
Penulis: Iin Prasetyo
Suasana setelah hujan deras, langit masih sedikit mendung dan rinai masih membasahi bumi, para kodok tengah merayakan rasa syukurnya dengan mengucapkan โqof… qof… qof…โ. Diartikan oleh manusia apa yang diucapkan kodok itu adalah huruf Qof yang merupakan salah satu huruf dari bahasa Arab (Hijayah). Kodok tengah mengingat Tuhannya (berzikir) dengan caranya bersuara seperti itu.
Benarlah, ketika kajian para alim ulama membahasakan bahwa makhluk-makhluk yang ada di semesta ini berzikir kepada Tuhannya. Masing-masing mahkluk ini bertakwa dengan caranya sendiri. Dan, apa-apa yang diciptakan Tuhan di semesta ini dan diberikan-Nya kehidupan hanya atas dasar takwa kepada-Nya, termasuk manusia di dalamnya. Maka, manusia dan makhluk lain sama-sama ditugaskan Tuhan dalam hal ketakwaan โ terlebih, manusia diberi tugas khusus sebagai pemimpin di bumi.
Sebenarnya apa yang membedakan manusia dengan makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan? Jika jawabannya adalah โnaluriโ, memangnya hewan dan tumbuhan tidak memiliki naluri? Bayangkan ada parit selebar satu meter dan tidak ada titi untuk menyeberanginya. Ada seorang manusia yang hendak melewati parit itu dengan motornya; ada juga seekor kucing; dan tumbuhan merambat. Dalam keperluan yang sama yakni melewati parit itu untuk melanjutkan perjalanan apa yang akan dilakukan ketiga makhluk tersebut?
Maka, manusia akan membuat titi untuk dapat menyeberangi parit bersama motornya; kucing akan melompati parit; dan tumbuhan bisa saja merambati sesemakan yang ada di parit dan lambat laun parit itu disemaki tumbuhan merambat sampai ke seberang parit. Sederhananya seperti itu. Dan berarti ketiganya punya naluri, bukan? Burung bisa membuat rumahnya sendiri dan harimau pasti menyayangi keturunannya sama seperti manusia.
Hidup adalah takwa. Bagi manusia, ketakwaan dipelajari sebagai proses agar kehidupannya terarah โ ketakwaan itu diimplementasikan dalam bentuk ibadah. Oleh karena itu, untuk takwa manusia harus belajar terlebih dahulu agar memiliki ilmu. Akan tetapi dari proses belajar tidak menjadikan hidup manusia itu hanya untuk belajar. Manusia harus memiliki tekad untuk bermanfaat bagi sesamanya dari proses belajarnya sendiri sehingga pada akhirnya makna hidup yang merupakan takwa adalah tujuan dan kewajiban hidup manusia sebagai hamba Tuhan akan ia penuhi. Lagi, benarlah penyampaian alim ulama yang berangkat dari hadis bahwa, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.
Naluri atau insting adalah dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir. Perbuatan yang berangkat dari naluri adalah perbuatan secara alamiah tanpa atas dasar kesadaran atau pikir panjang. Dan semua makhluk memilikinya. Berbeda dengan akal atau inteligensi yang merupakan daya pikir melihat atau memahami lingkungan secara luas. Maka, jika manusia akan membuat titi yang tidak hanya bisa sekali pakai sebatas ia dan motornya menyeberangi parit itu melainkan bagaimana ia akan membuat titi yang kuat agar manusia yang lain dapat memanfaatkannya sebagai jalur perlintasan.
Keistimewaan manusia salah satunya adalah memiliki kecerdasan spiritual, bahkan spiritual bagi manusia menjadi sebuah kebutuhan jiwa yang menjadi kekuatannya dalam menjalani kehidupannya. โManusia adalah makhluk spiritual yang berevolusi dan selalu merenungkan tentang awal eksistensi dirinya. Who am I? Why am I created? Pencerahan spiritual akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini selaras dengan asa menuju spiritual person,โ tulis R. Bambang Sutikno dalam buku Sukses Bahagia dan Mulia dengan 5 Mutiara Kecerdasan Spiritual halaman 7, Gramedia: 2014.
Dalam asa menuju spiritual person, manusia biasanya menemukan situasi atau berbagai faktor yang menjadi tantangan. โMisalnya, lingkungan sosial yang amburadul, terisolasi dari masyarakat dan keluarga, menjanda atau menduda, pensiun tak terduga, menganggur, diremehkan di lingkungan kerja, peristiwa kehidupan penuh stres, atau hari tua yang kesepian. Semua ketidakberuntungan mungkin akan menjatuhkan harga diri, mengurangi rasa percaya diri, dan menggoyahkan keyakinan terhadap kasih sayang Tuhan,โ tulis Bambang masih pada halaman yang sama. Tentu dalam situasi tersebut manusia membutuhkan dirinya untuk meresapi spiritualitas. Jika manusia kekurangan spiritualitas yang menjadi kebutuhannya, ia akan lupa dengan tujuan hidupnya dan jauh dengan Tuhannya.
Kuda berharga karena tenaganya, kalau manusia berharga karena tenaga dan gagasannya. Manusia memiliki naluri dan akal untuk melihat dan menilai baik-buruk. Dan berbuat baik atau buruk pula tergantung tujuannya dalam hidup selain bertakwa kepada Tuhan. Jika perbuatannya buruk maka ia tidak hidup dalam tugas dan tujuan utamanya. Jika perbuatannya baik memang seperti itulah semestinya.
Memangnya, ada manusia mau disamakan dengan hewan? Apa beda manusia dengan hewan? Setelah uraian di atas ada satu lagi bahwa manusia itu memang berbeda dengan hewan. Manusia bisa berbicara bahwa ia tidak sudi menyamakan dirinya dengan hewan. โManusia itu jauh lebih sempurna dari hewan dan makhluk Tuhan lainnyaโ. Begitu rata-rata kata manusia ketika ia disamakan dengan hewan.
Editor : Amelia Pratiwi

