“Merindu Baginda Nabi” Bernarasi Berlian dari Tempat Sampah

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Dok. Internet
- Advertisement - jd

Judul     : Merindu Baginda Nabi

Penulis  : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit : Republika Penerbit

Tebal      : iv + 176 Hlm: 13,5×20,5 cm

Cetakan : I, 2018

Ya Nabi salam ‘alaika ya Rasul salam ‘alaika ya Habib salam ‘alaika shalawatullah ‘alaika. Rindu ini menggebu ya Nabi—rindu yang telah Allah ciptakan, dan kudefinisikan bahwa engkau sallallahu alaihi wasallam ialah setinggi-tingginya asa, yakni menjumpamu ya Nabi. Akankah ya Nabi kudapatimu? sedangku ialah hamba yang dosa. Tuhanku, jangan engkau sirnakan lezatnya rindu ini pada kekasih-Mu dalam kedirianku.

Pernahkah kita mengucapkan “I miss you” kepada Baginda Nabi? Sungguh merugi bila ucapan itu kita tujukan kepada makhluk yang tidak mengasih syafaat kepada kita di Hari Penimbangan nanti, siapa lagi yang menolong kita selain beliau sallallahu alaihi wasallam. Kerinduan itu dapat kita upayakan dengan terus mengingat dan selalu melantunkan selawat atasnya dengan berbagai cara, baik mengikuti kajian atau pun membaca banyak macam pustaka yang membahas tentang kecintaan pada Rasulullah. Salah satunya “Merindu Baginda Nabi”, April lalu telah dipublikasikan oleh penulisnya yang akrab disapa Kang Abik ini kepada pengunjung bedah buku Islamic Book Fair (IBF) di JCC, Jakarta. Buku yang bergenre novel remaja penunjang kepustakaan ini adalah bahan bacaan yang berkualitas untuk pembaca yang ia persembahkan di awal 2018.

Novel karya peraih anugrah Novelis No. 1 Indonesia oleh Insani Undip Semarang ini mengisahkan seorang remaja perempuan, Rifa namanya. Ketika Rifa kecil, ibu kandungnya yang tidak tahu rupa dan namanya melatakkannya ke dalam kardus dan membuangnya ke tempat sampah di pinggir jalan. Mbah Tentrem seorang nenek penjual nasi pecel kala itu pagi buta pergi ke pasar lalu mendengar tangisannya saat hujan lebat hendak turun. Seketika si mbah menyelamatkannya dan membawanya ke rumah imam masjid terdekat. Sontak Rifa kecil jadi rebutan para warga untuk diasuh, namun ia merasa lebih memiliki hak atas asuhan Rifa yang awalnya ia beri nama “Dipah”. Kata si mbah nama itu singkatan dari “ditemu ning sampah” (ditemukan di tempat sampah). Alasan ia memberi nama itu supaya mudah mengingatnya. Lalu sepasang suami-istri yang sudah delapan tahun tak memiliki anak memohon padanya agar rela memberikan Rifa untuk mereka asuh, hatinya pun luluh.

Rifa yang sadar akan asal-usulnya, adalah remaja yang tekun dan tawaduk. Tak heran ia sukses meraih kesempatan pertukaran pelajar ke Amerika. Rifa tinggal bersama keluarga Bill Edwards di kawasan Walnut Blossom, San Jose, yang kebetulan keluarga Bill memiliki putri seusianya bernama Fiona. Ia merasa sangat beruntung karena tinggal bersama mereka yang ramah dan perhatian bahkan keluarga Bill tidak merasa terganggu kalau Rifa selalu mengenakan hijab dan memahami dirinya sebagai seorang muslimah.

Nduk, bertakwalah kepada Allah, di mana saja kamu berada. Dan ingat, jangan sampai kau membuat malu Baginda Nabi! Ingat, jangan sampai kau membuat malu Baginda Nabi!” (hlm. 11). Itulah pesan abahnya (Pak Nur) yang selalu ia ingat.

Kang Abik menuliskan banyak edukasi dalam narasi “Merindu Baginda Nabi” melalui kisah berlian yang didapat seorang nenek di tempat sampah yakni Rifa. Selain belajar agama melalui kitab-kitab seperti Al-Mabadi’ Al-Fiqhiyyah, Al-Futuhat Al-Madaniyyah Syarah Al-Syu’ab Al-Imaniyyah, Al-Minah As Saniyyah, penulis lulusan Al Azhar University Cairo ini membubuhi banyak kearifan lokal Jawa, kisah di luar negeri, edukasi kehidupan pergaulan remaja dan bahaya pornografi yang sangat dibutuhkan remaja Indonesia saat ini, dan yang paling mengesankan ialah bagaimana tokoh utama (Rifa) selalu mengiringi setiap hal yang ia lakukan tidak lepas dari mengingat Allah dan Rasul-Nya.

Ya, jujur saya sangat berterima kasih kepada Arum Saradewi, teman sekaligus rival saya sejak hari pertama masuk SMA kita tercinta ini. Setiap kali saya mengingat Arum, maka saya katakan pada diri saya bahwa Arum sedang belajar, dia ingin merebut rangking satu yang saya pegang. Maka saya harus belajar, tidak boleh malas, nanti saya kalah. Saya bayangkan dia belajar dua jam maka saya harus belajar tiga jam. Maka saya merasa Arum adalah spring partner saya dalam meraih prestasi. Seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, saya melihat mereka bukan musuh bebuyutan, tetapi justru mereka adalah sahabat baik yang selalu memotivasi untuk maju dan meraih rekor baru…” (hlm. 46). Ini sepenggal bagian yang mengharukan ketika Rifa adalah sosok yang tidak mau kalah dalam prestasi dan rivalnya, Arum menanggapinya dengan terbawa perasaan (baper) bahkan memusuhinya dengan menghadapkan berbagai fitnahan namun Rifa manusia berlian dari tempat sampah ini mampu mempersahabati Arum dan sadar bahwa Rifa memang manusia yang luar biasa.

Peresensi: Iin Prasetyo

Editor: Cut Syamsidar

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles