Multitasking, Kemampuan yang Berdampak Buruk Bagi Kesehatan

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto/Ilustrasi/Pexels)

Penulis: Asri Alviana

Istilah multitasking sudah tidak asing lagi bagi para mahasiswa atau pekerja. Kita sendiri juga mungkin sering kali melakukannya, apalagi kala tugas atau pekerjaan menumpuk dan tenggat waktu yang semakin dekat, sudah pasti rasanya ingin mengerjakan semuanya secara bersamaan sehingga cepat selesai. Menurut Kamus Oxford multitasking is the ability to do several things at the same time (kemampuan untuk melakukan beberapa hal pada waktu yang bersamaan).

Sebagian orang beranggapan bahwa kemampuan ini merupakan hal yang keren karena dinilai bisa melakukan banyak hal serta mampu bekerja dengan cepat. Namun, tahukah kamu ternyata multitasking tidak dianjurkan bagi kesehatan kita?

Menurut Dr. Sandra Bond Chapman, pendiri dan direktur utama Center for Brain Health, The University of Texas melalui laman BBC.com, multitasking menghasilkan pemikiran dangkal, mengurangi kreativitas, meningkatkan kesalahan dan menurunkan kemampuan kita untuk memblok informasi yang tidak relevan karena otak tidak dirancang untuk melakukan multitasking, maka semakin lama otak akan mengalami tingkat stres dan depresi yang meningkat dan menurunkan kemampuan intelektual secara umum.

Berdasarkan informasi yang dimuat dalan laman Alodokter.com, para ahli telah mengungkapkan kebiasaan melakukan multitasking memiliki dampak buruk bagi kesehatan seperti memicu stres, meningkatkan tekanan darah, mengganggu daya ingat, dan menurunkan kreativitas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan multitasking dapat mengganggu kesehatan mental para pekerja kantoran dan pelajar.

Orang yang sering melakukan multitasking cenderung lebih sering stres dan merasa cemas. Hal ini dikarenakan multitasking dapat membuat hasil pekerjaan kantor atau tugas sekolah menjadi kurang baik kualitasnya atau justru tak kunjung selesai karena terlalu lama menghabiskan waktu untuk melakukan semua pekerjaan sekaligus.

Melakukan pekerjaan dengan multitasking menjadikan otak bekerja lebih berat. Sebuah studi menunjukkan bahwa kondisi ini dapat menurunkan kemampuan berpikir kreatif karena kapasitas otak yang sudah penuh juga menyebabkan gangguan ingatan, baik ingatan jangka pendek terkait pekerjaan (working memory) atau kemampuan untuk menyimpan dan mengingat informasi untuk jangka waktu panjang. Selain itu tubuh akan bekerja ekstra dan mengeluarkan lebih banyak hormon stres. Hal ini dapat memicu peningkatan tekanan darah, detak jantung, dan rasa cemas.

Kemudian, dampak dari multitasking yang sering terjadi adalah meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan, misalnya saat seseorrang berkendara atau berjalan kaki sambil melakukan kegiatan lain, seperti menelepon atau bercakap-cakap, meneyebabkan seseorang tidak fokus untuk memerhatikan lingkungan sekitar sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.

Sementara itu dilansir dari CNNIndonesia.com, sebuah studi baru yang dilakukan Stanford University menunjukkan bahwa multitasking atau mengerjakan dua atau tiga hal bersamaan dapat menurunkan performa dan bahkan akibat terburuknya merusak kemampuan berpikir otak. Temuan studi itu juga mengungkapkan ketika seseorang melakukan banyak hal di saat bersamaan akan menurunkan IQ.

Kemampuan multitasking mungkin terkesan keren dan bisa menjadi solusi ketika dihadapkan banyak tugas. Namun, ternyata ada banyak sekali dampak buruk dibaliknya yang jika terus-menerus kita lakukan dapat mengganggu kesehatan fisik maupun psikis. Bagaimanapun juga otak hanya dapat fokus pada satu hal di satu waktu, ketika kita melakukan dua hal bersamaan, maka fokus otak akan terbagi dan tidak akan bisa melakukan pekerjaan dengan maksimal. Hal ini juga mengurangi efisiensi dan performa karena kita tidak dapat fokus dan mengingat dengan baik. Oleh karena itu, langkah bijak yang seharusnya kita lakukan adalah memperbaiki manajemen waktu kita dengan lebih baik sehingga multitasking dapat dihindari.

Editor : Rindiani

- Advertisement -

Share article

Latest articles