Peluh dan Teduhnya Seorang Ibu /1/

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi. (foto/ilustrasi/pixabay)
- Advertisement - jd

Penulis: Syafrita

Awan hitam bergelantungan di kaki langit, berusaha menumpahkan tangisannya kepada bumi. Riuh angin mulai terdengar jelas ditelinga. Amirah memanggil ibunya yang sejak tadi merapikan barang dagangannya di atas meja. “Bu, sepertinya sebentar lagi hujan. Apa sebaiknya tidak kita bereskan saja semua dagangan ini?” katanya sambil mengusap dahi yang mulai dikecup oleh rintikan hujan yang jatuh dari langit. Ibunya menggelengkan kepala. Pertanda tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Amirah. ibunya pun berkata, “Tidak usah, Nak. Kita menunggu saja. Mungkin nanti akan ada satu atau dua pembeli yang mampir”.

Melihat kegigihan ibunya, Amirah sering kali merasa menjadi anak yang paling beruntung sedunia sebab, memiliki Ibu yang begitu sabar dan gigih memperjuangkan segalanya, terutama menyekolahkan Amirah. Dua bulan silam, sejak Ayah Amirah lumpuh total disebabkan kecelakaan yang menimpanya saat kerja disalah satu proyek real estate. Hidup keluarga Amirah berubah drastis. Ibunya, yang awalnya hanya sebagai ibu rumah tangga sekarang berbalik menjadi tulang punggung keluarga yang harus menghidupi Ayah, Amirah dan adiknya. Meski harus banting stir menjadi seorang pedagang jajanan pasar, ibunya selalu bertekad bahwa ia harus membahagiakan keluarganya.

Panas dingin terik hujan dan becek sudah menjadi makanan sehari-hari bagi ibunya saat menjajakan barang dagangan di pasar. Apabila cuaca kurang bersahabat, tak jarang dagangan ibunya tidak laris terjual. Ia harus pulang dengan uang seadanya sambil menampilkan senyum terindah kepada keluarganya. Amirah, anak sulungnya selalu mengerti dengan keadaan ibunya.  Dia tidak pernah menuntut apa pun. Dikasih sekolah saja, Amirah sudah sangat bersyukur. Maka dari itu, Amirah selalu berusaha membantu ibunya dengan membuatkan teh hangat saat ibunya pulang dari pasar atau memijit kaki ibunya yang mulai terasa letih. Apa pun akan dilakukan Amirah demi meringankan beban yang ditanggung ibunya.

Baca juga: Kampanyekan #DiRumahAja, Kominfo Ajak Kaum Muda Bikin Game dari Rumah

Selepas langit menumpahkan secara tangisannya kepada bumi, Amirah menatap ibunya lekat-lekat. Seperti ada yang ingin dikatakannya namun, tertahan begitu saja di bibir. Akhirnya ibunya memahami raut wajah Amirah yang sedari tadi menatapnya.

“Kau kenapa, Nak? Ada yang ingin kau katakana pada Ibu”

“Tidak, Bu. Aku tidak apa-apa.”

“Lalu kenapa menatap Ibu sampai sebegitunya?”

“Aku hanya ingin melihat wajah Ibu. Ibu cantik. Ibu wanita paling cantik di dunia yang pernah aku temui. Dan akan selalu seperti itu”

“Ah kau ini bisa saja, Nak. Sudah pandai merayu Ibu,” ucap ibunya sambil mendorong bahu sang anak. Langit usai hujan kala itu ditemani oleh derai tawa dan senyuman khas di wajah ibunya, senyuman yang Amirah sadari telah hilang sejak beberapa bulan yang lalu. Hari ini Amirah menemukan lengkungan senyuman itu begitu lepas dan manis.

***

Ayam berkokok, pertanda pagi menjelang. Amirah membangunkan ibunya yang tertidur pulas di kasur yang sudah terasa tak empuk lagi. Dia menatap ibunya lamat-lamat. Ada sesuatu yang terbersit dalam benaknya, “Apa yang membuat Ibu penuh perjuangan begitu? Mungkinkah karena menyekolahkan aku?”. Hal itulah yang berulang kali terlintas dipikirannya. Amirah ingin coba bertanya pada ibunya. Lagi-lagi ia mengurungkan niat itu.

Tiba-tiba ibunya tersentak. Terbangun dari tidur yang pulas itu. Ibunya langsung berkata, “Kenapa tak kau bangunkan Ibu dari tadi, Nak? Ibu bisa telat nanti”. Kata maaf selalu keluar dari bibir Amirah. “Iya Bu, maaf. Amirah lihat Ibu sangat nyenyak. Makanya Amirah tidak tega membangunkan. Maaf ya Bu,” katanya dengan air muka yang sedikit tertunduk kecewa. “Gak apa-apa Nak. Sudah, mari bersiap. Kita berangkat bareng,” kata Ibunya sambil memegang tangan Amirah.

Bergegas menuju sekolah, Amirah memakai sepatu yang tapaknya mulai tipis. Bahkan kaus kakinya pun sudah bolong. Namun, Amirah tidak mau memberitahukan hal itu pada ibunya. Amirah menyimpan segalanya sendirian. Diam-diam Amirah mulai mencari penghasilan di luar jam sekolahnya. Amirah menjadi seorang penjaga toko buku ‘Berkah’. Di sana ia bisa menemukan banyak sekali hal. Terutama memperkuat cita-citanya sekolah ke luar negeri.

Bersambung …
(Jilid 2 akan terbit pada Selasa, 31 Maret pukul 14.00 WIB)

Editor: Nurul Liza Nasution

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles