Sebuah Pengantar Tentang Dampak Corona

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi Covid-19. (Foto/Ilustrasi/Pixabay)

Penulis: Mulia Wilandra Harahap

Selasa 21 April 2020, melalui rapat terbatas Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan larangan mudik bagi seluruh masyarakat setelah sebelumnya kebijakan ini diambil khusus untuk ASN, TNI dan Polri. Klaim pemerintah melalui survei yang diadakan kementerian perhubungan mengatakan bahwa terdapat 68% warga yang menyatakan bersedia untuk tidak mudik sementara sisanya memilih untuk tetap mudik. Ya, separah ini dampak yang ditimbulkan dari kemunculan Virus Corona. Ketika terminal, pelabuhan, bandara dan fasilitas mode transportasi lainnya terpaksa dikosongkan demi memutus mata rantai penyebaran virus ini.

Ketika desa menjadi sepi, rumah-rumah orang tua tidak lagi ramai dan hangat akan kebersamaan keluarga. Wabah ini barangkali telah menyebabkan pergeseran budaya secara paksa, menjadikan sistem sosial sedikit berubah, keluarga sementara waktu mesti berpisah dengan yang berada di kampung dan di kota. Hal ini yang menyebabkan berkurangnya interaksi dalam keluarga, biarpun telah ada kemudahan melalui hubungan daring, tapi dilihat dari keefektifannya, komunikasi lebih  istimewa dengan bertatapan langsung.

Peraturan yang diterbitkan di atas secara langsung memberikan dampak yang cukup besar terhadap sosial masyarakat kita, perubahan sosial otomatis terjadi dan yang paling merasakannya adalah keluarga. Khususnya keluarga muslim karena pembatasan sosial ini diterapkan menjelang datangnya bulan Ramadan, bulan di mana pada umumnya semua keluarga berkumpul merayakan suka cita. Tapi sekarang dengan kondisi yang sedemikian rumit, mestilah setiap keluarga menanamkan pemahaman bahwa wabah yang satu ini bukan main-main dampaknya.

Meskipun sulit untuk menahan diri dan rindu dari berkumpul bersama keluarga besar, tapi kedewasaan diri akan sangat membantu untuk meredam semua gejolak masalah sosial yang timbul akibat wabah ini. Karena sejatinya masalah sosial akan terus muncul akibat dari kecerobohan dan keegoisan setiap orang, tidak adanya pemahaman bahwa tetap di rumah saja adalah cara terbaik untuk membantu memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Tapi tunggu sebentar, mari kita kaji dampak ekonomi dari semua kejadian ini yang nantinya turut mempengaruhi keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat. Mengutip dari detik.com, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati mengatakan kebijakan larangan mudik akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi mengingat momentum lebaran bisa mendorong konsumsi masyarakat, terlebih lagi mereka yang mudik melalui jalur darat bisa mendorong perekonomian daerah.

Jelas bahwa pembatasan sosial dan larangan mudik akan semakin menekan ekonomi masyarakat kecil, ingat bahwa poin di sini adalah “Masyarakat Kecil”. Saya berbicara tentang supir bus, kurir angkat barang, tukang becak, tukang ojek dan semua masyarakat yang roda kehidupannya bergantung pada jalanan.

Dengan pasifnya kehidupan masyarakat maka turut mematikan sebagian sumber ekonomi, ditambah lagi larangan mudik  yang membuat masyarakat merasa terjebak dengan keadaan ini. Bertahan di kota tidak makan, mau pulang takut ditahan. Pada sebagian industri besar juga misalnya, ketika pabrik-pabrik menurunkan jumlah produksinya karena berkurangnya permintaan, maka terpaksa sebagian karyawan dirumahkan.

Keadaan ini terus berputar hingga sampai pada titik kebingungan yang timbul di tengah masyarakat, belum lagi data dari Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang melaporkan bahwa terjadi peningkatan tingkat kriminalitas sebesar 19,72 persen dari masa sebelum pandemi.

Yang perlu dilakukan adalah mulai menumbuhkan rasa perduli, pahami bahwa mungkin kita tetap baik di tengah keadaan yang tidak baik ini, tapi ada bapak yang tidak bisa pulang kerumah dengan membawa makanan, ada ibu yang kebingungan. Ketika kita sedang makan ayam, ingatlah ada keluarga yang bahkan tidak memiliki sepiring nasi, ketika kita santai bekerja dari rumah ingatlah ada mereka yang tidak tahu mesti bagaimana.

Saat kamu membaca tulisan ini dan merasa bahwa kamu berada di keluarga yang mampu dan terjamin keberlangsungannya, bergegaslah cari organisasi kemanusiaan, komunitas, atau apapun yang saat ini sedang membuka donasi bagi mereka yang terjebak pada situasi saat ini.

“Make no mistake, we have a long way to go. This virus will be with us for a long time.” Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO

Editor : Miftahul Zannah

- Advertisement -

Share article

Latest articles