Perempuan dan Stasiun Kereta Api /3

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi: Lelya Hilda Amira Ritonga
- Advertisement - jd

Penulis: Rizki Audina

“Es krim manisnya cuma sebentar, kalau kamu lama. Enggak habis-habis. Makanya aku betah mandangin kamu terus,” – Samudera –

Setelah berpikir beberapa saat, Azalea memperkenalkan dirinya. Menurutnya, Samudera sosok laki-laki yang baik juga sopan. Jadi tidak ada salahnya sekadar menyebutkan nama saja.

“Namaku Aza, Azalea,” katanya dengan singkat.

“Azalea?” Samudera memastikan sekali lagi apa yang barusan didengarnya.

“Iya, Azalea,” ucap Azalea dengan senyum manisnya.

Samudera teringat pada kertas biru tadi. Benarlah dugaannya, kertas itu milik gadis yang selalu dilihatnya di stasiun kereta. Samudera bingung, harus apa sekarang. Menunjukkan kertas itu, lalu bertanya pada Azalea. Atau mendiamkannya saja, pura-pura tidak tahu.

“Mas…” panggil Azalea. Dia bingung meihat Samudera yang tiba-tiba melamun.

“Ah iya, kenapa?” Samudera kaget.

“Nggak apa-apa mas. Aku Cuma mau pamit, sudah sore. Sekali lagi aku minta maaf ya mas. Dan, terima kasih untuk tehnya,” kata Azalea dengan tulus.

“Haduh, sudah berapa kali kamu bilang maaf. Iya, iya. Sama-sama Lea. Aku senang bertemu kamu. Semoga, semesta mempertemukan kita lagi, ya. Dengan cara ditabrak kamu lagi juga nggak apa-apa hehe,” kata Samudera.

Azalea tertawa, pipinya merona. Tidak tahu juga kenapa. Padahal, sebelum ini, Azalea sudah sering bertemu laki-laki. Teman kampus, teman organisasi, dan lain-lain. Tetapi semuanya biasa saja—lebih tepatnya dia mati rasa karena Sabiru.

“Ah, iya, semoga. Aku duluan ya mas Samudera,” ucap Azalea kemudian melambaikan tangannya.

***

Entah bagaimana cara Samudera merayu semesta, yang jelas, dia benar-benar bertemu dengan Azalea lagi dan lagi—setiap kali habis ketemu, Samudera selalu mengatakan, semoga semesta mempertemukan kita lagi. Tidak hanya sekali. Kalau dihitung, sudah lebih dari lima kali mereka bertemu. Sadar atau tidak, kehadiran Samudera membuat Azalea sedikit lupa pada Sabiru, juga pada hatinya yang telah hancur berserakan.

Seperti saat ini, Azalea sedang tertawa lepas bersama Samudera. Duduk di taman kota dekat stasiun, sambil menikmati es krim.

“Kamu tahu nggak, apa bedanya kamu sama es krim?” tanya Samudera di sela-sela percakapan mereka.

“Apa?” Azalea balik bertanya tanpa mau melihat Samudera. Dia masih asyik menikmati es krim kesukaannya.

“Es krim manisnya cuma sebentar, kalau kamu lama. Enggak habis-habis. Makanya aku betah mandangin kamu terus,” ucap Samudera dengan cengiran. Mukanya memerah. Sebenarnya ini bukan Samudera. Dia tidak pernah berkata seperti ini pada perempuan sebelumnya.

“Hahaha, gombal kamu udah basi mas. Mendingan kamu belajar lagi deh hahaha,” Azalea tertawa kencang. Dia tidak mengira Samudera akan berkata seperti itu.

Mengingat usia Samudera yang berbeda beberapa tahun di atasnya.

“Aku serius Lea,” kata Samudera membuat tawa Azalea berhenti.

***

Setelah itu, ada percakapan panjang dan serius di antara mereka. Samudera menyatakan perasaannya. Iya, Samudera menyukai Azalea sejak pertama kali melihatnya di stasiun kereta. Dan sekarang suka itu berubah menjadi sayang juga cinta. Samudera merasakan kenyamanan saat bersama Azalea. Tentu saja, pernyataan itu membuat Azalea sangat kaget. Tidak menyangka akan secepat ini—ah bukan, dia hanya belum yakin. Dia takut, Samudera akan sama seperti Sabiru.

Samudera ingin sekali mendengar jawaban Azalea, tapidia tidak ingin memaksa dan terburu-buru. Untuk itu, Samudera memberikan waktu untuk Azalea berpikir.

“Maaf, Lea. Maaf jika aku mengagetkanmu. Namun aku serius, aku mencintaimu. Dari dulu, sejak pertama kali aku melihatmu duduk di stasiun kereta,” kata Samudera.

“Aku tidak memaksa. Sekarang, silakan kamu pikir-pikir dulu. Aku siap menunggu,” Lanjut Samudera. Melihat Azalea yang hanya terdiam, Samudera menghela napas. Lalu berdiri, dan meninggalkan Azalea sendirian di taman.

***

Berhari-hari kemudian, mereka tidak bertemu. Bukan disengaja. Sepertinya semesta benar-benar memberikan mereka waktu untuk merenugi semuanya. Sebelum mereka melangkah lebih jauh lagi. Samudera tidak menhubungi Azalea, pun begitu sebaliknya.

Tapi, lagi dan lagi semesta bekerja dengan baik. Mereka bertemu di stasiun kereta. Di tempat yang sama saat pertama kali Samudera melihat Azalea. Entah apa yang dilakukan Azalea kali ini. Samudera sibuk menerka-nerka—jangan-jangan Azalea masih menunggu laki-laki yang bernama Sabiru.

“Lea…” panggil Samudera.
Azalea pun menoleh, dia kaget. Dia tidak percaya, doanya dikabulkan Allah. Samudera datang ke stasiun, merka bertemu. Itu artinya, Samudera memang laki-laki pilihan-Nya.

“Aku mau mas. Aku mau,” kata Azalea dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kamu kenapa Lea? Kamu mau apa?” Samudera tidak mengerti maksud Azalea.

“Aku…aku mau…” Azalea terbata-bata, dia malu mengucapkannya.

“Mau apa Lea?” tanya Samudera lagi.

“Aku…aku mau nikah sama kamu. Aku menyayangi kamu juga mas,” akhirnya Azalea mengatakan hal itu. Dia menundukkan kepala, menyembunyikan pipinya yang merona.

“Lea…kamu?” Samudera hampir tidak percaya. Tapi Samudera bahagisa, perempuan di stasiun kereta itu, akan segera menjadi istrinya.

Editor: Cut Syamsidar

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles