Pondok Itu Mungil

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Tiara Wulandari
- Advertisement - jd

Penulis: Karmila Sinaga

Pondok itu mungil, berdinding batu merah dengan aksen kayu hutan. Berada di ketinggian, di antara kesendirian. Ada banyak tanaman tropis di sekitarnya, dengan dedaunan hijau mengalirkan angin kala bergerak. Jalan setapak terbuat dari susunan batu kali, berkelok indah ke arah pantai.

“Ara, masih betah di sini?” suara Umi menghentikan pergerakan jemari Ara yang tengah memahat langit dengan angan-angannya.

Ara terdiam sejenak, ada sesuatu yang dari tadi mengganggu pikirannya, perasaannya juga ikut terbawa.

Baca juga: Jangan Takut Gelap /3/

“Tenang umi, lagi pula Ara jarang dapat pemandangan alam dan udara yang sejuk jika bukan di kampung, lama-lama di kota buat penyakit asma Ara sering kumat lagi,” ucapnya  karena kemarau dan polusi yang parah”

“itu sudah resiko, jangan terlalu manja,di kota juga masih banyak kok tempat untuk kamu menghirup udara segar,” ungkap umi.

“O iya, bagaimana dengan rencana kamu pindah ke Jerman? Apa kamu yakin mau ambil bagian itu? apa kamu gak nyaman dengan pekerjaan kamu saat ini? Kamu akan jauh lagi dari Umi sama Ayah,”

Ara hanya terdiam mendengarkan perkataan uminya, ia tidak berani untuk menjawab.

Baca juga: Apa Benar Hanya Kita Kehidupan Satu-Satunya?

“Setidaknya kamu harus mengabdi pada negara, bukankah dulu itu adalah impianmu? Mengangkat martabat dan kehidupan kaum yang kurang beruntung?” ungkap umi menyegarkan angan-angan Ara.

Ara merasa diceluti oleh perkataan uminya, Ara sadar bahwa cita-citanya dulu adalah menjadi seorang abdi negara. Tapi kali ini niatnya bulat.

“Apa Umi tahu bagaimana kejamnya negeri ini, lebih percaya pada orang asing ketimbang putra-putri bangsanya yang jauh lebih berprestasi,”

Tidak gampang menjadi orang baik di negeri ini Umi, walau di satu wilayah daerah sekalipun. Musuh terberat Ara itu hanya tiga golongan Umi, orang Kafir, Munafik dan Musyrik, mereka sangat kuat jika bersatu.

Baca juga: Mahasiwa KKN Pakpak Bharat Ajarkan Fardu Kifayah

“Miris, untuk menghancurkan negeri ini, perlahan-lahan target utama mereka adalah menciptakan generasi muda yang lemah, kalau sudah lemah, tinggal menunggu kehancurannya saja, jadi kamu jangan jadi pemuda yang lemah.”

“Iya, dan satu lagi, kamu jangan sampai lupa cari jodoh ya. Ingat umur kamu udah berapa Ra? Jangan keasyikan dengan karirmu dan impianmu itu loh, kamu itu perempuan.”

“Oalah umi, jodoh itu Allah yang ngatur, nanti kalau jodoh juga datang sendiri,”

“Ara, jodoh itu bukan cuma ditunggu, tapi harus dikejar, jangan sampai direbut orang. Umi sampai lupa, ini Umi temukan di atas lemari pakaian kamu,” umi memberikan sebuah Novel karya Saprdji Djoko Damono, Hujan Bulan Juni.

Baca juga: Sudahkah Kita Bijak dalam Menggunakan Gadget?

Ara kembali diam sejenak, ia mengambil alih perasaannya. Bahkan ia hampir lupa dimana ia menaruhnya terakhir kali saat hatinya untuk pertama kali kecewa. Jika saja Umi tidak mengingatkan tentang Novel lama miliknya, mungkin ia tidak akan kepikiran lagi tentang masa lalunya. Masa di mana Ara mulai jatuh hati pada seorang laki-laki yang membuatnya memendam rasa cinta itu.

***

Ketika itu, untuk pertama kali dalam hidupnya saat dimana hatinya bergetar, keringatnya bercucuran ketika berhadapan dengan pria itu. Hanya karena seorang pria bernama Muhammad Alif.

Pagi itu Ara berniat memberikan hadiah kecil untuk Alif di hari ulang tahunnya, sebuah buku novel karya Sapardji Djoko damono yang fenomenal, Hujan Bulan Juni.

Dret.. dret.. dret..

Pagi itu ponselnya bergetar saat Ara tengah menyeduh kopi hitam kesukaannya, ada pesan singkat dari seseorang yang tidak biasa baginya, pesan itu dari Alif.

Pasalnya, Alif tidak pernah sekalipun mengirim pesan kepada Ara jika bukan kepentingan yang mendesak.

Baca juga: Inisiasi Mahasiswa KKN Nusantara, Bipolo Cetuskan 1 Februari Hari Tenun

“Ara, kamu datang jam berapa ke kampus? Aku tunggu di kampus pagi ini pukul 10, jangan lupa bawa buku bahasa Indonesia”

Ara tersenyum membaca pesan singkat dari rekannya tersebut, dan menggerutu dalam hatinya, “Dasar Alif, giliran kepentingannya aja gak boleh lupa,” Ara tertawa geli dalam hati.

Ara melirik arloji di tangannya, pukul 10.00 WIB. “Waduh, aku telat ini!”.

Ara segera meraih tasnya di atas meja, ia bergegas keluar rumah dan menyetop angkutan kota dan pergi berangkat ke kampus.

Sesampainya di depan kampus, tiba-tiba jantungnya berdegup kecang, kecepatannnya melebihi hitungan langkah kakinya. Dia tidak tahu apa yang ia rasakan saat itu, dia bingung dengan perasaannya.

Baca juga: Derajatmu Dilihat Dari Tingkat Takwa dan Iman

“Aku cuma mau memberikan hadiah ini untuk Alif, tapi kenapa malah jantungku yang lomba lari,” gumam Ara dalam hatinya.

Sesampainya di depan sekretariat organisasinya, tiba-tiba Alif menarik tangan Ara sampai Ara merasakan jantungnya telah copot seutuhnya.

“Jangan masuk ke dalam dulu,” ungkap Alif.

“Kenapa? Kamu juga seenaknya aja tarik-tarik tanganku, belum halal tahu,” ungkap Ara dengan nada pelan dan keringat yang bercucuran.

“Maaf Aii, aku refleks. Mana bukunya?,” tanya Alif.

“Ada,” jawab Ara sekenanya. Ara kemudian mengeluarkan buku bahasa Indonesia yang diminta Alif.

Baca juga: Orchid Restaurant Kenalkan Makanan Tradisonal Lewat Menu Baru

“Waduh, kamu yang terbaiklah Aii. Terima kasih ya,” ucap Alif sambil pergi berlalu, ia nampaknya bergegas masuk ke kelas.

Masih menyimpan degup jantung yang berdetak cepat. Pasalnya, ini merupakan pertama kali dalam hidupnya ia akan memberikan hadiah ulang tahun untuk teman prianya, walaupun hanya sebuah buku.

Hingga pukul 4 sore, Alif belum juga kembali. Ara memutuskan untuk pergi ke masjid untuk shalat ashar. Di masjid Ara melihat Alif yang bersandar pada dinding masjid sambil memegangi ponselnya, kelihatannya ia sedang berusaha menghubungi seseorang. Tapi Ara tak langsung menegur Alif, ia takut mengganggu Alif yang nampaknya sedang serius.

Baca juga: Pentingnya Verifikasi di Era Digitalisasi

Usai shalat ashar, Ara keluar melihat apakah alif masih berada di tempat semula, namun Ara sudah tidak meneui sosok Alif, mungkin Alif sudah beru saja pergi tidak jauh dari arah masjid.

***

Ara tersentak dari bayangan masa lalunya ketika hujan turun dengan deras, saat itu ia tengah memandang laut dari tepi pantai. Tanpa sempat berlari, Ara sudah basah diguyur derasnya hujan.

Ara memang sengaja untuk tidak beranjak lebih jauh lagi, mungkin ia rindu menyapa hujan. Hujan menghadirkan kembali ingatan masa lalunya di lintas musim. Ia ingat betul bagaimana kenangannya tentang Alif dan hujan. Ara ingin kembali ke musim itu, tapi mana mungkin ia membalikkan waktu. Bukankah waktu akan menebas siapa saja yang lalai. Ya , mungkin Ara lalai dengan perasaannya, bahwa dalam hidupnya ia tidak punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Alif, toh, dia juga tidak berharap jika Alif punya perasaan yang sama dengannya

Baca juga: Split : Manusia dengan 24 Kepribadian

Dia hanya menyesal karena tidak sempat jujur dengan perasaannya pada Alif, cinta pertamanya yang kini entah dimana keberadaannya. Bahkan terbesit dalam hatinya, bahwa ia sudah ikhlas menerima apapun ketentuan-Nya untuk hidupnya. “Jika Alif memang sudah menikah, semoga hatiku bisa ikhlas menerima segala ketentuan dari-Nya,” gumamnya dalam hati.

Hujan hari ini masih sama dengan hujan pada musim-musim yang lalu. Dan Ara kembali menerka-nerka hatinya. Matanya masih tetap memandangi hujan senja, jika tidak dijemput oleh uminya, Ara masih tetap betah dengan musim hujannya, “Ara, ayo pulang, ada telepon dari kota untukmu,” sontak Ara kaget dengan teriakan uminya.

“Iya umi,” ara pun bergegas untuk berlari ke arah uminya.

***

Di rumah, ponselnya penuh dengan panggilan tidak terjawab dari rekan kantornya.

Belum sempat ia menekan tombol di ponselnya, tiba-tiba ada panggilan lagi untuknya, kali ini dari atasannya. “Halo, Assalamualaikum, dengan Saya Araisyah, ada apa pak?,” sapanya.

Baca juga: Belajar dari Rasa Kecewa

“Ara, ada surat untukmu dari kedutaan Jerman, saya belum buka isi suratnya, karena itu bukan hak saya. Jadi kamu kapan segera kembali ke kantor?, nampaknya kamu harus lihat isi surat ini,” terdengar suara dari ujung telepon, nada suaranya nampak serius menegaskan perintahnya.

Ara kaget mendengar penyataan atasannya, sebelumnya ia tidak pernah mengirim surat apapun ke kedutaan Jerman, “Iya pak, besok saya akan kembali ke kantor,” ungkap Ara dengan nada meyakinkan.

“Ada apa Ra? telepon dari siapa?” tanya umi padanya.

“Telepon dari bos mi, Ara nampaknya harus kembali ke kota, ada surat dari kedutaan jerman untuk Ara,” ungkapnya.

“Alhamdulillah nak, itu pasti rezeki dari Allah untuk kamu, pokoknya jangan sampai kamu tolak nak, umi sangat berharap sama kamu,” ungkap umi.

Baca juga: Derajatmu Dilihat Dari Tingkat Takwa dan Iman

“Doakan saja mi, semoga Ara tidak mengecewakan umi lagi,” ungkap Ara.

“Tapi bagaimana kedutaan jerman tahu alamat kantor kamu,” tanya Umi.

“Ara juga tidak tahu umi, semenjak selesai S2 di jerman, Ara gak pernah lagi ngasih alamat ke mereka,”

“Masak sih Ra? Seingat umi kamu kan pernah dihubungi oleh persatuan pelajar Indoensia di Jerman, mereka minta data lengkap kamu untuk arsip, mungkin dari sanalah mereka mengetahui alamat kantormu,” ungkap Umi mengingatkan

“iya, mungkin Ara yang lupa,” ucap Ara.

Ara adalah alumnus dengan lulusan terbaik dari salah satu universitas di Jerman yang terkenal, ia mengambil konsentrasi ekonomi dan bisnis internasional.

Editor : Miftahul Zannah

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles