
Penulis: Anggi Kurnia Adha Harahap
”Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (Q.S. An-Nur:39).
“Hidup yang sekali, hiduplah berarti”. Artinya, dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk beramal saleh. Amal yang didasarkan kebersihan tauhid, bukan karena berlandaskan makhluk.
Merujuk pada ayat di atas, dalam tafsir al-Jalalain menyebutkan: (Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar) lafal Qii’ah adalah bentuk jamak dari lafal Qaa’un, yakni padang sahara yang datar. Yang dimaksud dengan lafal Saraabun adalah pemandangan yang tampak di kala matahari sedang terik-teriknya dan rupanya mirip seperti air yang mengalir, atau lazim disebut fatamorgana (ia disangka) diduga (oleh orang yang kehausan) yaitu orang yang dahaga (air, tetapi bila didatangi air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun) apa yang disangkanya itu.
Demikian pula halnya orang kafir, ia menduga bahwa amal kebaikannya seperti sedekah, yang ia sangka bermanfaat bagi dirinya, tetapi bila ia mati kemudian ia menghadap kepada Tuhannya, maka ia tidak mendapati amal kebaikannya itu. Atau dengan kata lain amalnya itu tidak memberi manfaat kepada dirinya. (Dan ia mendapatkan Allah di sisinya) yakni di sisi amalnya (lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup) Allah memberikan balasan amal perbuatannya itu hanya di dunia (dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya) di dalam memberikan balasan-Nya.
Maka dari itu, pentingnya memaknai amal yang saleh bukan amal yang salah. Mengerjakan amal saleh, seperti bersedekah, silaturahmi, dan berbuat kebaikan lainnya perlu dilandasi oleh iman. Karena imanlah fondasi untuk dapat melakukan amalan-amalan tersebut. Di mana setiap pelakunya berharap keridaan Allah Subhanahu wa taala, bukan ketenaran di kalangan manusia.
Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk mengerjakan amal saleh dalam beribadah?
- Ikhlas karena Allah Subhanahu wa taala.
- Mengikuti tuntunan Nabi Sallallahu alaihi wa sallam (ittiba’) kepadanya.
Jika salah satu di antaranya tidak terpenuhi, maka amalan tersebut tertolak dan tidak mendapatkan apapun, laksana fatamorgana.
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-Kahfi:110).
Dalam tafsir Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”. Maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi Sallallahu alaihi wa sallam ). Dan “Janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya,” maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah.
Kemudian, terdapat dua syarat diterimanya amalan yang ditunjukkan dalam dua hadis. Hadis pertama dari Umar bin Al Khattab, Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita).”
Hadis kedua, dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasullulah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda :
“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya,maka perkara tersebut tertolak.”
Maka, begitu jelas Islam dalam mengatur segala hal. Manusia diciptakan Allah Subhanahu wa taala untuk beribadah kepada-Nya dan Dia telah memberikan solusi dalam meningkatkan amal ibadah yang dapat diterima di sisi-Nya. Ditambah lagi dengan penjelasan Rasul melalui hadisnya sehingga manusia dapat beramal saleh dan tidak terjerumus pada amal yang salah.
Karena itu, beramal saja tidak cukup tanpa ilmu. Jangan sampai amal yang dilakukan dengan peluh keringat tidak mendatangkan manfaat. Sebab, yang dipandang Allah adalah iman dan amal saleh hamba-Nya. Sebagaimana iman itu ada tiga golongan, golongan yang pertama adalah golongan orang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan (saabiqun bi al-khairaat), golongan yang kedua adalah golongan orang-orang yang muqtashidun (sedang), golongan yang ketiga adalah golongan orang-orang yang dhalimu linafsihi (menganiaya diri sendiri). Beruntunglah bagi orang-orang yang masuk kedalam golongan pertama.
Dan idealnya sebagai seorang mukmin, dapat menjadi cermin bagi orang lain. Sehingga dapat memantulkan amal atau kebaikan-kebaikan yang semoga mendapatkan keridaan Allah Subhanahu wa taala. Semoga di bulan penuh berkah, amalan-amalan kita dapat diterima dan rahmat-Nya melimpah ruah.
- Penulis : Anggi Kurnia Adha Harahap
- Semester : VI
- Jurusan : Ilmu Kesehatan Masyarakat
- Fakultas : FKM
- Nomorhp : 082277164684
- IG : diary_hamimi

