Saatnya Rakyat dan Pejabat Bermufakat

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Ditanti Chica Novri
- Advertisement - jd

Penulis: Mulia Wilandra Harahap

Indonesia, adalah sebuah negara yang dimerdekakan dengan tumpahan darah, air mata, harta bahkan semuanya. Indonesia adalah perjuangan, buah penderitaan yang menjadi harta bagi seluruh rakyatnya untuk diwariskan seterusnya dan selamanya. Pernyataan di atas adalah sebuah pengantar yang diharapkan mampu menyadarkan kita, seluruh manusia yang tangisan pertamanya diperdengarkan di negara ini, yang mengaku mencintai negara ini dan berjanji akan tetap setia pada negara hingga akhir kehidupan nanti. Tapi bukankah jika cinta yang menjadi dasar kesetiaan, maka akan ada keinginan untuk saling menjaga. Atau paling tidak kekhawatiran bahwa negeri ini akan rusak di tangan orang-orang tak bijak.

Mengapa demikian? Mari kita sederhanakan. Penulis sedang berusaha mengarahkan pembaca untuk menganalisis keadaan negeri ini kini. Tentang apa yang salah hingga membiasakan tangan-tangan yang salah mengurus negeri ini dengan cara yang salah juga. Kegaduhan yang terjadi belakangan ini, isu perpecahan, keamanan dan kedaulatan hingga banjir yang terlalu nyaman di ibu kota adalah beberapa problem yang mestinya dipikirkan bersama-sama solusinya. Melalui lini media sosial, masyarakat mulai menjadi vokal terhadap beberapa permasalahan yang tengah dihadapi bangsa.

Namun lagi dan lagi, ini juga menjadi masalah yang baru bagi kehidupan sosial masyarakat. Bagaimana tidak, jika masyarakat lebih aktif menghujat, lebih vokal mencaci, bukankah harusnya semua diselesaikan melalui diskusi yang rapih? Media massa dan media informasi seolah kehilangan jati diri, informasi yang senantiasa di perbaharui dan menjadi konsumsi justru dijadikan bahan untuk saling serang antar kubu. Negeri ini makin rumit saja, cebong dan kampret tidak benar-benar hilang dari iklim politik kita, malah mungkin sudah menjadi bagian di dalamnya.

Mestinya istana membuka lowongan, “Dicari, pejabat yang kerjanya cukup mengurus negara. Jangan ikut-ikutan jadi elite politik, siapapun boleh melamar asal bijak lisannya, jujur hatinya sebab asal sudah jujur saja tak akan dipanggil KPK”.

Negara ini membutuhkan pejabat-pejabat yang serius kerja dan tidak memprovokasi rakyat, jika sudah tahu di bawah sedang sensitif dan panas jangan malah lagi disiram dengan narasi yang justru memperbesar api perlawanan. Jika semua sistem berjalan dengan seadil-adilnya maka tidak mungkin ada gerakan perlawanan, tapi jangan berharap kritik turut bungkam. Pemerintah yang anti kritik akan mudah dideteksi sebagai pemerintahan tangan besi.

Maksudnya begini, jika rakyat di bawah belum mampu dengan baik menelaah sebuah isu dan berujung pada saling serang antar kubu, mestinya ini diperbaiki. Tapi jika genderang provokasi itu justru ditabuh oleh mereka yang berseragam, maka rakyat yang tidak paham tentang arti tabayyun bisa apa? Dan jika itu terjadi, dimana mahasiswa?

Editor : Ade Suryanti

- Advertisement - DOP

Share article

Latest articles