Jangan Latah pada Diskon

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Dok. Pribadi

Penulis: Nurhalimah Syafira

Ketika Covid-19 menyebar di Indonesia, pemerintah pun mulai menerapkan kebijakan pembatasan sosial yang mengharuskan orang-orang untuk menghindari keramaian sejak pertengahan bulan Maret lalu. Presiden Jokowi mengimbau bahwa segala aktivitas dilakukan dari rumah saja. “Saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah,” kata Jokowi dalam konferensi pers di Istana Bogor, Minggu (15/3).

Akibat dari pandemi ini beberapa usaha luring terkena imbasnya, mereka terpaksa memangkas karyawan demi menutupi kerugian usaha daripada harus gulung tikar. Tak hanya itu, mereka pun memutar otak untuk keberlangsungan usaha sejak PSBB ditetapkan, misalnya dengan memberikan potongan harga atau diskon besar-besaran.

Begitu pula dengan Gojek dan Grab, startup besar di Indonesia ini pun ingin membantu meringankan penggunanya dengan memberi diskon berbentuk voucher makanan yang terbilang cukup besar dan sayang sekali jika dilewatkan. Tentunya, hal ini membuat sebagian orang merasa aji mumpung, sehingga akhirnya mereka kalap dalam berbelanja padahal tidak sedang membutuhkannya.

Dilansir dari Kumparan, GoFood Sebagai layanan pesan antar makanan terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara terus memaksimalkan pendapatan UMKM kuliner di tengah pandemi. GoFood berhasil meningkatkan omzet 74.000 mitra usaha melalui promo kuliner melalui program Hari Kuliner Nasional (Harkulnas) GoFood yang berlangsung 1 April–5 Mei 2020 lalu.

Tak hanya itu, pelaku e-commerce lainnya pun berlomba-lomba dalam hal kebaikan dengan member banyak potongan harga. Dikutip dari situs Merdeka.com, untuk menambah pengalaman #BelanjaDariRumah yang menyenangkan dan efisien, Shopee menyediakan promo menarik sepanjang kampanye ini digelar. Seperti promo potongan Gratis Ongkir XTRA hingga Rp50.000.

Diskon-diskon yang berseliweran di beberapa usaha daring ini langsung membuat para penggila diskon ini tak tanggung-tanggung dalam merogoh kocek untuk mendapatkan barang impiannya ataupun sekadar memenuhi nafsunya. Hal-hal seperti inilah yang membuat kita sering sekali kena jebakan diskon. Meskipun tidak membutuhkan barang tersebut, namun insting takut kehilangan akan muncul dan memaksa kita membeli barang tersebut. 

Namun, tahukah kalian? Tentunya di saat-saat pandemi seperti ini keuangan semakin tidak teratur karena aktivitas dilakukan dari rumah saja. Dan besarnya keinginan dalam berbelanja pun turut memengaruhi kondisi keuangan tiap orang.

Menurut Jurnal Murhadi, Paradigma Boros Dalam Kegiatan Ekonomi, Volume XXI No. 1 Januari-Maret 2005, dijelaskan tentang mengelola dan membelanjakan harta benda berdasarkan perspektif Islam, prinsip penghematan yakni tidak berlebih-lebihan atau tidak bermewah-mewahan. Dan sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Qur’an, “Hai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Q.S. Al-Maidah: 77)

Nah, agar tidak menjadi manusia yang merugi, hendaklah kita bersikap sederhana dan tidak boros. Dengan mencatat segala kebutuhan yang benar-benar dibutuhkan saja dan hindarilah sikap tergiur melihat diskon. Ibaratkan dompet kalian kosong dan kalian tidak memiliki alat tukar apa pun, jika hanya sekadar memenuhi keinginan saja.

- Advertisement -

Share article

Latest articles