Perempuan dan Stasiun Kereta Api /2

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi: Lelya Hilda Amira Ritonga
- Advertisement - jd

Penulis: Rizki Audina

“Semesta, katakan pada langit biru. Jangan pergi dan tinggalkan aku. Aku takut pada gelapnya langit malam. Semesta, ajak langit biru pulang. Aku menunggunya.” – Azalea –

Senin kembali menemaniku, dengan langitnya yang teramat biru. Membuat siapa saja yang memandangnya menjadi tenang. Meski seringkali Senin dianggap monster oleh orang-orang—termasuk aku. Ah iya biru, tiba-tiba aku kepikiran kertas kecil bertuliskan sebuah kalimat yang aku temukan. Kemarin, setelah membacanya, aku menyelipkan kertas itu di kantongan ranselku. Kuambil kertas itu, lalu kubaca sekali lagi. Langit biru, perempuan bernama Azalea ini menuliskan langit biru. Sama seperti perempuan di stasiun kereta api. Dia juga mengatakan tentang biru, ya walaupun yang diucapkannya adalah Sabiru. Apa mungkin mereka orang yang sama?

***

“Aku sudah menyerah Sabiru. Tapi, aku kembali lagi. Bukan untuk memaksa Tuhan mengembalikanmu padaku. Aku hanya ingin melihat, apakah kamu laki-laki yang menepati janjinya,” Azalea berkata dalam hatinya.

Iya, hari ini dia kembali lagi ke stasiun. Duduk dan mengulang semua kebiasaannya. Bukan karena dia masih mengharapkan laki-laki yang telah membuatnya menunggu bertahun-tahun itu. Melainkan hanya untuk melihat, apakah Sabiru akan menepati janjinya. Seperti langit yang kembali biru meski diterpa badai sebelumnya.

***

Enam jam, sudah Azalea menunggu. Tapi, lagi dan lagi dia harus menelan kekecewaan. Sabiru tak akan pernah datang—bila pun datang, mungkin bukan Azalea lagi rumahnya. Perempuan itu menangis, dadanya sesak. Seperti dihimpit oleh dinding kukuh nan kuat. Dia bangkit, lalu berlari menuju pintu keluar stasiun. Tidak melihat kanan-kiri, sehingga dia menabrak seorang laki-laki.

“Aaauu,” ringis Azalea memegangi keningnya. Dia menengadah, memastikan siapa orang yang ditabraknya.

“Maaf, maaf mas. Aku nggak sengaja,” katanya setelah tahu bahwa orang yang ditabraknya adalah seorang laki-laki.

“Samudera, namaku Samudera. Nggak apa-apa, aku juga salah,” balas laki-laki itu.

***

Azalea sama sekali tidak ingat pada Samudera—laki-laki yang pernah menghampirinya ketika dia sedang menunggu di stasiun. Tetapi samudera ingat, ingat sekali pada Azalea. Pada jilbab birunya, baju putihnya, Samudera ingat itu semua. Samudera yakin, gadis ini adalah perempuan yang sering dilihatnya di stasiun.

“Sekali lagi, aku minta maaf ya mas,” kata Azalea pada Samudera.

Kini mereka sedang duduk di sebuah cafe. Setelah tabrakan itu, Samudera mengajak Azalea ke sana. sekadar berbincang, dan menuntaskan rasa penasarannya. Ya, tidak ingatnya Azalea padanya, dimaanfatakan oleh Samudera. Agar mereka bisa mengobrol dengan santai dan Azalea tidak ketakutan.

“Kamu, kenapa adi lari-lari? Sambil nangis lagi,” kata Samudera membuka pembicaraan.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Azalea sekenanya.

“Ah, tidak apa-apanya perempuan, berarti ada apa-apa. Iya, kan? Haha,” tanya Samudera dengan tawanya.

Samudera sebenarnya ingin memancing Azalea untuk bercerita. Tetapi dia tidak ingin terlihat memaksa. Samudera mengambil gawai dari tasnya, dan tanpa sengaja, kertas biru yang ditemukannya terjatuh. Azalea melihat kertas itu, dia kenal kertas itu—kertas dengan warna kesukaannya. Kertas yang menjadi tempat favoritnya menuliskan segala perasaannya kepada Sabiru.

“Ah kertasnya jatuh,” gumam Samudera yang masih bisa didengar oleh Azalea.

“Itu, kertas apa? Milik kamu?” tanya Azalea. Memastikan, toh kertas seeprti itu ada banyak di dunia ini.

“Oh, ini kertas biasa. Beberapa hari lalu aku menemukannya. Sepertinya milik seorang gadis,” jelas Samudera.

Azalea hanya terdiam. Dia sibuk menerka-nerka. Jangan-jangan itu benar miliknya. Jangan-jangan Samudera telah membaca isinya.

“Hei, kita belum berkenalan. Iya, kan?” ucap Samudera mengagetkan Azalea.

“Ah, maksudku, kamu belum menyebutkan nammu,” lanjut Samudera lagi.

“Oh, aaa..aaku..” Azalea bingung, ia ragu-ragu menyebutkan namanya.

Editor: Cut Syamsidar

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles