Mimpi dan Keegoan Ayah

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Syifa Zanjabila
- Advertisement - jd

Penulis: Ilham Pratama Siregar

Aku hanya terdiam termangut-mangut melihat mereka menceramahiku satu per satu. Bertanya, menjatuhkan lalu membandingkanku dengan orang lain. Seburuk itukah pilihanku sehingga tak satupun dari kalian yang mendukungku? Akankah aku menjadi terhina akan pilihan ini atau justru menjadi tuah? Kenapa? Kenapa kalian menuntut materi yang akan ku dapat atas pilihan ini? Sungguh tidak adilnya dunia dengan cara kalian berpikir.

***

Siapa yang tidak bahagia ketika pilihan dari berbagai pilihan dalam hidupnya dikabulkan oleh sang Tuhan? Begitu jugalah yang dirasakan oleh Damsi, ketika keinginannya untuk masuk kejurusan Bahasa dan Sastra, di salah satu kampus favorit di provinsinya dikabulkan oleh sang Tuhan. Namun, kebahagiaan itu perlahan luntur atas ketidakridaan ayahnya, ayahnya berharap ia masuk jurusan keguruan agar kelak kehidupan masa depannya terpenuhi secara material dan jauh dari kata susah seperti kehidupan mereka saat ini.

Kemudian, hari-hari ayah hanya dihiasi kemurungan setelah ku kabarkan kelulusanku hari itu, senyumnya yang dahulu telah sirna akan keegoisannya yang kokoh penuh dengan kehendak pribadinya dan cara pandangnya yang kurang terbuka, cahaya kehidupan dalam dirinya perlahan meredup. Lantas ayah menyuruh paman untuk menangani pilihanku itu. “Untuk apa kau mengambil jurusan Bahasa dan Sastra? Apa gunanya? dan dapat pekerjaan dimana itu nanti?,” tanya paman dengan penuh pertentangan. Kujelaskan dengan gambling tanpa harus menyakiti hatinya. Namun, apa yang dikatakan paman bersikukuh dengan pilihan yang dihendaki ayah, mereka sejalan pemikirannya.

Baca juga: Sahabatku Ternyata Bukan Manusia

Jauh panggang dari api itulah lebih tepatnya, ketika benang-benang permasalahan ini semakin kusut dan lebih kusut lagi. Ketika paman mendapatiku di bank kabupaten tengah membayar iuran kuliah semester pertamaku dengan uang tabungan yang selalu kusisihkan dari hasil berjualan di pekan kampung.

“Hai Damsi, apa tak ngerti lagi kau dengan ucapanku kemarin?,” tanya paman dengan penuh amarah.

“Aku ingin kuliah paman dengan jurusan yang aku inginkan.” balasku dengan lantang dan kali ini tiada ragu sedikitpun dalam ucapanku.

Setelah itu paman pergi meninggalkanku dan aku tau kemana ia akan pergi, pasti menjumpai ayah.

“Damsi, hari ini kau tinggalkan rumah ini, dan jangan pernah berdalih tuk kembali lagi kemari, camkan itu!” usir ayah sesampainya aku di rumah dengan penuh amarah tanpa berpikir panjang sedikitpun.

Aku berjalan sempoyongan menaiki anak tangga, menganggap setiap kata-kata ayah itu hanya sebuah mimpi belaka, aku berusaha tuk menyadarkan diriku dari mimpi ini, namun inilah aslinya, ayah telah mengusirku dari rumah kami, hanya karena egonya yang besar.

Baca juga: Lost in Peace /2/

***

Lima tahun telah berlalu, surat-surat rindu telah banyak ku kirim ke ayah tanpa balasan satupun. “Biarlah, mungkin ia tak sempat membalasnya.” sanggah ku dari pikiran-pikiran jahat yang bermunculan.

Sampai hari itu entah mengapa ayah tiba-tiba masuk ke dalam bilikku dahulu, mungkin ia ingin melepas rindu denganku, mencium aroma tubuh yang tersisa dari anak semata wayangnya yang telah diusirnya lima tahun lalu. Dan yang paling terkejutnya ialah ayah menemukan buku diary ku yang tertinggal dan membacanya.

“Pilihanku sesak dengan intervensi, dan setiap orang berusaha menjadi pemberi definisi dan membaca garis tangan seseorang, menafikan Tuhan beserta kebenaran takdirnya. Bukan aku tak memahami niat baik serta tulus ayah untuk kehidupanku ke depannya agar lebih mapan, namun usia telah menuntut ku untuk menjadi sosok yang berani dan bertanggung jawab dalam memilih sebuah pilihan. Dan diriku lah yang paham harus di mana dan kemana kaki ku melangkah, walau tak jarang orang jatuh dalam pilihan langkahnya. Dengan dukungan dan kepercayaan yang ayah berikan, Insya Allah, Allah kan memberi dan menjadikan itu baik pula untukku dan ke depannya. Namun setelah kepergian ibu, dirimu penuh dengan ego kehendak pribadimu ayah, karena ibu tiada dengan pilihannya yang salah menurutmu, tak satu pun yang  kau dengar dan terindahkan bagimu semua hanya pembelaan dan angan-angan tiada arti. Kau telah dikalahkan oleh egomu yang besar, hati dan kupingmu telah tertutup olehnya. Ayah, bukalah sedikit hatimu untuk anak semata wayangmu ini, Damsi.”

Baca juga: Karena Jatuh Cinta

***

“Jadi buku saya ini menceritakan sebuah perjuangan anak kampung yang berusaha tuk kuliah dengan jurusan yang diinginkannya walau ditentang oleh ayah dan…”

Treeeed….. treeeed…” getaran telepon dengan nomor tanpa nama, dan pembicaraan bedah buku itu terhenti seketika.

Sontak betapa terkejutnya aku ketika aku mendengar suara itu, suara yang aku kenal, suara yang selalu menentang pilihanku samar-samar berbicara dari balik telepon itu. “Damsi pulanglah, ayahmu rindu,” kabar paman. Air mataku terus mengalir, tanpa pikir panjang aku langsung berangkat, kembali ke rumah ayah ke kampung halamanku.

Aku terdiam kaku melihat sosok ayah dahulu yang tangguh kini telah terpasung lemas tak berdaya, berbicara dengan asiknya tanpa seseorang pun di sampingnya,  kegembiraannya begitu cepat terganti dengan tangisan dan tawa yang berselang. “Kenapa? Kenapa ayah bisa begini paman?,” tanyaku dengan air mata yang bercucuran. Kupeluk, kucium ayahku yang telah terpasung tak berdaya itu, lamat-lamat ku perhatikan dirinya yang sudah jauh berubah dari lima tahun yang lalu, sembari menunggu jawaban dari paman.

Baca juga: Tsunami di Tubuh

“Hari itu, ayahmu… dia… menemukan diari yang tertinggal di kamarmu, setelah membaca tulisan isi hatimu itu, ia meronta seperti anak kecil, menyesali perbuatannya lima tahun yang lalu, setiap hari ia menangis, menyesali perbuatannya dahulu, sampai ayahmu berubah menjadi seperti ini dan kami pun memasungnya.” jelas paman dengan terpatah-patah.

“Walau sekejam dan seego apa pun seorang ayah, fitrahku sebagai seorang anak tidak pantas untuk membencimu,” maaf ku sembari ku peluk erat ayah dalam tangisan.

Editor : Khairatun Hisan

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles