Makna Persahabatan dalam Islam

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto/Ilustrasi/Pixabay)

Penulis : Agustini

Sahabat adalah orang yang sangat dekat dengan kita, yang tidak memiliki hubungan darah maupun marga. Sahabat adalah orang yang sangat kita percayai, yang kita anggap bisa menjaga dan menyimpan segala jenis rahasia dan cerita yang telah kita bagi bersamanya. Ketika kita tidak punya sahabat seorang pun maka ada kala hidup terasa hampa dan gunda gulana karena setiap apa yang kita lakukan pasti selalu asyik jika kita lakukan bersama dengan sahabat. Tidak perlu harta kekayaan yang melimpah, jabatan tinggi dan hidup serba berkecukupan tanpa ada kekurangan sedikit pun, tapi itu semua percuma jika kita tidak punya seorang sahabat.

Persahabatan dalam Islam adalah saling mengingatkan kita kepada Allah, menegur kita ketika salah dan membela kita di saat kita tidak bersamanya. “Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya kamu teringat kepada Allah, mendengar kata-katanya menambah ilmu agama, melihat gerak-geriknya teringat akan kematian, sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang paling baik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap tetangganya,” (HR. Hakim).

Bagi kita sahabat itu tidak bisa digambarkan dengan apapun, sahabat itu selalu ada baik disaat suka maupun duka. Bahkan, sahabat itu sudah seperti keluarga kita sendiri padahal dia bukan berasal dari keluarga kita, dengan kata lain berasal dari luar daripada kita. Sebagai umat Islam diwajibkan untuk kita memuliakan seorang sahabat yang lillahi di jalan Allah taala. Tiada seorang pun yang tahu imbalan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, kepada hambanya. Untuk itu perhatikanlah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih sahabat.

Pertama pilihlah seorang sahabat yang mengajakmu pada ketaatan dan hindarilah sahabat yang mengajakmu pada kemaksiatan. “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu atau engkau membeli darinya, mungkin engkau mendapat bau wangi darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu atau engkau mendapat bau yang buruk“, (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang saleh. Hasan Al-Bashri berkata “Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat,” (Ma’alimut tanzil 4/268). Nah, tentunya kita sebagai umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam wajib hukumnya menjunjung tinggi kaedah ini apalagi sudah jelas hadits yang mengatakannya. Bahkan ketika kita berteman dengan orang yang salah, sudah sepantasnya pula kita menjauhi dia atau bahkan menasehatinya, karena apapun ceritanya sesama muslim adalah bersaudara. Jika kita melihat dan tidak menegurnya maka kitalah yang berdosa. Kemudian ada beberapa hal penting yang harus kita timbulkan agar persahabatan kita ini di ridhoi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

 Adapun nilai-nilai persahabatan dalam Islam diantaranya adalah :

Mengokohkan satu sama lain

“Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Saling menguatkan satu sama lain sudah seperti kewajiban yang harus dilakukan jika kita berteman. Jika kita lemah dan sedang dilanda masalah, akan ada seseorang yang membantu kita bangkit dan bersemangat kembali.

Menimbulkan rasa kasih dan sayang

“Perumpamaan mukmin dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu-satu tubuh, apabila orangnya sakit, maka seluruh tubuhnya pun turut merasakan hal yang sama, sulit untuk tidur bahkan merasakan demam secara bersamaan seperti anak yang kembar.” (H.R. Muslim).

Mereka yang saling bersahabat karena Allah akan membuat para syuhada menjadi iri

“Disekitar Arsy-Nya ada menara yang terbuat dari cahaya, di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah mereka yang bercahaya. Mereka juga bukan bagian dari para nabi maupun golongan syuhada, hingga para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka. Ketika para sahabat bertanya, kemudian Rasulullah menjawab : “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, bersahabat karena Allah dan saling berkunjung karena Allah.” (H.R. Tirmidzi).

Sahabatmu adalah cerminan dirimu

“Seseorang itu tergantung pada agama sahabatnya, maka perhatikanlah salah seorang dari kamu siapa dia bersahabat.”(H.R. Abu Daud).

Persahabatan karena Allah akan mendapat naungan-Nya

“Sesungguhnya kelak di hari kiamat Allah akan berfirman : di mana orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini aku akan memberikan naungan-ku di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku. (H.R.Muslim).

Kecintaan Allah kepadamu setara dengan cintamu kepada sahabatmu

Allah sangat mencintai hambanya yang saling bersahabat, sebagaimana dalam sebuah kisah berikut. “Hendak ke mana engkau? Lalu orang itu berkata : “Aku akan mengunjungi saudaraku di kota ini. Malaikat berkata “Apakah ada hartamu yang dikelola olehnya? Ia berkata “Tidak ada, hanya saja aku mencintainya karena Allah.” Malaikat itu kemudian berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu. Aku diperintahkan untuk mengatakan bahwa Allah sungguh telah mencintaimu sebagaimana kau mencintai saudaramu itu karena Allah.” (H.R.Muslim).

Kelak engkau dan sahabat baikmu akan dipertemukan kembali

Kehidupan manusia tidaklah abadi, kita hanya sementara hidup di dunia ini. Tentunya, pada kehidupan selanjutnya kita berharap semoga dapat bertemu dengan orang yang kita cintai dan kasih termasuk sahabat kita. Allah memberikan kemuliaan bagi mereka yang bersahabat karena Allah. “Apabila dua orang laki-laki saling mencintai dan mengasihi di jalan Allah, yang satu berada di timur sedangkan yang satunya lagi berada di barat, maka Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka Allah akan mengumpulkan keduanya di hari kiamat dan berkata,” inilah orang yang telah engkau cintai di jalan-Ku.” (H.R.Ibnu abas asakir dan Ibnu abbas).

Sahabat baik merupakan nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya

Islam merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, namun siapa angka selain dari nikmat Islam Allah juga memberikan nikmat yang besar juga yaitu sahabat baik yang anda miliki. “Tiada ada nikmat yang lebih besar dari seorang saudara yaitu shalih yang Allah berikan kepada seorang hamba setelah agama Islam. Bila salah seorang diantara kalian mendapat kasih sayang dari saudara ataupun kawannya, peganglah erat-erat persahabatan tersebut,” (Umar bin At-Khattab).

Memiliki suatu nikmat sahabat merupakan nikmat yang besar, yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya. Karena dari nikmat sahabat yang dikarenakan oleh Allah membuat rasa cinta kita kepada Allah, rasul dan nabi Allah serta cinta kepada makhluk Allah lebih besar dari sebelumnya. Perlu kita ketahui bahwa tidak semua akan mendapatkan nikmat yang sama seperti nikmat sahabat Hubban Limaan, karena banyak manusia yang terjatuh ke dalam hal-hal yang negatif dikarenakan salah dalam memilih pergaulan dan salah dalam memilih teman maupun sahabat. Nah, jika sudah begini tentunya kita sudah tahu hal yang dilakukan dalam mencari teman dunia akhirat.

Editor : Rindiani

- Advertisement -

Share article

Latest articles