Sifat “Listener” Melatih Kita Bersikap Sabar

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi menjadi listener. (foto/Ilustrasi/pexels/VisionPic)
- Advertisement - jd

Penulis: Putri Oktavia

Kehidupan selalu memberikan arti tersendiri terhadap setiap makhluk beserta hati yang diciptakan. Hati yang begitu lembut, membelai akal sehat, menyimpan kenangan-kenangan indah yang selalu hangat, walau asap-asap dibawa serta merta beranjak mengikuti waktu. Namun, hati juga memerlukan semacam kebiasaan yang harus diajarkan pemiliknya, agar tidak sakit ataupun ragu. Intinya sabar dan ikhlas. Dua resep itu ampuh mendidik hati menjadi salah satu bagian yang merubah kebiasaan diri sendiri bahkan makhluk yang tinggal di bumi.

Pelatihan sederhana yang dapat kita lakukan yaitu mendengarkan. Metode ini memang ampuh, baik itu mendengarkan keluh kesah, luapan kebahagiaan dan masalah-masalah kecil yang mungkin sering dialami setiap jenjang umur. Seorang pendengar (Listener) yang baik lebih dibutuhkan, daripada seorang yang banyak bicara dan terkesan ingin menang sendiri dengan sesi bicara yang sedang berlangsung sampai akhir. Biasanya, hatinya tak merasa puas, membanggakan dirinya kepada orang lain. Kebiasaan itu menimbulkan kesan muak, berakibat fatal dengan pembicaraan yang akan datang. Pembicaraan yang sedang berlangsung lama, diperlukan keikhlasan hati untuk selalu memberikan kenyamanan pembicara, agar merasa ceritanya didengarkan. Adab yang dapat kita lakukan terbagi menjadi beberapa cara.

Baca juga: Tau Siapa Rahasia Ketenangan Hati? Yuk Kenalan Dulu!

Menampakkan sikap kekhusyuan

Bermaksud, kita dituntut agar senantiasa mendengarkan dengan hati yang rela, digandeng kefokusan terhadap lawan bicara. Ini berarti pembicara merasa dihargai kemudian didengarkan ceritanya. Kita bisa mengkhusyukkan dengan hal-hal kecil, seperti tidak banyak tingkah dalam pembicaraan, tidak pula memalingkan wajah kehal yang membuyarkan konsentrasi seperti handphone dan tidak memotong pembicaraan yang berlangsung serius. Apalagi jika topik pembicaraan itu bersifat serius, dampak yang dapat terjadi yakni ketidakpuasan lawan bicara mencurahkan perasaannya. Lebih lagi kalau kita berbicara namun ia tidak memberikan masukan, malahan membicarakan kelebihan dirinya sendiri, itu akan sangat menjengkelkan karena pembicara tidak mendapatkan apa yang dimau, yaitu kelegahan hati.

Mempersiapkan dada dengan baik dan lapang

Ada satu bait syair yang isinya, “Aku rindu kepada mereka, namun untuk sampai ketempat mereka harus melewati tanah lapang yang luasnya seperti lapang dadanya seorang penyantun.” Ini berarti pendengar harus mempersiapkan dada dengan seluas-luasnya. Seperti lapang dada seorang penyantun yang tentu baik budi bahasa, tingkah laku serta sabar dan tenang.

Baca juga: Rakyat Indonesia dan Standar Kecantikannya

Berbaik sangka

Tuhan adalah sebaik-baik tempat bergantung dan mencurahkan hati para hamba-hambanya. Ketika mengaduh ataupun berdoa, tanpa disangka kita telah bercerita tentang keresahan yang mendilema hati. Tuhan merupakan pendengar yang baik. Sang maha Esa selalu berbaik sangka dengan pengaduan salah satu makhluknya. Kita patut panjatkan syukur sebanyak mungkin, lalu meniru sifat tuhan yang pendengar selalu berbaik sangka walaupun semua tidak berjalan sempurna karena kita bukanlah Dia.

Menghindari pembingungan cerita

Inilah keuntungan ketika kita berkonsentrasi penuh terhadap pesan yang disampaikan lawan bicara. Tujuannya agar tidak salah mengambil kesimpulan cerita. Kesalahpahaman ini juga sering muncul karena ada gangguan-gangguan dari luar maupun diri sendiri. Untuk meminimalisir kesalahpahaman salah satu caranya dengan mengingat garis besar cerita. Dengan begitu dapat kita rangkai dengan kata-kata motivasi yang pernah kita baca dibuku atau sumber mana saja. Perpaduan inti cerita yang dibubuhkan dengan kata-kata motivasi dapat terciptalah kalimat yang isinya menyejukkan hati sekaligus mengurangi beban hati pembicara karena ia merasa ceritanya sangat disimak dengan baik.

Baca juga: Berniat Hijrah, Ayo Itu Perintah

Beberapa cara di atas dapat diterapkan bagi kalian yang ingin merubah sifat menjadi seorang pendengar yang selalu dibutuhkan orang-orang. Lebih-lebih pekerjaan yang sedang digeluti sekarang berhubungan dengan mendengar. Tapi semua sifat baik itu tergantung dari pemilik hati yang tak lepas dari individu masing-masing. Bagaimanapun kita mencoba merubah sifat jahiliah yang tidak disukai orang lain, jika tidak ada niat yang kokoh beserta tujuan baik hal itu mungkin saja tidak terealisasikan. Sebenarnya kebaikan seseorang dapat tempancar dari wajah. Katanya wajah adalah cerminan hati kita sendiri. Insyaallah kebaikan yang kita  buat untuk meringankan beban sesama pasti didukung oleh sang pencipta Rahmatan lilalamin. Salah satu ikhtiar kita untuk meraih kasih sayang-Nya adalah dengan mendengarkan.

Editor : Rindiani

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles