Addin 314: Betapa Mulianya Wanita dalam Islam

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Syifa Zanjabila

Penulis: Aulina madhani

Sebelum datang Islam, seluruh umat manusia memandang hina kaum wanita. Jangankan memuliakannya, menganggapnya sebagai manusia saja tidak. Orang-orang Yunani menganggap wanita sebagai sarana kesenangan saja. Orang-orang Romawi memberikan hak atas seorang ayah atau suami menjual anak perempuan atau istrinya. Orang Arab memberikan hak atas seorang anak untuk mewarisi istri ayahnya. Mereka tidak mendapat hak waris dan tidak berhak memiliki harta benda. Hal itu juga terjadi di Persia, Hidia, dan negeri-negeri lainnya. (Lihat al Mar`ah, Qabla wa Ba’da al Islâm, Maktabah Syamilah, Huqûq al Mar`ah fi al Islâm: 9-14)

Orang-orang Arab ketika itu pun biasa mengubur anak-anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa dosa dan kesalahan, hanya karena ia seorang wanita!

Muhammad al Thâhir bin Asyûr mengatakan, “Mereka mengubur anak-anak perempuan mereka, sebagian mereka langsung menguburnya setelah hari kelahirannya, sebagian mereka menguburnya setelah ia mampu berjalan dan berbicara. Yaitu ketika anak-anak perempuan mereka sudah tidak bisa lagi disembunyikan. Ini adalah diantara perbuatan terburuk orang-orang jahiliyyah. Mereka terbiasa dengan perbuatan ini dan menganggap hal ini sebagai hak seorang ayah, maka seluruh masyarakat tidak ada yang mengingkarinya.” (al Tahrîr wa al Tanwîr: 14/185)

Al-Qur’an hanya menyebutkan satu orang wanita dengan namanya yang sesungguhnya. Dialah Maryam, perawan yang menjadi ibu Isa. Hadis menyebutkan, “Dialah yang pertama-tama akan masuk surga. Untuk dialah pohon kurma yang kering menjatuhkan buah-buahannya ketika dia berpegang padanya saat merasakan kesakitan menjelang melahirkan, dan anaknya yang baru lahir menjadi saksi atas kesuciannya” QS 19:24, 30-33. Dialah jiwa pendiam dan rendah hati.

Wanita yang pertama, Hawa. Dalam tradisi disebutkan tercipta dari tulang rusuk Adam. Goethe penyair terbesar dari Jerman mereproduksi syairnya dari hadis ini menasihatkan pria agar memperlakukan wanita dengan ramah dan sabar. Karena Tuhan mengambil tulang rusuk yang bengkok untuk menciptakannya, bentuk yang dihasilkan tidak bisa lurus sepenuhnya. Maka jika pria berusaha untuk menekuknya dia akan patah, dan jika dia membiarkannya tanpa diganggu, dia akan semakin bengkok. Perlakukanlah wanita dengan sabar dan hati-hati sebab tak seorang pun menginginkan tulang rusuk yang patah. 

Wanita adalah karunia bukan musibah

Seiring dengan berjalannya waktu, muncul kicauan suara yang menggembar-gemborkan pemikiran dan anggapan mereka bahwa wanita harus disama ratakan dengan laki-laki secara keseluruhannya; pergaulan, kebebasan, hak, pekerjaan, jabatan, dan lain sebagainya. Mereka beranggapan bahwa perempuan di zaman sekarang lebih spesifik lagi perempuan dalam Islam adalah perempuan yang banyak didiskriminasi, intimidasi, banyak tekanan, kurang bebas, terzalimi, dan lain-lain. Mereka juga beranggapan bahwa semua itu adalah merendahkan martabat perempuan, perempuan dianggap tidak berdaya, terhinakan, dan begitu seterusnya, sehingga mereka menggemborkan kebebasan perempuan dan kesamaan dengan laki-laki. 

 Islam memandang wanita adalah karunia Allah SWT.  Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 72 yang artinya: “Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. jika mereka menyadari, perempuan di dalam Agama Islam adalah perempuan yang sangat mulia kedudukannya, penuh penghormatan, kelembutan, dan segala sifat kemuliaan. Jadi, Anda semua para pembaca jangan terkecoh terlebih duhulu dengan kicauan suara mereka. Wanita adalah belahan jiwa dari seorang pria. Ia diciptakan oleh Tuhan secara fitrahnya yaitu bersifat feminin, lembut, dan tidak mempunyai tenaga yang kuat dibandingkan laki-laki. Yang paling dominan, ia mempunyai kelebihan memiliki perasaan yang kuat, penyabar, dan hati yang lembut. Dan itulah salah satu dari hikmah kenapa wanita dalam Islam memikul beban dalam mendidik anak-anak, sebagai peran penting dalam rumah tangga, melayani suami dan lain sebagainya.”

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai). Kita tentu sama-sama ingat bagaimana telapak tangan putri kesayangan Rasulullah ﷺ mesti melepuh karena menggiling gandum sendiri. Kalau mau, tentu saja pekerjaan itu bisa diwakilkan kepada pembantu rumah tangga. Tetapi itu tidak dilakukan. Karena Fatimah Az-Zahrah sangat ingin keluarganya, suami, dan anak-anaknya makan dari olahan tangannya sendiri.  Kriteria selanjutnya adalah yang paling menyayangi anak-anaknya. Kata “paling” menunjukkan bahwa tidak ada prioritas seorang wanita yang telah berkeluarga dan dikaruniai anak melainkan mendidik mereka dengan sepenuh hati. Sebab, generasi yang kuat lahir dari kedekatan hubungan emosional anak dengan sang ibu kala bayi, anak-anak, hingga belia, dan dewasa.

Tetapi kita bisa saksikan saat ini betapa banyak ibu yang menitipkan buah hatinya ke berbagai macam bentuk penitipan. Ia bahkan tak sempat menemani anaknya sepanjang matahari bersinar. Beragam alasan mengemuka dan semua terasa rasional, benar, dan harus. Kala memandang kebutuhan akan finansial dan masa tua. Sebab ibu yang benar-benar memprioritaskan anak tak mungkin sempat menceritakan apapun ke dalam media sosial. Melainkan memang hal-hal yang layak dan penting diketahui publik, berupa sikap menghadapi bayi yang rewel, anak yang mulai kritis dalam bertanya, hingga yang sedang tumbuh remaja, sehingga pola pengasuhan yang dilakukan menjadi inspirasi bagi ibu-ibu, dan lainnya. Terakhir, menjaga harta dan kehormatan suami 

Ath Thobari menjelaskan, “Wanita tersebut menjaga dirinya ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kemaluan dan harta suami. Di samping itu, ia wajib menjaga hak Allah dan hak selain itu.”

Dengan demikian, teranglah kriteria wanita hebat di dalam Islam. Ia tidak perlu menjadi seolah seorang selebriti untuk mendapatkan kehormatan, apalagi sampai mengumbar hal-hal yang tidak perlu ke publik melalui media sosial. Jika hal ini dipahami dengan baik oleh seluruh Muslimah, insyaallah ke depan generasi Islam akan menjadi generasi tangguh dan unggul, insyaallah.* Imam Nawawi

Akhirnya, dengan keterbatasan ilmu dan kata, penulis merasa bahwa apa yang dipaparkan dalam tulisan ini masih jauh dari sempurna. Namun mudah-mudahan paling tidak dapat sedikit menjawab keragu-raguan yang mungkin hinggap pada benak sebagian kaum muslimin tentang pandangan Islam terhadap wanita, disebabkan karena merebaknya opini keliru yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak menginginkan syariat Islam tegak menopang sendi-sendi kehidupan umat manusia. 

Biodata penulis

  • Nama : Aulina madhani
  • Jurusan : Ilmu Kesehatan Masyarakat
  • Fakultas :  Kesehatan Masyarakat, semester II
  • Instagram  :  @aulinamadhani_

- Advertisement -

Share article

Latest articles