu pernah belajar. Namun, aku menolaknya karena jujur aku mengejar penghasilannya.

Akhirnya aku memilih mendaftarkan diri di sekolah yang lumayan bonafit di sini yaitu di Nanyang Zhi Hui Modern Indonesian School. Aku bekerja sebagai Guru TK yang berangkat mulai pukul 6.00 WIB dan pulang pada pukul 15.00 WIB. Lantas berpikir kenapa memilih TK? Karena aku belum pernah sama sekali mengajar di TK. Jadi ilmu ini akan berguna untuk kedepannya bisa tahu seperti apa rasanya ngajar di TK. Selain itu aku juga memiliki pekerjaan kedua yaitu sebagai supervisor Guru Bahasa Inggris di sebuah kursus Bahasa Inggris yang dimulai dari pukul 16.00–21.00 WIB. Jadi setiap harinya aku bekerja mulai dari jam 06.00–21.00 WIB untuk membantu kondisi finansial keluargaku saat itu yang lumayan berat.

Pada saat itu biaya yang harus aku keluarkan untuk mengikuti Tes IELTS sekitar Rp 2. 800.000 untuk sekali tes. Jadi dengan biaya yang mahal itu, aku tidak mau terbuang sia-sia. Aku melakukan persiapan sekitar 3 sampai 4 bulan lamanya. Tak lupa juga itu semua haruslah dimulakan dengan meminta restu kepada orang tua. Dan ketika mereka bilang “iya”, baru aku mulai persiapan, agar segalanya dipermudah. Sebab aku berprinsip rida Allah adalah rida orang tua.

Persiapan program beasiswa LPDP

Persiapan perlu dibuat sedini mungkin. Selain persiapan secara finansial untuk mengikuti Tes IELTS yang menjadi salah satu persyaratan dari beasiswa LPDP. Sebelum mengikuti tes, aku selalu belajar dimanapun dengan membawa modul yang sengaja aku print di rumah. Bagiku hal itu sangat memudahkan aku sekali terutama saat melakukan tes simulasi nanti. Ternyata tidak cuma itu saja yang aku perlukan untuk mendukung persiapan meraih beasiswa itu. berbekal pengalaman masa menjadi mahasiswa S1 dulu juga memberikanku banyak gambaran tentang mahasiswa aktif dan partisipatif.

Persiapan itu mungkin aku mulai sudah sejak lama, sewaktu berstatus mahasiswa S1 di UNIMED. Dengan menjadi mahasiswa yang aktif dan partisipatif di setiap kegiatan belajar mengajar, mematangkan jiwa kepemimpinan melalui keikutsertaan di berbagai organisasi yang memang sesuai dengan ketertarikan, mengikuti berbagai kompetisi dan mengukirkan segelintir prestasi akademis maupun non akademis, terlibat dalam forum pemuda untuk membangun jaringan dan memiliki wawasan yang luas dengan apa yang terjadi di sekitar serta turun tangan melakukan gebrakan demi kebaikan banyak orang.

Semuanya haruslah seimbang, kita tidak hanya dituntut untuk pintar akademis saja. Namun, non akademis juga harus. Lalu, bagaimana menyeimbangkannya? Menurutku, ikut organisasi adalah salah satu pilihan yang tepat untuk mengembangkan kemampuan interpersonal, membangun komunikasi dengan orang lain, bertemu dengan banyak orang, saling beradaptasi dan berargumentasi untuk mengasah diri sesuai dengan bidang keahlian kita. Itulah sebabnya aku dulu banyak mengikuti beberapa organisasi kampus dan kegiatan volunteer lainnya. Persiapan yang matang itu mutlak, luruskan niat, ikut banyak kegiatan yang memberikan kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu kuliah, gabung organisasi untuk mengasah kecakapan interpersonal, kegiatan sosial juga penting.

Sewaktu persiapan aku masih bingung mau memilih jurusan apa. Setelah berkompromi dengan diri sendiri, aku mendapatkan beberapa gambaran seperti master of teaching, master of education, ada juga master of childhood education. Jadi, pada masing-masing jurusan itu aku cari tahu mengenai outputnya akan seperti apa. Setelah itulah aku baru diskusi dengan dosen-dosen dan juga kakak kelas yang dulu. Aku sempat berpikir, karena awalnya aku ingin menjadi seorang dosen, kenapa aku nggak ngambil jurusan yang linear aja?. Nah, kebetulan aku dulu S1 Pendidikan Bahasa Inggris, jadi aku mau ngambil S2 jurusan Teaching English to Speak Other Languages.

Kenapa aku ngambil di Australia? Sebenarnya ada beberapa pertimbangan antara Inggris dan Australia. Bukan karena negaranya tapi lebih dilihat lagi dari universitasnya. Jadi, aku dapat beberapa list universitas beserta jurusannya lalu aku buat rinciannya. For your information, Di universitas luar negeri kita bisa lihat kira-kira mata kuliah apa yang nantinya bisa kita ambil nanti waktu kuliah, jadi itu bisa kasih kita gambaran kira-kira konsepnya kemana. Jadi dari comparative research, aku akhirnya condong ke University of New South Wales (UNSW). Jadi, bukan tentang negaranya. Namun, terlebih dulu lihat ranking universitasnya itu seperti apa.

Beautiful thing comes to Me

Alhamdulillah, aku ikut mulai Juli 2016 dan dinyatakan diterima di jurusan Master of Education (TESOL) University of New South Wales (UNSW) pada September 2016. Ada perasaan tidak menyangka yang selalu membatin dalam diriku sekaligus sangat bahagia. Bahkan aku gak percaya bisa lulus di sana. It’s so wonderfull to me! Yes alhamdulillah! Jujur sejujur-jujurnya, pencapaianku sampai tahap ini adalah berkat doa dari semua orang yang sudah aku terima. Termasuk doa dari orang tua, teman-teman dan banyak sekali. Alhamdulillah aku dikelilingi oleh orang-orang baik yang penuh rasa syukur. Sampai detik inipun aku masih sangat percaya, doa itu luar biasa.

Kendalaku penyemangatku

Sekali lagi aku tegaskan, aku adalah anak satu-satunya. Aku yang selama lebih dari dua dekade ini selalu tinggal bersama keluarga besarku dengan segala riuh celotehannya, kini harus tinggal di salah satu dari delapan kamar kecil di rumah yang berjarak 500m dari kampus dengan orang-orang yang baruku kenal. Tidak ada lagi mereka yang selalu menyiapkan telinga dan dekapan hangat, menanyaiku apa yang telah kulalui sepanjang hari saat aku di luar rumah, yang ada hanya sapaan dan senyum kecil saat kami tak sengaja berpapasan di lorong-lorong rumah. Sepi dan kosong sekali batinku saat itu. Bahkan rasa pesimis sempat menggerayangi benakku, bahwa aku tak akan mampu bertahan dalam kesendirian ini.

Teringat ujaran seorang teman, “Sudah sampai sana juga Ma. Hadapi, jangan mundur selangkah pun!.” Aku tentu tidak mau membuat bulir airmata yang sudah entah berapa banyak keluar dari mata umi dan abiku sia–sia. Belum lagi untaian doa yang mereka panjatkan siang dan malam untuk anak perempuan mereka yang makannya banyak ini. Beruntungnya aku masih dikaruniai banyak teman baik yang masih memikirkanku walaupun kami dipisahkan samudera yang luas. Seringkali sapaan hangat seperti, “Bagaimana kabarmu di sana?  Baik-baik aja kan?  Sehat-sehat ya Ma!  Jangan diet nanti sakit!,” selalu menjadi penawar rasa sepiku.

Seiring berjalannya waktu,  semua menjadi lebih baik. Terlebih saat aku dipertemukan dengan orang-orang baik yang membuat Sydney terasa seperti rumah yang penuh dengan gelak tawa saudara-saudaraku tentunya di tengah hiruk-pikuk tugas yang segunung. Ya mereka saudaraku, Mereka yang kumaksud adalah keluarga baruku di kepengurusan Keluarga Pelajar Islam Indonesia-Sydney. Setidaknya aku mendefinisikan mereka sebagai keluarga yang berada dalam perjuangan yang sama denganmu, yang mengerti lautan apa yang sedangku arungi,  yang padanya bisa kau ceritakan keluh-kesahmu, yang karnanya lebih berwarna hari–harimu.

Sebulan pertama di kota yang terkenal dengan Opera Housenya adalah masa yang sulit bagiku. Setiap ditelpon oleh orang tua, aku selalu menahan tangis karena tidak ingin membuat orang tua khawatir. Pernah beberapa kali nangis sampai ketiduran. Saat paginya, bantal sudah basah. Di situ aku merasa kesepian. Aku sadar bahwa sudah cukup waktu sebulan aku sia–siakan. Aku terus mengingatkan diriku untuk tidak meratapi rasa sepi dan rindu yang semakin menjadi–jadi. Aku paham betul bahwa aku harus bisa mengontrol perasaanku. Sebagai seorang extrovert kelas kakap, aku tahu bila aku harus memenuhi hasratku untuk berkumpul dan menjalin hubungan dengan orang lain.

Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mencari lebih banyak mahasiswa yang juga berasal dari Indonesia dan mulai berteman. Syukurnya ada banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di universitas yang sama denganku. Aku mulai sering berkumpul setiap kali ada kesempatan, aku juga berusaha untuk bisa ngobrol lebih sering dengan mereka. Ternyata benar, menjalin pertemanan dengan mahasiswa Indonesia lainnya begitu banyak membantuku meredam rasa rinduku akan rumah dan orang–orang terdekatku. Aku beruntung bertemu dengan beberapa orang yang begitu baik hati, yang dengan senang hati menyemangati satu sama lain dan membantu ketika aku dirundung masalah tertentu.

Masih begitu jelas di benakku tentang hari pertamaku mengikuti perkuliahan. Aku begitu terpukul karena Bahasa Inggris yang telah aku pelajari seumur hidupku tidak membantuku untuk memahami yang dikatakan oleh orang–orang di kelas pada saat itu. Mungkin faktor penyebabnya adalah rasa gugupku tentang begitu banyaknya aksen yang tidak biasa aku dengar. Belum lagi tempo mereka saat berbicara, khususnya para mahasiswa lokal. Semua hal tersebut sukses berat membuatku kebingungan. Bahkan aku tidak bisa tertawa atas gurauan dosen dan beberapa teman lain karena aku belum sepenuhnya memahami situasi.

Aku mulai mempertanyakan diri sendiri. “Kalau gini, gimana bisa belajar dan nyelesaikan tugas nantinya, orang ngomong apa juga gak paham,” batinku. Saat kelas usai, aku memberanikan diri untuk menghampiri dosenku yang kebetulan merupakan kepala program studiku. Beliau sama seperti dosen lainnya, baik dan ramah. Setelah mengeluarkan semua unek–unekku kepadanya mengenai apa yang aku alami barusan, aku merasa sangat lega.

Beliau mengatakan. “Saya paham dengan apa yang kamu rasakan saat ini, tapi percayalah, kamu hanya butuh waktu sebelum terbiasa dengan semuanya.” Kata–kata yang terlontar dari mulut beliau saat itu seolah memberikanku semangat berkali-kali lipat. Setidaknya aku merasa, ada orang lain yang memahami keadaanku. Beliau menyadarkanku bahwa untuk membiasakan diri aku pada lingkungan yang baru ini adalah memeluk erat–erat kekhawatiranku untuk terus melatih Bahasa Inggrisku. Semenjak hari itu, aku selalu mengusahakan untuk duduk dengan mahasiswa lokal maupun mahasiswa internasional lainnya, dari pada dengan satu atau dua temanku yang berasal dari Indonesia. Dengan begini, aku tertantang untuk berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, tentu dengan harapanku akan semakin terbiasa.

Aku menyelesaikan pendidikan strata satu di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris yang linear dengan studi magister ini dengan hasil yang terbilang memuaskan. Hal itu membuatku begitu percaya diri untuk bisa melanjutkan pendidikanku di negara yang bahasa resminya adalah Bahasa Inggris. Aku juga telah memenuhi kriteria minimal kemampuan Bahasa Inggris yang dipersyaratkan dari jurusanku, sehingga aku berasumsi bahwa kecakapanku akan cukup untuk mengikuti pelajaran dan menyelesaikan tugas dengan baik. Namun, kenyataan berkata lain. Aku begitu kesusahan untuk mengerjakan tugas esai dua sampai empat ribu kata yang diberikan dosenku. Memang aku akui kemampuan menulisku tidak lebih baik dari kemampuanku berbicara. Tapi aku tidak  pernah membayangkan bahwa tugasnya akan sesulit itu bagiku. Aku tidak begitu bisa merangkai kalimat–kalimat dengan akurat menceritakan ide yang aku miliki. Belum lagi, aturan plagiarisme dan rujukan yang begitu ketat.

Lagi dan lagi, untung saja kampus memfasilitasi bantuan belajar untuk mahasiswanya (salah satu nilai plus terkait perkuliahan di negara maju). Dosen juga telah membagikan panduan penilaian serta instruksi yang runut, hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan esai tepat waktu. Aku sebenarnya cukup yakin bahwa apa yang aku tulis telah memenuhi kriteria yang diminta oleh dosen. Namun, aku harus kecewa untuk kesekian kalinya, karena aku hanya mendapatkan ‘Credit (kisaran nilai 66 – 75)’ untuk tugas kukerjakan. Padahal aku sudah mengerahkan segenap ilmu dan tenaga yang kupunya. Kenyataan ini seakan menamparku, aku tersadar bahwa aku tidaklah secemerlang apa yang aku pikirkan sebelumnya. Kemudian aku memahami bahwa selama ini aku terkungkung oleh paradigmaku sendiri. Aku seharusnya memahami bahwa aku tidak lagi bisa mengacu pada standar penilaian seperti saat kuliah S1 dulu. Jadi kita jangan bandingkan standar kriteria di sini dengan yang ada di sana.

Aktivitasku selain kuliah

Selain itu, aku juga aktif di berbagai kegiatan yang melibatkan lebih banyak penutur Bahasa Inggris di luar kelas. Misalnya dengan terpilih sebagai mentor pada program Click-On Mentoring yang mengharuskanku untuk berinteraksi dengan siswa lokal dan mentor lain dari berbagai negara. Aku juga sempat ditunjuk sebagai perwakilan mahasiswa Internasional pada Language and Teaching Committee di jurusanku yang juga mengharuskan aku untuk berkomunikasi dengan para pemangku jabatan strategis di jurusanku. Awalnya memang tidak mudah. Namun, hal tersebut membuat aku bisa memaksimalkan pengalamanku sebagai mahasiswa internasional. Aku bersyukur bisa berteman dengan lebih banyak orang dan memperluas pengetahuanku terkait hal–hal yang berbeda yang sering kami diskusikan. Selain itu saya juga awalnya jadi volunter dulu di TPA Khairi Umma, itu mengajar Alquran ke anak-anak yang orang tuanya lagi kuliah di Sidney. Jadi, setiap hari sabtu, mereka akan berkumpul di Religious Center. Di semester berikutnya aku diamanahkan jadi Kepala Sekolah di TPA Khairi Umma yang tugasnya adalah menyusun materi, menyampaikan materi di kelas, dan memberikan penilaian harian dan semuanya. Sempat juga menjadi volunter dari UNSW selama satu semester untuk jadi mentor anak kelas IX SMP, untuk anak-anak yang tinggal di daerah pedalaman Sidney yang tugasnya adalah memastikan bahwa anak kelas IX ini nantinya mereka akan tahu apakah mereka harus kuliah atau tidak.

Something Unique Happen

Pada akhirnya semua sudah terselesaikan dengan baik. Aku bisa menyelesaikan program masterku selama dua semester di UNSW. Satu hal yang selalu aku jadikan pelajaran selama di sana adalah kita harus berikan kontribusi juga ke mereka selama proses belajar. Contohnya seperti reading group, di situ kita juga harus berikan kontribusi kita ke mereka karena bagi mereka ketika kita belum baca, mereka bakal merasa tidak adil karena cuma mereka aja yang berkontribusi. Jadi intinya mereka semua open minded selama kita juga mau membuka diri dan mencoba menyapa duluan.

Ada beberapa pengalaman unik yang pernah aku rasakan di sana. Aku berjilbab, jadi mereka sering nanya saat musim panas, “Kamu gak kepanasan Ma, pakai itu?.” Terus aku bilang “Tidak, udah biasa.” Pernah saat di pertengahan jam kuliah itu ada Salat Magrib karena kebetulan aku kuliahnya petang. Saat harus Salat Magrib, aku harus bawa sajadah yang bisa dilipat sama mukena. Dari awal banget aku sudah izin ke dosennya untuk melaksanakan salat berdasarkan kepercayaanku. Nah, kalau di sana mau keluar ya keluar saja, kita tidak harus “Permisi Bu, saya mau ke sini atau ke sana.” Bukan seperti itu, yang penting kita jangan menganggu.

Jadi ada temanku itu sampai nanya, “Kamu ngapain keluar bawa-bawa handuk?.” Mereka mengira kalau sajadah itu handuk. Terus aku jelasin kalau aku ada kewajiban untuk salat lima waktu. Kemudian mereka juga baik kalau misalnya aku tidak keluar, mereka tanyakin. “Loh, kamu jam segini tidak keluar?.” Terus aku jelasi, “Oh ya aku lagi periode (datang bulan). Jadi gak diperbolehkan untuk shalat.” Jadi yang terpenting adalah kita saling kasih pengertian ke mereka dan kebanyakan mereka menerima saja.

Mimpi Selanjutnya

Sempat awalnya ingin jadi dosen. Namun, setelah aku melihat realita yang ada sekarang justru aku malah berpikir bagaimana bisa tetap produktif, bisa mengaplikasi ilmu yang ada namun tetap bisa menjadi ibu rumah tangga. Sedikit cerita, kemarin saat pulang dari Australia pada Desember 2017, kemudian Februari 2018 aku dilamar tapa diduga. Dan insyaallah akan nikah di Desember 2018. Jadi sekarang aku masih freelance seperti translator, prove reading. Saat ini aku belum bisa berkarier di Medan karena sampai Desember nanti insyaallah aku pindah ke Tangerang ikut dengan suami. Keinginanku ke depan sebenarnya adalah ingin buka usaha, ingin berkontribusi untuk masyarakat lebih jauh. Namun, masih ingin menjadi istri yang bisa kerja dari rumah sambil mengurusin rumah tangga dan masih bisa mengaplikasikan ilmu.

Editor: Rindiani

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles