Bukan Salah Cinta

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto/Ilustrasi/Pexels)

Penulis: Juwita Sima

Cinta bukan segalanya. Tapi bukankah tanpa cinta iman kita turut hilang? Sebab, pada dasarnya kecintaan adalah suatu kepercayaan, keyakinan terhadap hal yang dipuja dan diagungkan. Manusia terkadang terkecoh dalam hal ini. Di mana kebanyakan menafsirkan dan memaknai cinta hanya kepada makhluk semata. Perlu diketahui bahwa cinta itu fitrah yang diberikan oleh Allah, Tuhan yang Maha Esa. Lantas kedatangan cinta dihadirkan pada setiap makhluk agar menempatkan cinta pada tempat terbaik, yakni kepada pencipta cinta.

Mengenai cinta yang saat ini di salah tempatkan oleh kebanyakan orang, apalagi di zaman sekarang. Banyak di antara kita tanpa kita sadari atau bahkan yang sangat jelas kita lihat dalam keseharian yang akhir-akhir ini menjadi budak cinta atau sering disingkat dengan kata bucin, skenario tersusun rapi diciptakan oleh karya hati dan pikiran manusia, melupakan batasan-batasan yang ditegaskan dalam ajaran agama. Sengaja atau tidak yang pastinya ini menjadi salah satu pencemaran nama cinta.

Sangat jarang ditemukan kisah cinta yang suci seperti Khadijah dan Baginda Rasulullah, Aisyah dan Rasulullah, Fatimah dan Ali bin Abi Thalib yang mampu menyimpan rapat perasaannya sampai setan pun kala itu tak tau isi hati keduanya, kecintaan Abu Darda yang berlebih-lebih kepada Allah hingga melupakan dunia yang harusnya perlu dipenuhi juga, atau tulusnya hati seorang Salman Alfarizi. Mereka benar-benar menempatkan cinta sebagai fitrah, mengagungkan dengan sebaik-baiknya. Kecintaan mereka pada makhluk bukanlah semata-mata karena nafsu, namun dibalik itu semua cinta itu digantungkan pada Allah.

Pada zaman Rasulullah banyak juga orang-orang pembangkang yang menyelewengkan cinta. Tidak heran jika sekarang hal ini malah semakin berkembang. Dan tak juga membingungkan jika saat ini kaum Nabi Luth kembali muncul mengibarkan bendera, mendirikan komunitas serta meminta hak merdeka.

Mereka berpendapat bahwa mencintai sesama jenis tidak ada salahnya, mereka berhak memilih dan bersuara. Siapa sangka, kehadiran mereka tak terlalu disoroti oleh dunia, beberapa negara menyetujui dan bahkan men-sahkan pernikahan sesama jenis ini. Beberapa bagian lagi menentang persetujuan tersebut, namun kita tidak bisa memastikan komunitas ini akan dimusnahkan atau malah akan lebih berkembang ke depannya. Lihatlah betapa kedudukan cinta mulai tercemar di kalangan kita saat ini.

Kesucian cinta dan ketulusan yang sebenar-benarnya bisa kita contoh dari kisah Salman Alfarizi. Salah satu sahabat Rasulullah yang pada awalnya seorang majusi, yang kemudian memasuki nasrani dan akhirnya memeluk Islam. Kisah cinta beliau benar-benar sangat menginspirasi banyak orang. Seperti yang dikisahkan dalam buku yang berjudul “Cinta Di Sujud Terakhir”.

Ketika Rasulullah dan kaum muslimin hijrah menuju kota Madinah. Di kota tersebut Salman Alfarizi berniat menikahi seorang wanita muslimah Madinah yang diam-diam disukainya. Beliau memantapkan hati untuk menikahi wanita tersebut. Karena Salman Alfarizi merupakan penduduk baru, beliau merasa asing sebab belum mengetahui bagaimana adat melamar wanita di kalangan masyarakat Madinah. Salman Alfarizi kemudian menyampaikan niatnya tersebut pada sahabatnya Abu Darda’ dengan maksud meminta kesediaan untuk menemaninya. Dengan senang hati Abu Darda’ membantu Salman.

Beberapa hari kemudian dua bersahabat tersebut datang ke rumah wanita Madinah untuk menyampaikan niatnya tersebut dengan tujuan menyempurnakan separuh agamanya. Abu Darda’ memperkenalkan dirinya dan Salman, serta memberikan penjelasan atas maksud dan tujuan mereka pada Ayah wanita tersebut.

Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, sang ayah memberikan isyarat pada istrinya untuk berdiskusi dengan anaknya terlebih dahulu. Betapa terkejutnya Salman Alfarizi dan Abu Darda’ ketika orang tua wanita itu menyampaikan bahwa mereka menolak dengan penuh maaf dan rasa hormat. Namun, menerimanya jika sekiranya yang melamar adalah Abu Darda’.

Bagaimana jika kita berada di posisi Salman Alfarizi? Tentu kita tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan beliau saat itu. Namun, beliau bukan seperti lelaki biasa pada umumnya. Sungguh di luar dugaan, dengan ketegaran hati yang luar biasa beliau justru menjawab, “Allahu Akbar”.

Ia sangat senang bahkan ia turut membantu proses pernikahan Abu Darda’ dengan wanita yang dicintainya tersebut. Dengan ketulusan dan keikhlasan hatinya ia justru memberikan semua harta benda yang ia persiapkan untuk menikahi wanita tersebut. Termasuk mahar dan nafkah yang sebelumnya sudah ia sediakan. Tak hanya itu, ia bahkan sanggup menjadi saksi dari pernikahan dua orang yang sangat dicintainya itu.

Dari kisah ini, kita bisa mengambil banyak pelajaran yang menginspirasi, bahwa kesabaran adalah hal yang penting dalam kehidupan, dan bisa tarik kesimpulan ketika kita menempatkan Allah dalam hati dan menjadikan-Nya satu-satunya cinta abadi serta tidak ada yang bisa menggantikan kedudukan-Nya dalam jiwa.

Luka, patah hati, dan sakit yang didatangkan karena cinta pada makhluk bukan suatu hal yang membuat kita kehilangan iman dalam jiwa yang berkepanjangan. Begitulah sesungguhnya Allah memberikan fitrah pada setiap insan. Menempatkan cinta pada sebaik-baiknya tempat, menyanjungnya dengan sewajar-wajarnya sanjungan pada makhluk-Nya. Maka, tidak ada yang salah dari cinta. Yang salah ialah orang yang menuhankan cinta dan menyalahgunakannya.

Editor: Khairatun Hisan

- Advertisement -

Share article

Latest articles