Keluhan Belajar Daring di Era Pandemi Covid-19

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator/Putry Ayu Dahniar)

Penulis: Sri Julia Ningsih

Sebelum Pandemi Covid-19, sebagian Instansi Pendidikan berangsur-angsur telah merancang Pendidikan berbasis digitalisasi guna bersaing dalam kancah Internasional. Hal tersebut, telah terealisasi oleh beberapa instansi pendidikan. Hemat saya, ini telah dirancang sedemikian rupa sehingga menuai hasil yang mumpuni. Hal itu juga dicetuskan sebagai upaya untuk mengikuti laju revolusi teknologi. Garis bawahi “hanya sebagian” tidak “keseluruhan”.

Tidak lama ini, dan juga masih sedang berlangsung, “Covid-19” merebak di dunia. Salah satunya mampir di negara tercinta, Indonesia. Karena kehadirannya, berbagai kebijakan di ranah pendidikan menjadi berubah. Sistem belajar tatap muka, diubah menjadi sistem belajar daring.

Kebijakan tersebut merupakan kebijakan yang efektif di tengah Pandemi Covid-19 yang telah dipikirkan oleh para petinggi pembuat kebijakan. Bayangkan saja, jika sistem tersebut tidak dicetuskan. Bisa-bisa, otak kita seperti gelas kosong. Bisa-bisa ya, bisa juga tidak.

Namun, kebijakan ini hadirnya seperti petir. Mengejutkan untuk sebagian Instansi Pendidikan dan masyarakat/wali yang belum menerapkan sistem ini, sebelumnya. Hal tersebut menyebabkan sebagian dari kita syok dan belum siap untuk menerimanya. Belajar dengan sistem daring ternyata tidak selamanya praktis. Sehingga dalam penerapannya, belum sepenuhnya efektif. Hal itu terlihat dari berbagai keluhan yang timbul manakala penerapan belajar daring, diantaranya:

1. Murid, guru atau dosen dan mahasiswanya dituntut harus memiliki perangkat

Perangkat yang dimaksud seperti laptop, handphone dan paket internet yang dapat mendukung proses belajar secara daring sehingga secara timbal balik siswa dan mahasiswa dapat mengakses materi pelajaran yang disampaikan oleh guru/dosen. Sebaliknya, guru/dosen juga dapat menanggapi berbagai pertanyaan yang disampaikan oleh sang murid atau para mahasiswanya. Namun permasalahannya, tidak semua siswa memiliki gadget.

2. Jaringan tidak stabil

Dalam kenyataannya, jaringan internet yang digunakan siswa/mahasiswa untuk belajar secara daring tidak selamanya lancar, alias tidak stabil. Acapkali saat proses belajar mengajar secara daring berlangsung, jaringan terganggu. Maklum, kekuatan sinyal di kota dan di kampung jauh berbeda. Akibatnya, materi yang disampaikan guru/dosen tidak dapat dipahami siswa dan mahasiswa secara maksimal.

3. Belum mahir mengoperasikan aplikasi online

Keluhan lain yang dirasakan siswa dan mahasiswa saat belajar secara daring adalah masih banyak diantara mereka yang belum mahir menggunakan laptop dan gadget via Zoom,  Google Clasroom atau e-learning sehingga proses belajar mengajar tidak efektif.

4. Orang tua tidak siap mendampingi anak

Untuk point ke 4 ini, berlaku bagi anak sekolah tingkatan TK-SD pasalnya, berbagai lapisan pendidikan, kerap menjalankan sistem belajar daring, tak terlepas kedua tingkatan tersebut. Kendati demikian, orang tua murid masih banyak yang tidak siap mendampingi anaknya belajar daring karena beberapa faktor misal; mencari nafkah, atau bahkan boleh jadi tidak mengerti pelajaran anaknya. Sehingga tidak mampu membantu kesulitan belajar anak.

Dengan berlarutnya belajar daring, semakin menyadarkan kita bahwa belajar tatap muka dengan ditemani oleh sosok guru/dosen amat sangat dibutuhkan. Terlepas dari itu, semoga keluhan di atas akan segera terpecahkan dengan hilangnya Covid-19.

Editor: Ade Suryanti

- Advertisement -

Share article

Latest articles