Perkuat Pijakan, Kuburlah Zona Nyaman

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Muhammad hanif Muzhaffar)

Penulis: Riska Dwi Putri 

- Advertisement - jd

Langkah yang mulai goyah, beralaskan zona nyaman sebagai tempat peristirahatan. Namun, bukan istirahat namanya jika terlalu lama. Bangkit, kuatkan tekad dan pijakan mulailah bergerak kembali.

Awal perjalanan hidup kian menantang naluri yang terus menerus ingin berbuat lebih. Tetapi, ada rasa di dalam diri yang mengurung langkah dan pergerakan yang sangat kita ingin lakukan. Sama halnya ketika awal belajar berjalan, rasa ingin agar kita bisa berlari selalu mengisi ingatan, namun ada naluri dalam diri yang terus mengeratkan ikatan agar tidak mau belajar berlari. 

Hal inilah yang membuat kepercayaan terhadap diri sendiri kian runtuh dan rasa minder jauh lebih mendominasi dalam diri. Perjuangan yang belum sempat dilakukan pun perlahan tidak ada yang bisa meneguhkan. Namun, apa akan tetap berdiam diri dengan keterbatasan pergerakkan? Lantas merasa bahwa zona nyaman sekarang ini adalah yang terbaik untuk diri ini?

Perihal zona nyaman, membuat semua orang menjadi malas melakukan hal lebih. Hal ini dikarenakan apa yang dilakukan  sudah dirasa memberikan kepuasan. Padahal jika tidak menuruti naluri itu, kita bisa melakukan  berpuluh kali lipat dari apa yang biasa kita lakukan. Dengan berbalut rasa minder dan tidak mau beranjak dari zona nyaman, membuat pergerakkan yang kita lakukan tidak seberapa. Rasa takut akan sebuah perjalanan pun ikut mengambil peran.

Setiap perjalanan hidup tidak ada yang selalu berjalan mulus, pasti memiliki rintangannya sendiri. Namun itu bukan penghalang untuk memulai sebuah langkah, walaupun kadang mulai goyah dan butuh bantuan. Langkah yang perlahan mulai tertatih akibat banyaknya yang dipikul. Tidak perlu berhenti dan tidak perlu perbanyak suara, cukup jalan perlahan namun sampai, dan cukup kaki dan tangan yang bergerak yang lain tidak terlalu ikut andil. 

Jatuh tidak akan terhindari jika langkah mulai goyah, membutuhkan seseorang untuk bangkit adalah hal yang wajar juga. Bahkan kecewa karena langkah yang tidak sesuai arah pun mendominasi langkah yang tertatih. Bukankah itu juga wajar? Tapi, tidak wajar namanya jika tidak beranjak dari rasa sakit. Uluran tangan dari orang yang tulus pun turut dinanti, dan jangan sampai membuat harapan yang kita bangun mulai meredup. 

Lelah, jatuh, sakit, kecewa, dan bangkit adalah siklus kehidupan yang tidak mungkin bisa dielakkan. Siklus itu bukanlah akhir dari segalanya, karena hari esok masih akan hadir. Untuk itu jagalah semangat sampai akhir. Tetapi tidak terkurung dalam zona yang kita anggap nyaman padahal kenyamanan itu yang membuat kita malas untuk berkembang, mengembangkan yang ada dalam diri kita yang kita sendiri tidak tahu. 

Harapan adalah suatu naluri yang membuat pijakan mulai teguh kembali. Beberapa harapan datang dari diri orang lain dan memberikannya dengan berharap imbalan. Tetapi harapan yang datang dalam diri kita sendiri tidak mengharapkan imbalan, hanya saja sebuah perjanjian yang jika terpenuhi akan membuat hidup kita lebih semangat lagi hingga akhir. 

Editor: Anggia Nurulita 

 

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles