Pengajar Juga Perlu Belajar

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi seorang pengajar yang juga harus belajar. (foto/Ilustrasi/pexels)
- Advertisement - jd

Guru adalah Pahlawan tanpa tanda jasa. Begitu yang kita pahami pada umumnya. Menjadi guru mungkin merupakan cita-cita yang teramat mulia bagi beberapa orang. Namun, bisa pula menjadi profesi yang dibenci banyak orang juga. Karena sejatinya baik buruknya suatu pekerjaan bergantung dengan cara mata memandang, Sabtu (18/1).

“Tidak bisa dikatakan jadi guru itu enak. Tapi bukan berarti tidak enak juga, semua hanya proses belajar. Belajar sabar dan memahami hidup contohnya,” begitulah ungkapan salah satu guru di sekolah SD Swasta MISKA Medan.

Di tanyak lebih lanjut soal argumennya itu, tenyata banyak permasalahan yang dialami seorang guru. Dipaksa mengikuti kemauan murid sebagai salah satu contohnya. “Sekarang murid uda  gak kayak dulu. Sekarang murid yang ngatur guru, kalau dimarahi dia mengadu dan nanti guru akan berlawanan langsung dengan orang tuanya. Membawa-bawa pasal perlindungan anak untuk membela anaknya. Itu sudah pernah saya alami,” katanya.

“Guru dituntut mendidik anaknya menjadi baik. Tapi sebagai orang tua tak sepenuhnya mempercayai guru. Anaknya diingatkan saja dia tak terima apalagi kalau sampai anaknya dipukul, mungkin saya dipenjarakan,”tambahnya lagi

Tak hanya sekali, rupanya kasus serupa sudah beberapa kali dialami guru tersebut. Banyak orang tua yang melabrak sekolah karena aduan dari anaknya, hanya karena anaknya dimarahi di sekolah.

“Anak saya di sini bukan untuk dimarah-marahi. Saya saja tidak pernah melakukannya. Begitulah kebanyakan keluh orang tua yang melabrak saya,” kata guru itu sambil memperagakan gaya orang tua yang melabraknya.

Kemudian guru yang berinisial NH tersebut berpesan agar orang tua di luar sana memberi kepercayaan kepada para guru di Indonesia. “Saya tidak berharap lebih, cukup orang tua percaya saja kalau guru itu tidak ada yang mau menyakiti muridnya. Bila muridnya dimarahi pastilah ada kesalahan yang dilakukannya. Harusnya orang tua bisa berfikir begitu jangan hanya mendengarkan semua keluhan anaknya,” pesannya.

Selain itu, SS yang juga berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah swasta Medan juga mengatakan hal yang sama “Gaji guru itu apalagi yang masih honor tidak banyak. Tapi tuntutannya banyak. Harus bisa mendidik anak-anak bukan soal akademik tapi juga karakter, maka diperlukan pengertian dari orang tua. Cukup beri kepercayaan pada guru untuk mendidik anaknya,” ungkapnya.

DAH, lelaki yang juga berprofesi sebagai guru juga mengutarakan keluhannya terkait kondisi murid sekarang “Saya belum lama ngajar,  sudah mendapati banyak karakter kurang baik dari murid. Sebagai contoh ada murid yang berani chat saya di luar jam sekolah hanya untuk menanyakan urusan pribadi. Ini benar-benar miris,” paparnya.

“Ada lagi siswa di kelas saya yang sesuka hatinya di dalam kelas. Tidur di jam pelajaran tapi ketika dibanguni dia malah memukul meja dan pergi keluar. Sangat tidak sopan, terlebih dia adalah seorang perempuan. Saya benar-benar perlu belajar sabar sebagai seorang guru,” tutupnya.

Reporter : Siska Ramayani Damanik dan Amita

Editor      : Miftahul Zannah

- Advertisement - DOP

Share article

Latest articles