Belajar Toleransi di Lingkungan Heterogen

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Putry Ayu

Penulis: Audry Uyuni

Hingga tahun 2020, moderasi beragama dan perdamaian (peace building) masih menjadi agenda serta fokus utama pemerintah terkhusus jajaran Kementerian Agama (Kemenag). Hal ini terbukti penguatan nilai toleransi sangat ditekankan oleh instansi-instansi yang terkait  dalam program pemberdayaan masyarakat seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Sebab, Indonesia memang negara yang multikultural dengan beragam “Bhineka Tunggal Ika” sebagai pondasi pemersatu bangsa. Untuk itu penting sekali proses menghargai perbedaan baik suku, bangsa, ras, ataupun agama. Kini pula kita tengah menghadapi derasnya arus radikalisme yang dalam jangka panjang bisa saja merusak keutuhan negara.

Mengulas kilas balik, pada Januari hingga Februari lalu saya terplilih menjadi representasi UIN SU untuk mengikuti program KKN Nusantara 3T dengan mengusung tema moderasi beragama yang ditempatkan di wilayah dengan indeks kerukunan umat beragama (KUB) tertinggi kedua se-Indonesia yakni Nusa Tenggara Timur. Peserta terdiri dari mahasiswa pilihan masing-masing PTKIN se-Indonesia dengan background yang berbeda namun memiliki visi misi yang sama yakni menjadi aktor-aktor pluralis dan menebar kearifan lokal.

Awalnya sempat khawatir harus menjadi pendamping masyarakat selama kurun waktu sebulan lebih di daerah terpelosok, belum lagi mayoritas keyakinan yang dianut berbeda dengan keyakinan kami. Di sinilah proses ujian menjadi manusia moderat itu seperti apa dan defenisi moderasi beragama itu bagaimana, nyatanya belajar toleransi di lingkungan heterogen jauh lebih aplikatif daripada lingkungan homogen. Di sini juga kami belajar toleransi dalam tataran praktik bukan hanya sekadar teori.

Desa tempat kami tinggal hanya terdapat lima Kepala Keluarga (KK) yang beragama serupa dengan kami yakni Islam, ya sangat minoritas bukan. Penganut agama kristiani yang paling mendominasi di sana. Awal kami menginjakkan kaki di rumah orangtua angkat, Pak Ateng sapaan akrabnya, beliau bernotabene sebagai Kepala Dusun II di desa tersebut yang sambutannya membuat hati ini terenyuh.

Betapa tidak, peliharaan babinya yang biasa berkeliaran, tanpa sepengetahuan kami tiba-tiba sudah dijual saja. Rupanya beliau bermaksud agar selama aktivitas kami di rumahnya tidak terganggu karena adanya babi yang bagi orang Islam itu adalah binatang yang dilarang. Beliau sangat menghargai kami sebagai mahasiswa muslim. Itu adalah bentuk toleransi yang memberikan efek luar biasa bagi kami terutama. Selain itu, perlakuan yang kami terima ternyata menepis kekhawatiran saya selama ini, kami aman berada di sana, untuk peralatan dapur saja mereka sangat paham untuk dibedakan.

Indah sekali bukan bersaudara tanpa sekat agama. Untuk apa menebar intoleransi yang justru mengundang perpecahan dan kebencian, kita butuh sikap saling tidak jumud. Sejatinya ber-Indonesia itu beragama, tidak mendiskreditkan apapun, sebab agama itu mengajarkan kita untuk cinta Tanah Air.

Editor: Amelia Pratiwi

- Advertisement -

Share article

Latest articles