Peluh dan Teduhnya Seorang Ibu /2/

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi. (foto/ilustrasi/pixabay)
- Advertisement - jd

Penulis : Syafrita

***

Di toko buku, tempat Amirah bekerja paruh waktu. Ia bisa membaca buku dengan leluasa. Bahkan sempat dalam satu hari bila pengunjung sepi. Amirah tak sungkan untuk duduk di pojok ruangan sambil disuguhi beberapa macam buku. Baginya, dunia sangat luas hanya dengan membaca buku yang tebalnya hampir 200 halaman. Sepulang dari sana, Amirah tak jarang menceritakan sesuatu pada ibunya.

“Bu, Aku baru saja mengelilingi Jerman. Aku suka dengan kotanya, Bu. Gerakan penduduknya yang gesit juga ilmu kedokterannya yang berkembang dan begitu terkenal. Jerman hebat ya, Bu.” katanya dengan wajah sumringah tak ketentuan.

Ibunya menatap heran lalu bertanya, “Kau tahu semua itu dari mana, Nak?”.

“Buku! Ya buku Bu. Aku sangat suka. Dengan satu benda itu. Dia baik. Dan aku ingin memiliki beberapa darinya,”. Jawabnya antusias.

“Maksudmu apa Nak? Ibu gak ngerti”.

“Iya Bu. Aku tahu semua itu dari buku. Dan aku ingin menceritakan sesuatu pada Ibu”.

“Apa itu Nak? Ceritakan aja. Ibu akan mendengarkannya,”.

“Begini Bu, Amirah selama ini bekerja di toko buku Bu. Ibu jangan khawatir. Ini gak akan menganggu sekolah Amirah kok. Makanya Amirah akhir-akhir ini senang membaca buku dan menjelajahi dunia lewat buku. Seru kan Bu?”

Tanpa diduga-duga, ibu Amirah menaikkan nada suaranya dan raut wajahnya berubah tak karuan. Ia menatap Amirah dengan satu tatapan yang lain. Ya, ada marah yang tersulut dari tatapan matanya.

Baca juga: Keluarkan Surat Pernyataan, Sema FKM Sampaikan Keluhan Mahasiswa

“Apa kau bilang Nak? Kau bekerja? Apa Ibu sudah tak mampu lagi membiayaimu? Apa Ibu semenyedihkan itu? sampai-sampai Ibu baru tahu kalo kamu bekerja”

“Bukan Bu. Bukan begitu. Amirah melakukan ini bukan karena ingin membuat Ibu seperti itu. Amirah ingin punya tambahan uang jajan Bu. Percayalah. Amirah tidak pernah seperti apa yang Ibu katakan,” katanya sambil meyakinkan Ibunya dengan tatapan sedih dan matanya yang ikut berbinar.

“Ya, Ibu tahu semua ini salah Ibu. Ibu memang tidak bisa memberikanmu uang jajan yang banyak seperti apa yang diberikan orangtua lain ke anak-anaknya. Ya Ibu tahu itu,” ucap Ibunya sambil sesekali menyeka bulir air mata yang mendarat ke pipinya yang mulai sedikit keriput.

“Bu, bukan begitu. Sungguh bukan begitu Bu. Ibu tahu? Saat teman-teman sekelas Amirah bisa makan enak ini dan itu. Pergi ke tempat-tempat hangout. Mereka pernah mengajak Amirah. Tapi sayangnya, berulang kali mereka ajak. Berulang kali juga Amirah tolak. Bukan karena Amirah tak ingin. Amirah juga sangat ingin seperti itu. Tapi Amirah sadar diri Bu. Mungkin belum saatnya,” ungkap Amirah sampai jeda dalam beberapa saat. Ibunya diam dan terus memperhatikan nafas Amirah yang terengah-engah.

Amirah pun melanjutkan, “Ibu tahu? Mungkin mimpi Amirah ini begitu kecil dan sempit. Bahkan pernah sekali saja terbersit di hati Amirah bahwa Amirah ikut makan bersama teman-teman Amirah. Sekali saja. Dan untuk mewujudkan itu, Amirah perlu uang Bu. Itu juga alasan kenapa Amirah ingin cari tambahan uang jajan. Dan untuk masalah lainnya adalah Amirah tidak ingin menyusahkan Ibu. Amirah tahu tapak sepatu Amirah akan jebol sedikit lagi. Tapi Amirah mempertahankan untuk tetap memakainya. Kenapa Bu? Karena Amirah gak ingin memintanya pada Ibu. Amirah ingin membelinya sendiri. Apakah itu cukup untuk menjadi alasannya Bu? Mungkin Amirah memang salah karena tidak memberitahu Ibu lebih dulu. Iya, Amirah salah. Dan Amirah minta maaf Bu,” katanya dengan sedikit sesenggukan. Ia menghapus airmatanya yang mulai tak terbendung lagi.

Baca juga: Jumlah Positif Corona di Indonesia Capai 1.285 Kasus

“Nak, Ibu suka kau selepas ini pada Ibu. Ibu tidak tahu kau menahan sekian banyak gejolak hati seperti yang baru kau ungkapkan hari ini. Kau menyimpan banyak rahasia dihatimu Nak. Bahkan ketika kau sudah mengeluarkannya, Ibu merasa masih ada gejolak yang tertinggal didalamnya. Ayolah Nak katakan pada Ibu. Ibu bersedia mendengarkannya,” ucap Ibunya penuh lirih.

“Bu, aku menyanyangi Ibu. Sangat sangat menyayangi Ibu. Aku tidak ingin Ibu terlalu berat menanggung semua peluh itu sendirian. Seharusnya Ibu perlu membagikannya padaku. Aku juga tahu kalau Ibu menyimpan sesuatu yang dalam dihati Ibu. Selain cinta Ibu yang masih begitu melekat pada Ayah. Ibu menyimpan rahasia besar yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Tapi aku bisa merasakannya. Ayolah Bu, jujurlah” katanya sambil menarik-narik kecil ujung daster Ibunya.

“Apa yang Ibu simpan Nak? Ibu hanya menyimpan kasih sayang Ibu yang begitu dalam pada kalian. Iya itu saja,” ucap Ibunya pelan-pelan.

Amirah masih tidak mempercayai jawaban Ibunya, berulang kali Ia bertanya dan alhasil tetap sama. Ibunya tak pernah memberikannya jawaban yang pasti. Jawaban yang selama ini begitu ingin Amirah ketahui. Usai percakapan penuh haru itu, mereka berdua berpelukan. Amirah meminta maaf pada Ibunya karena telah berbicara lantang. Ibunya memeluk dengan sangat erat. Seperti ada perasaan tak ingin kehilangan Amirah. Amirah pun demikian. Ia menatap Ibunya terus menerus sambil berkata, “Bu, Ibu tahu? Aku selalu mencintai Ibu. Di mana pun dan kapan pun itu. Ibu orang yang sangat berarti bagiku,”. Kecupan bibir itu mendarat di kening Amirah. Ibunya baru saja mencium keningnya. Dalam derai tawa khas mereka, Ibunya menyelipkan percakapan, “Kau tahu Nak? Ibu tak menyangka kau sudah tumbuh sebesar ini. Lihat keningmu itu, sudah berjerawat,” ucap Ibunya dengan penuh gelak tawa.

***

Saat membelakangi punggung Amirah. Dalam hati Ibunya berkata;

“Nak, Ada satu rahasia yang tak akan pernah Ibu katakan padamu. Cukup Ibu saja yang menyimpan rahasia itu lamat-lamat. Melumatnya sendirian, dan mungkin akan hilang dalam beberapa kurun waktu. Nak, Ibu tak sekuat yang kau pikirkan. Ibu adalah orang yang paling khawatir. Memikirkan bagaimana Ibu bisa membesarkanmu dengan keadaan Ayahmu yang seperti itu. Ibu tidak sekuat itu Nak. Pernah sekali Ibu menangis dihadapan Ayahmu yang tertidur pulas tiap malam. Ibu tanyakan padanya, mengapa Tuhan menguji Ibu seperti ini? Ibu sempat merasa ini semua tidak adil. Tapi, lagi-lagi Ibu harus melewati semua ini. Apapun itu. Nak, Ibu berpikir bahwa nanti tak bisa menjadi Ibu yang kuat. Ibu yang bisa melindungi dan menjaga dengan setulus hati. Ibu selalu memikirkan itu tiap saat. Sampai rasa khawatir itu terus bertambah. Nak, sampai sekarang Ibu terus berpikir. Apakah Ibu bisa menjalankan semua ini sendirian? Apakah Ibu sanggup dan kuat nantinya? Nyatanya tidak, Ibu tahu Ibu tidak sekuat itu. Ibu rapuh Nak. Bahkan setelah pertama sekali mendengar diagnosis dokter tentang keadaan Ayahmu. Ibu rapuh, dan jiwa Ibu pun tak utuh lagi. Tinggal separuh. Namun senyumanmu yang selalu membuat Ibu yakin kembali menjalani hari-hari ini. Kau menjadi alasan Ibu bertahan Nak. Menjadi alasan Ibu untuk terus mencoba terlihat kuat. Kaulah Nak alasannya. Anakku, Amirah,” kalimat-kalimat itulah yang mengalir deras dihati Ibunya.

Editor: Nurul Liza Nasution

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles