Relawan Mengajar; Lelahku Lillah-Mu

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Dok. Panitia
- Advertisement - jd

Penulis: Shofiatul Husna Lubis

Pada 30 April kemarin, Langit terlihat lebih sendu, awan hitam bergulung dari arah berlawanan, membentuk bentangan kapas raksasa kelabu yang menjatuhkan ribuan tangisan langit. Pagi itu, sekitar pukul sembilan pagi aku dan mereka yang kerap ku sapa relawan muda tengah bersiap-siap untuk melaksanakan program perdana kami yaitu relawan mengajar dengan membawakan dua materi mengenai lingkungan dan penggunaan gawai di keempat sekolah daerah pelosok Tanjung Morawa.

Gemercik hujan masih membasahi bumi, aku dan mereka segera menaiki sebuah mobil yang terdiri dari 12 orang yang masing-masing akan dibagi menjadi tiga orang dalam satu sekolah. Perjalan kali ini cukup melelahkan fisik, pasalnya kami harus rela berhimpit-himpit dan bersedia membagi tempat duduk dengan lainnya dengan posisi tubuh yang tidak biasa.

Di sepanjang perjalanan, aku merasa seperti berada di daerah pegunuangan, aku tidak menduga bahwa daerah Tanjung Morawa masih terdapat pepohonan yang menjulang tinggi, dengan rumah penduduk yang berjarak cukup jauh.

Tidak hanya itu, hampir disepanjang perjalanan aku juga melihat 99 Asmaul Husna berderet di pinggiran jalan dengan plang-plang besi yang dipasang menyejukkan pandangan kami. Tidak ku sangka, daerah yang biasa ku lewati saat hendak pulang menuju kampung halamanku, ternyata terdapat pemandangan yang cukup indah mengiringi perjalanan mulia kami.

Setelah lebih dari satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di salah satu sekolah yang bertuliskan MIS Ittihadiyah Desa Bandar Labuhan Dusun V. Tiga orang dari kami akhirnya turun, kemudian kami melanjutkan perjalanan utk mengantarkan yang lain menuju sekolah yang telah ditentukan.

Berikutnya kami sampai di sebuah sekolah bernama MIS Ar-Rasyid Jalan Besar Tadukan Raya Kampung Undian. Hingga sampailah aku dan kedua rekanku di Yayasan Pendidikan Al-Hizra Alwashliyah yang berada lebih jauh dari ketiga sekolah yang lebih dahulu kami lewati pada pukul sebelas siang.

Ketika kami menginjakkan kaki di depan sekolah tersebut, terlihat siswa-siswi keluar melewati gerbang, terlintas dalam benak bahwa itu adalah saat mereka beristirahat. Segera kami masuk dan mencari ruang kantor. Namun, aku dan kedua rekanku tidak melihat seorang pun dalam ruangan itu.

Akhirnya kami melihat seorang wanita berbusana batik yang dipastikan adalah salah seorang guru tengah berjalan di koridor sekolah, kami beranikan diri untuk bertanya sedikit mengenai keadaan bangunan sekolah dan guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut.

Mendengar penuturan wanita yang kerap dipanggi Ibu Puan itu, ternyata yang lebih banyak menjadi guru merupakan kelahiran tahun 1992-1997, masih dikategorikan muda. Bu Puan juga berkata bahwa seluruh siswa telah lebih dahulu pulang dikarenakan esok akan ada kegiatan jalan santai. Bu Puan merupakan guru yang sudah lama mengajar di sana.

Setelah kami bertanya sedikit kepada wanita itu, kami kembali mengamati ruang kepala sekolah. Ternyata ia telah duduk di kursi dengan memainkan gawainya. Sedikit ia bercerita tentang sekolah yang kini ia kelola, tenyata sekolah itu pernah ditutup dikarenakan minimnya jumlah siswa. Sekolah yang diwarisi oleh kedua orang tuanya mulanya hanya terdiri dari tujuh orang siswa, kemudian perlahan berkurang hingga akhirnya ditutup. Namun, ia kembali membuka sekolah itu pada tahun 2008 dan berkembang hingga saat ini.

Kuamati dinding sekolah yang berwarna merah muda dengan perpaduan hijau menempel di sana. Aku sedikit merasa kecewa sebab tidak dapat bertemu dengan siswa di sana, apalagi untuk menyampaikan sedikit materi yang telah lebih dahulu kami persiapkan. Namun, meskipn kecewa, kami masih bisa menerima data-data terkait siswa dan guru yang mengajar dari kepala sekolah.

Setelah kami rasa cukup, akhirnya kami menyalami mereka satu demi satu kemudian foto bersama. Selang beberapa menit kami dijemput oleh mobil kemudian menjemput kembali teman-teman yang lain.

Setengah di perjalanan, aku melihat tempat pembuangan sampah berada di tempat itu yang kuangap masih asri. Ini adalah pengalaman pertamaku menjadi Relawan Mengajar di daerah yang ku sangka berada di kota. Dibalik jalan yang selalu ku lewati ternyata menyimpan banyak hal yang tidak ku ketahui, terlebih lagi dengan suasananya yang hampir menyerupai daerah pegunugan yang biasa kami kunjungi.

Meski lelah dengan menyimpan rasa kecewa, namun akhirnya aku tahu bahwa inilah yang disebut relawan, harus siap di tempatkan di mana pun dengan kondisi apapun. Semoga lelahku lillah-Mu.

Editor: Rindiani

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles