Ketakutan Berlebihan Terhadap Covid-19

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Dok. Pribadi

Penulis: Muhammad Alvridho Prayoga

Tercatat sudah 212 negara terkena dampak Covid-19. Hingga WHO telah menetapkan Covid-19 sebagai pandemi. Pandemi Covid-19 makin menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Sejak diumumkannya bahwa dua warga Indonesia terjangkit virus Covid-19 oleh pemerintah beberapa waktu lalu, sebagian masyarakat meresponsnya dengan ketakutan yang berlebihan. Hal ini juga tentunya berpengaruh dalam pikiran masyarakat hingga menimbulkan paranoid.

Menurut Dr. Zakiah Daradjat salah satu pakar psikologi Islam yang berkarir di Departeman Agama Indonesia mengatakan orang yang memiliki gangguan kepribadian paranoid merupakan kondisi karakteristik seorang individu tidak mempercayai dan mencurigai orang lain secara berlebihan.

Dalam hal ini sebagaimana kita ketahui banyak masyarakat khususnya Indonesia memiliki rasa ketakutan atau pun kepanikan terlalu tinggi. Bukan hanya itu, terkadang juga sebagian masyarakat menuduh orang lain terpapar Covid-19 hanya dikarenakan seseorang itu batuk atau pun bersin. Padahal kita sendiri belum mengetahui orang tersebut terjangkit atau tidak.

Mirisnya lagi, masyarakat menuduh pihak medis yang berjuang di garda terdepan sebagai pembawa virus Covid-19. Dikutip dari laman berita CNN Indonesia, Selasa (7/4) bahwasanya salah satu petugas medis yang menangani pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh mengalami perlakuan yang tidak baik oleh warga tempat tinggalnya. Tenaga medis itu, justru diusir warga saat hendak kembali ke indekosnya.

Pernah tidak kita membayangkan tenaga medis mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan pasien terjangkit Covid-19? Coba kita saling renungkan, ada tidak rasa bersalah kita telah mengusir mereka? Akan tetapi Sang Pencipta memilii banyak cara memberikan pertolongan kepada orang-orang yang melakukan kebaikan. Dikutip kembali dari lama berita CNN Indonesia, Rabu (8/4), Direktur RSUZA Banda Aceh Azharuddin mengatakan sejumlah tenaga medis yang khusus menangani pasien Covid-19 di rumah sakit itu dinyatakan sehat, tanpa gejala apa pun.

Dalam hal ini kita perlu sadar dan tumbuhkan kembali sikap saling peduli terhadap sesama. Adapun yang lebih buruk lagi, masyarakat menolak jenazah yang positif Covid-19 untuk dikuburkan di lingkungan sekitarnya. Dari Kompas.com (29/3), menceritakan satu pasien warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan yang menjalani perawatan di RS Wahidin Sudirohusodo meninggal dunia. Nahas, warga menolak pemakamannya hingga mengusir ambulan yang membawa jenazah tersebut.

Mungkin kita harus pahami kembali akan hal ini, Covid-19 akan mati di dalam tubuh inang yang sudah meninggal. Pemulasaraan yang tepat perlu guna menghindari virus keluar melalui cairan jenazah. Dan pemerintah sudah menyiapkan kantong jenazah guna mencegah terjadinya penularan. Untuk itu, kita tidak perlu takut terhadap jenazah yang terkena Covid-19.

Dari beberapa contoh di atas semoga kita sadar apa yang harus dilakukan. Mari mulai bangkit bersama untuk saling menyemangati bukan saling membenci. Mulailah berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk negeri? Tanya dalam hati masing-masing. Jikalau tidak bisa menjadi manfaat, jangan jadi beban!

- Advertisement -

Share article

Latest articles