
Penulis : Ahmad Faiz Nirwan Srg
Akhir-akhir ini di Indonesia sering terjadi tindakan kriminalitas khususnya pencurian, yang telah kita ketahui mencuri adalah suatu tindakan mengambil sesuatu milik orang lain tanpa izin, dan mencuri menjadi istilah yang diletakkan pada pengidap kleptomania. Tapi, kleptomania dan tindakan kriminal pencurian bukanlah hal yang sama.
Kleptomania (curi patologis) merupakan salah satu bentuk gangguan kejiwaan yang ditandai dengan mencuri berulang. Perilaku tersebut disertai dengan keinginan kuat yang sulit dikendalikan. Kleptomania dapat berhubungan dengan gangguan kejiwaan seperti depresi, kecanduan alkohol, gangguan kecemasan, dan gangguan obsesif kompulsif.
Kleptomania memiliki kesamaan gejala dengan adiksi seperti adanya tekanan yang kuat sebelum keinginan tersebut dicapai, penurunan keinginan segera sesaat setelah aksi dilakukan, adanya jeda waktu (jam, hari atau minggu) terhadap munculnya keinginan melakukan aksi pencurian berulang, serta terdapat perasaan senang setelah melakukan aksinya. Kleptomania juga dapat berkaitan dengan perubahan mood. Itu artinya, kleptomania tergolong pada penyakit jiwa. Biasanya penderita akan terus mengulangi perbuatannya dalam hal ini mencuri, bukan untuk dijual atau ia memerlukannya untuk menyambung hidup, namun ia hanya senang setelah mencuri, biasanya semua barang curian tetap ada cenderung menjadi koleksi baginya.
Apa penyebab seseorang menjadi Kleptomania?
Sampai saat ini belum ada penyebab pasti kleptomania. Namun, para peneliti percaya bahwa ada kaitan salah satu hormon pada otak yang terganggu namanya serotonin yang membantu mengatur emosi dan suasana hati pada otak.
Ada juga beberapa bukti menyebutkan bahwa kleptomania bisa berhubungan dengan gangguan kecanduan, atau gangguan obsesif kompulsif. Oleh sebab itu, maka faktor-faktor risiko yang dapat meningkatkan perilaku kleptomania, yaitu stres yang berlebihan, mengalami cedera otak di kepala, gangguan mood, kecanduan dan gangguan obsesif kompulsif. Banyak orang yang mengidap penyakit kleptomania ini, hidupnya dengan merahasiakan masalah kesehatan mentalnya. Umumnya mereka khawatir atau takut harus mendapatkan perawatan kesehatan mental, karena mereka takut dilaporkan kepihak yang berwajib.
Seperti kasus yang pernah dibahas oleh salah satu dosen psikologi perkembangan di UIN SU, Adinda Amalia, S.Sos, M.Psi. menceritakan salah satu kasus mengenai seorang wanita karir yang mengidap penyakit kleptomania ini, “Kami pernah membahas kasus mengenai seorang wanita karier yang mengidap penyakit kleptomania. Punya wajah cantik, gaya fashionable dan berkecukupan membuat ia malu mengakui penyakit itu dan tidak mau berobat. Pertama kali dia ketauan di salah satu pusat perbelanjaan di kotanya. Ia mengaku bahwa telah mencuri terlihat dari wajahnya tampak cemas dan malu, lalu berakhir damai. Kejadian itu terus berulang, dengan status sosial yang dimilikinya maka ia menjadi pusat perhatian. Setiap ketahuan ia selalu mengakuinya bahwa ia mencuri dengan wajah cemas dan penuh malu, barang yang ia curi pun sering sekali tidak berharga dibanding belanjaan yang dibayarnya. Sampai pada akhirnya salah satu karyawan menyadari keanehan hal tersebut, pencuri asli tidak akan mudah mengakui kesalahannya, pencuri asli tidak akan mendatangi tempat ia ketahuan kalau masih ada tempat lain, pencuri asli akan menunjukkan sikap pertahanan diri bila ketahuan bukan malah terkesan cemas dan penuh malu,” ucapnya.
Bagaimana cara mengatasi penyakit Kleptomania ini?
Nah, ada beberapa cara yang psikolog Adinda Amalia berikan untuk mengatasi kleptomania ini. Penyakit kleptomania ini dapat diatasi dengan pengobatan mengonsumsi obat seperti obat depresan, dengan psikoterapi biasanya dengan cognitive behaviour theraphy. Membuat kebiasaan belajar dengan pembentukan pola pikir, seperti aversi menyuruh pengidap untuk menahan napas saat ada keinginan untuk mencuri agar muncul perasaan tidak enak hingga mengurungkan niatnya mencuri.
Pada dasarnya kleptomania tetaplah perilaku sosial yang merugikan pihak lain, dan semua orang bisa mengalami penyakit kleptomania ini, bahkan orang yang tidak disangka-sangka seperti pejabat, artis, dan lain sebagainya. Kemudian, yang menjadi korbannya juga bisa siapa saja, keluarga dekat, teman dekat bahkan orang yang baru ditemuinya asal memiliki barang yang tiba-tiba dia inginkan.
Editor : Miftahul Zannah

