Sebut Cina Alih-Alih Tionghoa

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Dok. Pribadi
- Advertisement - jd

Penulis: Ade Suryanti

Halo rakyat Indonesia! Apa yang tebersit di benak kalian jika mendengar sebutan tentang orang Cina? Barangkali, di bumi Indonesia, Cina merupakan salah satu etnis yang paling sering dipandang negatif oleh banyak pihak. Lantas, bagaimana dengan sebutan orang Cina yang bertempat tinggal di Medan atau yang kerap disapa dengan sebutan Cina Medan? Menurut Effendi Setiawan dalam bukunya yang berjudul “Tionghoa Medan”, menyampaikan bahwa satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah: tidak semua Tionghoa Medan itu jahat dan licik. Tidak semua Tionghoa Medan itu baik dan jujur, dalam hal ini ia menyampaikan kata Cina dengan sebutan Tionghoa.

Dalam beberapa perbandingan, etnis Tionghoa serasa dianaktirikan oleh orang pribumi. Mengapa saya katakan demikian? Karena, di Indonesia sendiri sangat banyak etnis pendatang yang menetap di Indonesia selama puluhan tahun. Contohnya saja etnis India yang ada di daerah Kampung Madras atau yang lebih sering kita dengar dengan sebutan Kampung Keling. Meski lama-kelamaan  etnis India yang tinggal di sana semakin sedikit akibat keadaan ekonomi yang pelik. Namun, seakan tidak ada sekat di antara dua kelompok.

Pada umumnya etnis Tionghoa tidak keberatan jika orang-orang menyebut mereka dengan sebutan Cina ketimbang Tionghoa namun, jika mereka bisa menyeleksi, maka Tionghoa adalah sebutan yang akan dipilih. Leo Suryadinata dalam bukunya “Negara dan Etnis Tionghoa Kasus Indonesia”, mengutip pernyataan penulis barat yakni JW Van der Kroef dan Mary Somers Heidhues, mengatakan bahwa sejak zaman colonial Belanda istilah Cina memang mengandung arti yang merendahkan. Itulah mengapa sebagian etnis Tionghoa Medan merasa tersinggung jika mereka dipanggil dengan sebutan Cina.

Tetapi, tahukah Anda? Ada sebutan yang diberikan oleh etnis Tionghoa Medan kepada etnis-etnis lain di luar kaum mereka, yakni Huan Na. Huan Na terdiri dari dua suku kata yaitu huan dan na. Na adalah bahasa Hokkian yang menunjuk pada orang. Sedangkan huan adalah bahasa Mandarin yang berarti “orang pedalaman”. Selama puluhan tahun istilah ini melekat di bibir etnis Tionghoa namun, banyak dari mereka yang asal sebut tanpa tahu makna yang tersirat di dalamnya. Sebagian orang lagi hanya menganggap istilah ini sebagai panggilan biasa yang berarti pribumi atau penduduk asli. Tersinggungkah kita Indonesia?

Sebagai orang awam, kerap kali sebutan Cina adalah hal yang lumrah disebut di mana saja. Bahkan, dalam berbagai urusan dan pandangan yang bersangkutan tentang etnis ini, tidak sedikit yang bertanya mengapa harus ada etnis Tionghoa di Indonesia. Betapa miris pengetahuan yang kita miliki akan etnis yang ada di Indonesia terkhusus Kota Medan. Syukurlah, Effendi Setiawan mau membagi ilmu yang dimiliki dengan menulis sebuah buku berjudul “Tionghoa Medan”. Buku yang bercerita tentang keadaan hari ini, prediksi tentang hari depan, sekaligus harapan-harapan yang beliau impikan.

Menyikapi hal ini, penulis mengajak para pembaca untuk ambil alih dalam bersosialisasi antar etnis. Mari kita kesampingkan ego untuk memahami apa yang tidak kita ketahui. Artikel ini bukan bermaksud membela pihak manapun, melainkan bertujuan untuk mengubah pola pikir kita agar memahami apa yang mereka rasakan, entah itu diterima baik atau tidak, penulis kembalikan pada Tuhan.

 

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles