
Penulis: Wahyu Nizam
Pada dasarnya masyarakat Indonesia memang belum begitu siap menghadapi pandemi Covid-19. Masih banyak orang yang tak acuh akan bahaya yang jelas-jelas mengancam tatanan kehidupan. Hal ini dikarenakan perubahan yang begitu cepat sehingga mengharuskan masyarakat melakukan dan mengikuti perubahan itu sendiri.
Melihat masyarakat yang demikian, pemerintah telah berupaya menekan angka penularan covid-19 dengan berbagai kebijakan. Bukan karantina wilayah seperti negara lain, namun Indonesia mengadopsinya dengan istilah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan di wilayah-wilayah yang memenuhi syarat dan atas izin Menteri Kesehatan.
Secara umum kebijakan-kebijakan yang dimaksud adalah pelarangan mudik, imbauan tetap dirumah, bekerja dari rumah, penutupan pusat perbelanjaan dan tempat ibadah sampai pada menghentikan sementara pembelajaran secara langsung untuk semua jenjang pendidikan. Setelah beberapa pekan masyarakat melaksanakan kebijakan tersebut pemerintah mulai menyadari harus ada konsep baru dalam menjalankan tatanan hidup. Kini pola hidup masyarakat benar-benar akan memasuki kebiasaan baru.
Meski virus corona belum berakhir, pemerintah secara resmi mengumumkan Indonesia akan memberlakukan normal baru (New Normal) di 4 provinsi dan 25 kabupaten/kota yang dianggap layak untuk menerapkannya. Dalam arti lain, akan terjadi pelonggaran dalam aturan PSBB di beberapa daerah.
Pemerintah melalui juru bicara penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, bahwa masyarakat harus menjaga produktivitas di tengah pandemi virus corona dengan tatanan baru yang kemudian disebut new normal. Salah satu tujuan utamanya adalah kembali menggerakkan roda ekonomi yang kian menunjukkan angka penurunan. Bahkan untuk merealisasikannya Presiden Joko Widodo mengerahkan tenaga TNI dan POLRI untuk membantu menjaga ketertiban dan kedisiplinan masyarakat selama new normal diterapkan.
Di sisi lain hingga 30 Mei 2020, data yang dirilis pemerintah melalui laman covid19.go.id jumlah orang yang positif terinfeksi covid-19 sebanyak 25.773, sebanyak 7.015 diantaranya dinyatakan sembuh dan 1.573 meninggal dunia.
Jumlah ini masih sangat mengkhawatirkan di sektor kesehatan, meskipun new normal secara langsung memfokuskan pada ekonomi, akan tetapi sejatinya masyarakat Indonesia tetap harus berproduktivitas dan tetap aman dari ancaman terinfeksi covid-19 dengan menerapkan protokol/standar kesehatan. Mulai dari harus mengenakan masker saat keluar rumah, membawa penyanitasi tangan, menjaga jarak, dan standar kebersihan lainnya.
Mengingat kebijakan new normal ini menyangkut hajat hidup orang banyak, pemerintah harus tegas dan melakukan publikasi atau sosialisasi aturan-aturan yang jelas. Mulai dari siapa sampai seperti apa suatu daerah itu harus melaksanakan new normal. Negara-negara seperti China, Jerman, dan negara lain yang telah memenuhi syarat WHO telah terapkan new normal. Sedangkan di Indonesia sendiri masih saja menjadi pro dan kontra.
Jangan sampai alih-alih ingin menjalankan roda ekonomi, malah bisa jadi keadaan semakin kacau karena disinformasi yang diterima dan penafsiran masing-masing masyarakat mengenai kebijakan normal baru ini. Penyelamatan ekonomi memanglah sangat penting, namun tidak kalah pentingnya keselamatan jiwa masyarakat di tengah pandemi yang tidak dapat dipastikan kapan penurunannya.
New normal ini tentu saja poin utamanya ada pada kesadaran masyarakat. Sudah tiga bulan lamanya covid-19 menghantui Indonesia. Mungkin jika diawal seluruh masyarakat menyadari dan benar-benar disiplin menerapkan pembatasan fisik dan tetap dirumah, Indonesia bisa seperti negara lain. Jepang misalnya, yang kini sudah mencabut status daruratnya dan masyarakatnya pun sudah beraktivitas seperti biasa.
New normal pula tidak perlu disambut dengan riang gembira penuh dengan jemawa. Karena pada dasarnya ada tujuan yang harus tercapai. Jangan sampai Indonesia terus-menerus berkelebat dengan virus ini. Rasanya tidak susah harus mengenakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, asalkan benar-benar punya kemauan kuat covid-19 ini bisa terselesaikan.
Sedikit mengutip isi dari unggahan akun instagram @apdcindonesia: New normal adalah segala sesuatu dalam hidup kita yang berubah dan untuk itu kita hanya perlu masuk ke dalamnya dan terbiasa. Psikolog asal India Kanan Khatal Chikal, mengatakan bahwa normal baru dan jika mau beradaptasi dapat menjadi kunci selama krisis di tengah pandemi. Adanya transisi dalam hidup sering kali disertai berbagai pengalaman dan emosi. Tentu saja tidak akan berjalan mulus.
Sebagai orang yang sudah merasakan dampaknya, tentu saja kita dituntut untuk berpikir dan menumbuhkan kesadaran serta merefleksi diri. Melakukan hal-hal yang melanggar dan arogan bukanlah hal yang membanggakan.
Setelah memahami semua ini seharusnya kita menyadari bahwa kita tidak sendiri melalui proses ini. Apa yang kita lakukan sekarang akan berdampak bagi banyak orang. Semua bergantung pada kita, ingin sembarangan atau membantu penanganan.
Editor: Miftahul Zannah

