Sahabatku Ternyata Bukan Manusia

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator : Syifa Zanjabila
- Advertisement - jd

Penulis : Siti Aisa

Dengan posisi badan yang mengarah ke luasnya lautan sembari menikmati sunset di bibir pantai sembari duduk dengan hanya beralaskan bebatuan yang tersusun rapi, ditambah ombak kecil lautan yang menghampiri kakiku. Hal ini sudah biasa aku lakukan setiap menjelang sore jika tidak ada urusan yang terlalu penting. Namun, kali ini aku menikmatinya dengan perasaan yang berbeda mungkin karena mengingat kembali masa-masa SMK dan sahabat terbaik ku Kaira.

Mila Susila Wati itulah namaku, tapi orang-orang biasa memanggilku dengan sebutan Sila begitu juga dengan Kaira. Kami bersahabat sudah tiga tahun lamanya sejak duduk di bangku kelas satu SMK 2 Talawi, dialah satu-satunya sahabatku yang paling mengerti dan selalu ada di saat suka maupun duka. Kami selalu menghabiskan waktu bersama baik saat belajar,mengerjakan PR, istirahat, bahkan kegiatan ekstrakurikuler sekalipun.

Saat pulang sekolah, kami tidak langsung pulang melainkan makan dulu di warung bakso langganan kami tepatnya di depan sekolah, selain rasanya yang enak, harganya juga terjangkau di kantong para pelajar seperti kami ini.

Baca juga: Catatan Hati Anak Pertama

Namun saat-saat seperti itu telah berlalu selama dua tahun, kini aku melanjutkan kuliah. Aku tidak tahu bagaimana keadaan Kaira sekarang, sejak kami lulus sekolah dan setelah kejadian itu, aku dan Kaira tidak pernah bertemu lagi. Terkadang, terbesit dipikiranku untuk menemuinya lagi, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya meski ibuku juga melarangku untuk menemuinya.

Suara azan magrib berkumandang terdengar sayup-sayup di telingaku, saat itu aku memutuskan untuk beranjak pergi meninggalkan tempat itu meski sebenarnya aku masih ingin berlama-lama sekadar mengingat-ingat masa-masa ku bersama dengan Kaira meski sekarang alam kami jauh berbeda. Namun aku harus melakukan kewajibanku sebagai umat Muslim untuk melaksanakan salat dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah yang Maha Kuasa.

“Baru pulang, dari mana saja kamu Sila?” ibu menyapa setelah aku memasuki ruang tamu ketika hendak menuju kamar.

“Iya bu, Sila habis dari pantai bu,” jawabku singkat.

“Yasudah, pergilah kamu salat nak, nanti setelah kamu salat dan mengaji langsung ke meja makan ya kita makan malam bersama” ketus ibu masih memakai mukenanya

“Iya bu” jawabku singkat dan langsung menuju kamar.

Baca juga: Karena Kertas Aku Bertahan

***

Ruangan dengan ukuran 4×4 m bernuansa Doraemon cukup nyaman untuk ditempati seorang anak perempuan sepertiku, dengan tiga pintu lemari baju yang terdapat disampingnya dan lemari hias yang berukuran sedang. Di atas kasur yang empuk aku mengistirahatkan tubuhku, setelah seharian beraktivitas di luar rumah dengan berbaring melihat langit-langit kamar berwarna putih, mengingat-ingat wajah yang selama ini kusebut-sebut sahabat itu, ya siapa lagi kalau bukan Kaira.

Kami bersahabat layaknya orang-orang di luar sana yang melakukan berbagai aktivitas bersama di sekolah, tidak ada yang berbeda dan mencurigakan sama sekali. Ujian akhir sekolah baru saja selesai kami laksanakan, dengan hati yang sangat lega karena dapat menyelesaikan soal-soal dengan penuh keyakinan. Aku dan Kaira tidak ujian di kelas yang sama, ruang kelas kami bersebelahan, tapi itu tidak menjadi masalah, hanya saat ujian saja kami berpisah selanjutnya kami melakukan segala sesuatu bersama.

Baca juga: Kita Berbeda

Saat itu, pukul sudah menunjukkan jam 12:00 tepat, Kaira atau yang biasa kupanggil Ira, ingin mengajakku main ke rumahnya. Memang selama ini aku tidak pernah main ke rumahnya apalagi bertemu dengan orang tuanya, Ira tak pernah mengajakku. Saat aku menawarkan diri untuk ke rumahnya ia selalu menolak, entah kenapa alasannya aku pun tidak tahu, dia hanya bilang belum saatnya.

“Naik apa kita kesana Ra”? tanyaku dengan penasaran.

“Itu urusan gampang Sila, nanti ada yang jemput kok” terang Ira dengan santai.

“Baiklah” aku hanya menurut.

Sekedar pemberitahuan, sekolah kami tidak memperbolehkan murid-muridnya untuk melakukan aktivitas rutin setiap tahunnya seperti sekolah-sekolah lain yang memperbolehkan peraturan untuk mencoret-coret baju sekolah, karena kata kepala sekolah, sayang bajunya jika dicoret-coret tidak bisa digunakan lagi, lebih baik diberikan kepada yang lebih membutuhkan.

Baca juga: Sebatas Sahabat, Tak Akan Lewat

Dengan masih berpakaian seragam sekolah, kami langsung menuju rumah Ira, “Tidak apa ya kalau tidak memberi tahu ibumu dulu, kan ini hanya sebentar” kata Ira. Anehnya Ira bukan malah mencari angkot atau becak untuk transpotasi tapi memegang lenganku dan berjalan kaki menuju sebuah rumah tidak jauh dari sekolah.

Saat tepat di depan rumah dengan ukuran 7×12 m  dengan warna merah tua itu rasa penasaranku kian memuncak dan aku langsung bertanya.

“Apakah ini rumah Ira? Kok dekat sekali? Jika memang ini, kenapa selama ini dia menolak tawaranku untuk kerumahnya?” tanyaku dalam hati.

“Ini rumah kamu Ira?” tanyaku dengan mengerutkan wajah.

“Bukan” jawab Ira singkat.

Aku hanya memberi respon “oh”

Kami tidak berhenti sampai dirumah itu saja, Ira masih membawaku menuju ke belakang rumah itu.

Baca juga: Syukurku Membawa Bahagia

“Oh mungkin, rumah Ira berada di balik rumah warna merah tua tadi” pikirku lagi.

Sesampainya kami di belakang rumah, aneh, tidak ada tanda-tanda ada rumah di tempat itu. Hanya ada semak belukar dengan sebuah pohon yang tumbang dan mengering, jalan setapak pun tidak terlihat sama sekali, benar-benar sunyi dan mengerikan meski matahari tepat di atas kepala kami.

Dengan wajah terheran-heran dan berbagai macam pertanyaan muncul dibenakku, tapi aku memutuskan untuk tetap diam menunggu arahan dari Ira. Aku percaya Ira adalah sahabatku yang paling baik, selama tiga tahun dia benar-benar baik tidak pernah menyakiti hatiku dan sangat menjaga perasaanku, saat aku sedih ia selalu disampingku apalagi saat senang, jadi sangat tidak mungkin jika Ira melakukan hal-hal aneh atau yang bias merugikan diriku sendiri.

“Kamu sudah siap Sila?” Ira bertanya padaku seolah-olah aku ingin bertemu dengan calon mertua untuk pertama kalinya.

“Ya dong, sangat siap” tegasku dengan sangat percaya diri.

“Tapi kamu harus janji dulu samaku dan jangan pernah melanggar apapun yang aku perintahkan nanti ya?” pinta Ira.

Baca juga: Waktumu, Kau Habiskan Ke mana?

“Iya, aku janji Ira ku sayang” jawabku dengan senyum lebar tak sabar ingin bertemu dengan orang tua Ira, meski dalam benakku apa maksud dari pinta Ira ini? Aku tak mengerti.

“Baiklah, kalau begitu, kau memang sahabat yang penurut” canda Ira ingin menggodaku yang kian penasaran dengan sedikit mencubit pipi kiriku.

“Ayolah apa itu syaratnya? Aku sudah tidak sabar Ira” pintaku seperti anak kecil yang ingin dibelikan gulali.

“Iya-iya, dengarkan baik-baik ya Sila dan jangan lupakan ataupun acuhkan perkataan ku ini” perintah Ira.

Aku hanya menjawab dengan menganggukan dua kali kepalaku tanda mengerti.

“Nanti jika kita sudah sampai di kampungku atau di rumahku dan bertemu dengan kedua orangtuaku, kamu tidak boleh makan dan minum apapun yang ditawarkan oleh orang tuaku bahkan orang lain, baik tetangga, supir yang menjemput kita nanti, kamu harus menolaknya atau membuangnya saja tanpa sepengetahuan mereka, meski kamu merasa sangat lapar dan haus, kamu harus menahan itu semua, kamu mengerti Sila? Tanya Ira kepadaku yang wajahnya terlihat bingung.

Baca juga: Ekstrovert

“Tapi kenapa Ira?” tanyaku sangat penasaran.

“Ada saatnya kamu nanti tahu Sila, tapi tidak sekarang” jelas Ira dengan singkat.

“Jika aku tidak boleh makan dan minum apapun, kenapa tidak aku bawa saja makanku sendiri? Karena aku takut kalau kelaparan dan kehausan disana nanti” pintaku dengan wajah memelas berharap Ira mengiyakan permintaanku.

“Itu juga tidak boleh Sila, inilah salah satu alasanku untuk tidak mengizinkan kamu bertemu dengan keluargaku, ini semua aku lakukan karena kamu sahabatku Sila.”

“Baiklah, aku mengerti dan akan selalu mengingat pesanmu itu Ra, kita kan hanya sebentar saja di rumahmu,” jawabku santai. Meski dalam keadaan bingung dengan syarat yang diajukan Ira kepadaku bercampur dengan perasaan takut apa maksud semua ini, namun aku menghilangkan perasaan takut itu jauh-jauh karena aku percaya kepada Ira sahabatku.

“Baiklah kita berangkat sekarang Sila” ucap Ira dengan tegas dan masih memegang lengan ku seperti orang yang baru pacaran saja.

***

Bersambung………

Editor : Yaumi Sa’idah

- Advertisement - DOP

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles