Menjemput Takdir Baik

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi. (foto/ilustrasi/duasajadah)
- Advertisement - jd

Penulis: Diana Aliya

“Sucikanlah Tuhanmu Yang Maha Tinggi, Yang Maha Menciptakan (semua makhluk) dan Menyempurnakannya, dan Yang Memberi takdir kemudian mengarahkannya.”

(Q.S. Al- A’la: 1-3)

Sering sekali kita mendengar celetukan orang, “Nasib badan menderita seperti ini,” keluar dari mulut orang yang sedang dalam kesulitan. Adapula yang berkata, “Alhamdulillah… Rezeki anak sholeh. Ditakdirkan lahir dari keluarga yang baik dan terpandang.” Lalu ada juga yang dengan tegas berujar, “Sukses ada di tanganku sendiri!” Bahkan sering sekali orang-orang berkata begini, “Duh… Siapa ya jodohku? Aku maunya dia aja deh. Tapi dia mau nggak ya sama aku?” Hayo, siapa yang sering begitu?.

Pembahasan takdir selalu menjadi teka-teki dalam kehidupan. Menggelitik sekali, namun tak habis diperbincangkan. Ada sebuah konsep yang menyatakan bahwa takdir adalah suatu hal yang sudah ditetapkan oleh Sang Maha Kuasa. Ada yang ditakdirkan berkehidupan yang serba cukup dan baik kemudian berakhir dengan baik-baik (Husnul Khatimah). Adapula yang kehidupannya penuh dengan kesulitan dan berakhir dengan keadaan buruk (Su’ul Khatimah). Lantas, kenapa kita harus bersusah payah menjalani kehidupan yang takdirnya antara baik dan buruk? Sia-sia juga banyak beramal tapi ujung-ujungnya bakal masuk neraka. Begitupun sebaliknya, Beruntung sekali seseorang yang hidupnya hanya untuk berfoya-foya dan mengerjakan maksiat lalu ia masuk surga?

Nyatanya Syariat Islam tidak seperti itu kawan-kawan. Serius, namun tidak rumit dan bertele-tele. Benar Allah telah menetapkan sesuatu di muka bumi dan alam semesta ini sesuai dengan takdir-Nya. Namun yang perlu kita ingat, kita belum tahu takdir apa yang Allah tetapkan untuk kita. Baikkah atau buruk? Suatu penyataan bahwa takdir manusia Allah yang menetapkan dan manusia yang menjalankan takdir tersebut benar adanya. Jika sudah dilewati, maka manusia akan mengetahui takdir yang ditetapkan Allah untuknya. Manusia punya kesempatan turut andil menentukan takdirnya. Jadi, tugas kita adalah menjemputnya. Pasti kita menginginkan yang terbaik untuk diri ini.

Yuk kita kaji kembali makna takdir menurut akidah Islam!

Takdir berarti ketentuan. Dalam Islam, takdir memiliki dua komponen penting, yaitu qadha dan qadar. Qadha adalah kehendak Allah sebelum kejadian, sedangkan qadar adalah kehendak Allah setelah kejadian. Dalam  kitab Kifayatul Awam karangan Imam Ibrahim Al- Baijuri, qadha terbagi dua, yaitu qadha mubram dan qadha mu’allaq. Qadha mubram artinya kehendak Allah terhadap alam semesta yang selalu patuh mengikuti perintah Allah, seperti jenis kelamin, paras manusia, usia, ajal, dan kiamat. Sedangkan qadha mu’allaq adalah kehendak Allah terhadap manusia dan jin yang dipengaruhi dengan ikhtiar mereka masing-masing, seperti kepandaian, kesehatan, kemakmuran/kekayaan, dan lain sebagainya.  Qadha mu’allaq tetap dalam kendali Allah. Kadar atau batasnya terdapat dalam diri, sifat, atau maksimal makhluk yang telah ditetapkan Allah. Allah Maha Berkehendak, dapat intervensi untuk menentukan hasil akhir ikhtiar manusia, sedangkan manusia diwajibkan untuk menyempurnakan ikhtiarnya.

Baca juga: Sebaik-baiknya Motivator

Dalam Al-Qur’an surah Al- A’la ayat 1-3 Allah berfirman, “Sucikanlah Tuhanmu Yang Maha Tinggi, Yang Maha Menciptakan (semua makhluk) dan Menyempurnakannya, dan Yang Memberi takdir kemudian mengarahkannya.”

Nah, Allah itu sebaik-baik perancang loh! Jadi tidak perlu takut rancangan Allah akan takdir kita tidak baik. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menjemput takdir baik itu. Berikut penulis mencantumkan beberapa cara seorang muslim menjemput takdir baik.

1. Man Jadda Wajada

Tak asing dengan kalimat “Man Jadda Wajada”, kan? Ini adalah pepatah Arab yang artinya “Barang siapa yang bersungguh-sungguh dia akan mendapat.” Ibarat bius, kalimat ini sangat memotivasi siapa yang mendengarnya. Mengapa man jadda wajada? Karena dari kalimat ini kita diberi motivasi untuk bersungguh-sungguh dalam menggapai apa yang kita inginkan. Dalam artian, jika ingin sesuatu ya usaha dulu. Yang paling bayak usaha, maka banyaklah ia dapatkan yang ia inginkan. Seperti pepatah Indonesia, rajin pangkal kaya, malas pangkal bodoh.

Begitu pula dengan takdir Allah kepada manusia. Jika manusia menginginkan takdir baik untuk dirinya, seperti pekerjaan yang layak dan harta yang berlimpah, maka ia harus berusaha semaksimal mungkin untuk medapatkan apa yang ia mau. Kalimat man jadda wajada sama dengan anjuran dalam syariat Islam bagi seluruh muslim agar berikhtiar, yaitu berusaha untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

2. Berdoa

Setelah berikhtiar, langkah selanjutnya yang bisa kita lakukan adalah berdoa. Berdoa kepada Sang Kuasa agar apa yang kita usahakan selama ini dikabulkan oleh-Nya. Doa  adalah senjatanya umat muslim. Umat muslim yang kuat adalah umat muslim yang senantiasa berdoa kepada Allah. Allah sangat senang jika hamba-Nya mau senantiasa berdoa kepada-Nya.

Dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 186 Allah berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Ayat di atas adalah janji Allah untuk menjawab doa-doa hamba-Nya yang mengadu pada-Nya. Allah itu Maha Baik bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal sholeh. Jadi, jangan sungkan untuk berdoa dan mengadu kepada Allah di setiap waktu. Karena berusaha tanpa diiringi doa adalah sombong, namun berdoa saja tanpa dibarengi usaha adalah perbuatan yang sia-sia. Maka dari itu, hendaknya berusaha dibarengi usaha. Hal inilah yang disukai Allah.

Baca juga: Aksi Hari Perempuan Internasional, Suarakan Tolak Kekerasan Seksual

3. Ikuti Rancangan Indah Allah untuk makhluk-Nya

Setelah melakukan ikhtiar dan doa, maka langkah selanjutnya yang harus kita lakukan adalah  tawakal. Tawakal dapat dilakukan dengan mengikuti rancangan indah Allah untuk setiap makhluknya kemudian menerima apa yang dikehendaki Allah untuk kita. Baik ataukah buruk, itulah rancangan terindah yang telah Allah buat untuk kita. Terima saja apa yang ditetapkan Allah untuk kita, tak perlu kecewa jika mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita mau.

Menurut kita baik, belum tentu benar-benar baik disisi-Nya. Begitupun yang menurut kita buruk, bisa jadi itulah yang terbaik di sisi Allah dan terbaik untuk kita. Allah memberikan yang hamba-Nya butuhkan. Bukan yang hamba-Nya inginkan.  Seperti firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 216: “… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Sebenarnya, semua yang terjadi pada hidup kita adalah  hal terbaik yang diberikan Allah untuk kita. Perbanyaklah bersyukur, maka kita akan merasa cukup. Jika kita tidak menerima dan mengeluh, sesuatu yang sekiranya banyak terasa sedikit.  Hal yang sangat pantas kita dapatkan terasa begitu kurang. Maka, sifat syukurlah yang harus ditanam  dan dipupuk di dalam diri ini.

Baca juga: AgroMedia Pustaka Gelar Acara ‘Sumatera Book Fest 2020’

Ada lagi beberapa tips agar optimal dalam menjemput takdir baik dari Ahmad Su’udi, S.Si dalam bukunya yang berjudul “Bersama Allah Meraih Takdir Baik”. Di dalam buku tersebut penulis memberikan 15 tips yang insyaallah mujarab untuk menjemput takdir baik Allah, yaitu niat, takwa, do’a, mendirikan shalat, menikmati puasa di bulan Ramadhan, tobat yang sebenarnya, tanamkan sifat jujur, belajar, bekerja keras, sedekah, selalu berprasangka baik, pandai mengatur waktu, menjaga kesehatan diri dan lingkungan, berbakti kepada orang tua, dan tawakal.

Memang takdir telah Allah tetapkan untuk kita jauh sebelum kita dilahirkan. Jodoh, langkah, pertemuan, dan kematian adalah hal yang pasti. Namun, adapula takdir yang bisa diubah jika kita berikhtiar, berdoa, dan bertawakal. Kita pasti menginginkan takdir yang baik. Tak ada salahnya kita berhusnuzan dengan Allah, lalu berikhtiar menjemputnya dengan cara yang baik pula. Semoga setelah membaca tulisan ini kita menjadi hamba-hamba Allah yang beruntung dalam menjemput takdir. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Editor : Miftahul Zannah

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles