
Penulis: Juwita Sima
Sebagai makhluk sosial tentu kita tidak terlepas dari pergaulan di dalam kehidupan. Setiap pergaulan perlu disisipkan kepedulian sebagai bentuk bahwa manusia memiliki rasa kemanusiaan, seperti memanusiakan manusia. Namun, sebelum kita terlalu jauh membahas tentang memanusiakan manusia, ada yang perlu kita ketahui terlebih dahulu, yaitu bagaimana cara memanusiakan diri kita sendiri.
Sering kita lihat, beberapa orang yang memanusiakan manusia lainnya tapi lupa dengan dirinya. Pada hakikatnya ada beberapa hal yang membuat kita melupakan diri, di antaranya ialah berpikir negatif, merasa tidak pantas, kecemasan yang berlebihan, tidak optimistis, terlalu peduli terhadap orang lain, dan sebagainya. Ini bisa berasal dari diri kita sendiri dan juga orang lain. Orang lain bisa menjadi faktor terbesar beberapa orang tidak memanusiakan dirinya sendiri.
Seperti body shaming, perilaku yang akhir-akhir ini sering terjadi menjadi beban dan tekanan bagi orang yang bersangkutan sehingga dapat membuatnya minder, tidak menghargai dirinya dan bahkan ada yang sampai bunuh diri. Selain itu, perkataan yang terkadang biasa saja menurut kita bisa sangat berdampak buruk bagi beberapa orang, hal-hal semacam inilah yang membuat sebagian dari kita menjadi manusia yang tidak memanusiakan dirinya sendiri.
Membahas tentang kalimat ‘terlalu peduli terhadap orang lain’, bukan berarti kita tidak boleh peduli, bahkan kita sangat dianjurkan untuk peduli terhadap orang lain sebagai bukti bahwa kita memanusiakan manusia. Namun, ada baiknya dilihat ke belakang dan dipikirkan kembali jika kepedulian yang berlebihan terhadap orang lain berdampak negatif pada diri kita.
Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui bersama agar senantiasa memanusiakan diri sendiri, di antaranya ialah sebagai berikut:
Berpikir Positif
Berpikir positif adahal hal yang paling utama menjadikan seseorang memanusiakan dirinya sendiri. Ketika pikiran negatif tergantikan oleh pikiran positif semua hal dalam diri kita akan terlihat sangat baik, dengan begitu tidak ada alasan untuk kita melupakan diri sendiri.
Mencintai Kepribadian
Selain berpikir positif, mencintai kepribadian juga menjadi fokus terbaik. Dengan melihat dan mencintai kepribadian membuat kita tidak lagi minder. Cara ini juga dianjurkan oleh para psikolog agar perkembangan dan pertumbuhan berjalan secara stabil. Tentunya akan berpengaruh besar bagi perkembangan mental seseorang.
Mendekatkan Diri pada Tuhan
Untuk melengkapi dua cara di atas, yang perlu diterapkan ialah mendekatkan diri pada Tuhan, dengan memahami ajaran menurut agamanya masing-masing, serta belajar spiritual. Dengan cara ini, kita akan menyadari bahwa setiap manusia sesungguhnya sudah diberikan fitrahnya masing-masing, setiap manusia patut dicintai dan dihargai tidak ada satu pun yang membedakan baik itu jenis, suku, agama, maupun ras. Baik itu sifat, sikap dan fisik. Dan memahami bahwa hanya Tuhan yang bisa memberikan penilaian terhadap setiap manusia.
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia” (Q.S. Sad: 27).
Mungkin dari beberapa cara di atas, bisa kita terapkan pada diri kita masing-masing agar senantiasa bisa menghargai dan mencintai diri sendiri begitupun orang lain. Namun, bukan berarti kita menjadi pribadi yang egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Kita istimewa bukan di mata semua orang, mungkin di mata dan di hati beberapa orang yang tidak kita ketahui. Atau mungkin memang tidak ada istimewanya sama sekali di mata manusia, tapi siapa tahu kita begitu istimewa di mata Tuhan. Lantas alasan apalagi yang membuat kita meninggalkan diri yang sudah lama tidak berpenghuni?
Dan berhentilah untuk mencari-cari kesalahan orang lain dan melontarkan kata-kata yang membuat manusia lainnya tidak menghargai dirinya sendiri. Lihat diri kita, kita istimewa di mata banyak orang, tapi bukankah istimewa di mata Tuhan adalah istimewa yang sangat luar biasa dibanding manusia? Mari manusiakan diri dan manusiakan manusia lainya.

