
Penulis: Audry Uyuni
(Hikmah 53, Kitab Al-Hikam Ibnu Athaillah)
“Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang hal-nya tidak dapat membangkitkan semangatmu dan tutur katanya tidak dapat menunjukkan engkau kepada jalan menuju Allah”
Berdasarkan hikmah tersebut, Syaikh Ibnu Athaillah mengingatkan kita semua akan pentingnya berguru serta pentingnya seorang guru (pembimbing), sebab pada hakikatnya dalam perjalanan menuju Allah itu harus didasari bimbingan dari seorang guru.
Bila Syaikh Ibnu Athaillah menggunakan redaksi bahasa “janganlah bersahabat” maka bisa kita terjemahkan sebagai teman. Namun, konotasi sebenarnya itu adalah guru.
Dengan berguru (beliau menyebutnya bersahabat) merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan dunia untuk menuju Allah. Gurunya Syaikh Ibnu Athaillah bernama Syaikh Abbas Al-Mursi, berkata “Siapapun yang tidak punya guru dalam urusan ini, maka dia tidak akan bahagia.”
Memang berguru untuk ilmu dunia itu boleh, sebagai panduan kita menjalani kehidupan ini. Tetapi, berguru untuk ilmu akhirat itu wajib dicari, sebagai panduan kita bertemu Ilahi. Sungguh penting sekali berguru itu, kisanak. Dan perlu diketahui pula terdapat empat syarat seorang guru.
Pertama, ilmu dan pengetahuannya benar. Bersumber dari Alquran dan sunah Nabi Muhammad. Kedua¸ keadaan hati seperti tawakal, ikhlas, syukur membekas dalam perbuatannya.
Ketiga, semangatnya tinggi. Hasratnya besar menolong orang untuk mendekat kepada Allah, sebab ia meyakini tak ada lagi jalan kebahagiaan serta keselamatan yang datang kecuali dari Allah azza wa jalla. Keempat, keadaannya diridai Allah.
Dan Syaikh Ibnu Athaillah kembali berkata, “Orang-orang yang pada dirinya lima hal berikut, maka ia tidak pantas dijadikan sebagai guru. Yakni, tidak paham dan mengerti agama, menjatuhkan kehormatan muslim, banyak berbuat sia-sia, selalu menuruti keinginan dalam segala hal, serta berbudi pekerti yang tercela lagi buruk”.
Dari apa yang sudah disampaikan Syaikh beserta gurunya itu, sekiranya dapat menjadi pelajaran untuk kita. Carilah guru. Cinta, hormat, dan sayangi mereka dengan sepenuh hati bukan taklid buta. Sebab, para ulama adalah pewaris nabi. Hal mereka itu tersambung dengan baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam.
Bergurulah untuk menempuh agama Allah, kawan. Karena gurumu bisa jadi pemberi syafaat untukmu kelak, bilamana tuan guru kita, ulama kita yang kita belajar dengannya, tahu di akhirat nanti qadarullah membuat kita di neraka sementara guru kita di surga, ia bisa memohon kepada Allah atas syafaatnya membuat kita terbebas dari belenggu siksaan neraka. Subhanallah.
Editor : Rindiani

