Menyoal Viral di Media Sosial

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto/Ilustrasi/Unsplash)

Penulis: Wahyu Nizam

Semenjak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, mobilitas masyarakat menjadi sangat terbatas. Hal ini menyebabkan beberapa aktivitas manusia terhambat dan sebagian besar terpaksa dialihkan menjadi daring. Dalam kata lain, kini manusia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berselancar di dunia maya agar tetap dapat melakukan pekerjaan dan menjalin komunikasi.

Berbanding lurus dengan hal tersebut, Jamalul Izza selaku Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam keterangan persnya kepada detik.com (30/9) mengatakan bahwa terjadi lonjakan pengguna internet di Indonesia selama masa pandemi. Trafik kenaikannya berkisar 20-25%, data ini diambil berdasarkan survei yang dilakukan APJII dari tahun 2019 hingga Juni 2020.

Namun, di tengah ramainya masyarakat menggunakan internet saat ini, yang membuat menarik adalah banyaknya konten-konten viral beredar. Konten tersebut merebak di penjuru media sosial yang umumnya berbentuk video. Biasanya video tersebut diproduksi oleh seorang publik figur sampai masyarakat umum yang memiliki tingkah unik.

Kata ‘viral’ dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) artinya adalah ‘menyebar luas dengan cepat’. Dari sini dapat ditarik kesimpulan maksud dari viral adalah keadaan di mana suatu informasi dapat menyebar luas dengan cepat di media sosial. Tidak ada konotasi yang menunjukan positif atau negatif dalam kata viral, tetapi yang lebih dominan menjadi sesuatu yang viral di Indonesia adalah konten-konten yang sifatnya kurang mendidik, bahkan bisa saja berdampak negatif.

Mungkin kita dapat membuat daftar yang sangat panjang mengenai sesuatu yang pernah terjadi dan viral di jagad maya Indonesia. Sebagai contoh, seseorang yang diduga artis dalam video instastory-nya viral karena melakukan perbuatan tak senonoh, dan seorang bapak yang sedang me-review sebuah jajanan kue dengan kata-kata kasar. Awalnya menjadi lawakan, namun pada akhirnya semakin menjadi dan malah dicaci. Baru-baru ini juga ada seorang gadis yang viral akibat kesombongannya dalam berkehidupan sosial.

Tentunya, hal di atas adalah sesuatu yang bertentangan dengan budaya Indonesia yang mengarah ke timur. Selain itu pula, amat sangat disayangkan sebuah tayangan yang dilihat jutaan orang malah lebih banyak negatifnya dari pada hal positif atau sisi edukatifnya. Padahal, jika sesuatu yang viral tersebut bermakna edukasi, maka akan sangat bermanfaat sekali bagi keadaan negeri kita sekarang, apalagi salah satu sektor besar yang terkena dampak pandemi adalah pendidikan.

Jika konten-konten negatif yang selalu viral, justru akan berdampak tidak baik bagi pengguna media sosial. Khalayak bisa saja berlomba-lomba untuk viral dengan cara yang tidak baik hanya demi ketenaran. Alih-alih konten iseng padahal tujuannya ingin “Mencari makan”. Apalagi yang mengonsumsi tayangan tersebut adalah kalangan anak-anak, miris sekali bukan?

Setidaknya ada tiga dampak negatif yang ditimbulkan akibat kebanyakan mengakses media sosial, sebagaimana yang dijelaskan pada laman halodoc.com, pertama, kecanduan media sosial dapat menyebabkan tidak kenal waktu. Kedua, merasa kesepian karena keseringan berinteraksi tidak nyata. Ketiga, kurang bahagia bahkan berujung depresi.

Kunci untuk menghentikannya adalah bersepakat untuk tidak menyukai orang-orang yang bertingkah tidak baik di media sosial. Terkadang kita pun suka latah terhadap kasus tersebut, sehingga muncul hasrat untuk turut berkomentar ini dan itu. Pada akhirnya, si pelaku tadi mendapat panggung kemudian viral. Dan lebihnya lagi, kita suka lupa kalau sudah menyalahkan ‘netizen’ padahal diri kita sendiri bagian dari netizen tersebut. Seharusnya, kita turut bijak dalam menggunakan media sosial, tidak perlu kita bahas sampai menguras pikiran jika memang tidak ada manfaat di dalamnya.

Sebagaimana yang dicuitkan Jerome Polin Sijabat pada akun Twitternya, sebagai seorang publik figur yang terkenal dengan kisah inspiratif dan kepintarannya dalam bidang matematika, begini:

“Ada orang-orang yang enggak peduli image-nya baik atau buruk, dampaknya positif atau enggak, yang dipikirin hanya viral dan angka (duit, followers, dll). Bakal ngelakuin apa aja asal tercapai keinginannya. Enggak peduli dihujat. Kalau dengan membuat yang kontroversi bisa tercapai, why not?”

“Dan faktanya ya selama ini, yang viral dengan cepat ya orang-orang yang membuat sesuatu yang kontroversial. Itu udah jadi kayak “Rumus umum” buat cepat viral. Kalau mau ngurangin yang kaya gini, ya tinggal dari netizennya, enggak perlu dibahas, sudah biarin saja. Makin diomongin makin seneng,” Katanya mengomentari salah sebuah video kontroversi yang sedang viral.

Mari bijak bermedia sosial!

Editor : Yaumi Sa’idah

- Advertisement -

Share article

Latest articles