Sudahkah Berinvestasi Akhirat?

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi berinvestasi akhirat. (Foto/Ilustrasi/kabarmakkah.com)
- Advertisement - jd

Penulis: Siti Aisa

Sebagai umat muslim sudah seharusnya kita menyiapkan diri untuk bekal akhirat dengan cara berinvestasi untuk akhirat. Investasi merupakan persiapan seseorang untuk jangka waktu yang sangat panjang dan menguntungkan. Dalam pandangan Islam ada dua model investasi yang harus dimiliki oleh setiap Muslim, yaitu investasi dunia dan investasi akhirat. Untuk kali ini penulis lebih memilih membahas investasi akhirat karena investasi akhirat jauh lebih kekal dan abadi. Namun, bukan berarti investasi dunia tidak penting mungkin investasi dunia akan kita bahas dilain waktu.

Berinvestasi yang dimaksud bukan berarti melulu harus materi saja namun masih banyak pengertian yang lainnya, seperti membantu bangun mesjid-mesjid dengan tenaga atau madrasah dan tempat-tempat yang banyak digunakan untuk kepentingan umum terkhusus umat Islam yang bermanfaat bagi umat lainnya. Jika kita tidak mempunyai uang yang berlebih untuk bersedekah, maka bersedekahlah dengan tenaga selagi kita masih mampu untuk membantu.

Baca juga: Karena Keindahanmu Memberikan Arti Perjuangan

Firman Allah dalam Al-Quran surat Adh-Dhuha ayat 4: “Dan sesungguhnya hari kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (dunia)”. Rasulullah SAW memberi tahu kepada umatnya bahwa kematian bukanlah akhir dari sebuah investasi. Bahkan kematian bagi seseorang investor akhirat merupakan petikan dari keuntungan dan laba dari investasinya di dunia. Dalam Islam, investasi akhirat itu disebut sedekah jariyah atau investasi abadi. Harta yang diinfakkan di jalan Allah bisa dalam bentuk zakat, infak, sedekah, hibah, hadiah serta wakaf akan mengalir menjadi banyak manfaat. Sebagaimana hadis Nabi yang berbunyi, “Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya kecuali yang tiga perkara, yakni: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh dan shalehah yang mendoakan kedua orang tuanya ketika sudah meninggal dunia.”

Sedekah jariyah yang disebutkan di atas ialah tidak harus menunggu uang kita banyak atau berlebih dari kebutuhan sehari-hari. Namun, dengan dana yang sedikit kita sudah bisa melakukan sedekah jariyah. Contoh: Jika kita mempunyai uang Rp100.000,- atau kurang dari jumlah uang tersebut untuk disedekahkan menjadi sedekah jariyah. Mudah saja, uang tersebut bisa kita belikan alat-alat sederhana yang sesuai dengan jumlah uang kita.

Baca juga: 5 Februari, Pihak UPZ Umumkan Kelulusan Penerima Beasiswa

Kemudian letakkan di masjid-masjid, itu sangat bermanfaat sekali untuk memudahkan jamaah dalam mengambil wudu. Nah, dari hal kecil tersebut kita sudah melakukan sedekah jariyah atau investasi akhirat. Namun, jika kita melakukan investasi dunia dengan uang segitu maka tidak berarti apa-apa ditambah lagi apabila uang tersebut kita buat untuk berbelanja di indomaret sangat tidak ada artinya. Bahan yang kita beli paling hanya beberapa saja berbeda jika gunakan untuk jalan akhirat seperti yang telah penulis jelaskan sebelumnya.

Dari keterangan yang saya berikan sebelumnya bahwa investasi akhirat bukan melulu tentang uang namun ada lagi dua jenis investasi akhirat yakni, ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak-anak soleh. Satu huruf saja yang kita berikan kepada orang lain dan orang tersebut mengamalkannya atau bahkan mengajarkannya kepada orang lain maka itu sudah menjadi investasi akhirat kita. Seperti, seorang guru ngaji yang mengajarkan kepada muridnya bagaimana mengaji dengan baik dan benar, berdasarkan tajwid dan tartil sehingga mereka dapat membacanya dengan sempurna. Lalu, si murid tersebut menjadi guru besar dan mengajarkan muridnya juga apa yang telah ia dapat dari guru sebelumnya, maka hal itulah disebut sedekah jariyah dalam arti kita ikhlas dalam melakukannya bukan mengharapkan imbalan atau gaji.

Baca juga: Apa Benar Hanya Kita Kehidupan Satu-Satunya?

Selanjutnya ialah doa dari anak-anak yang soleh, sudah seharusnya tugas kita sebagai orang tua mendidik anak-anak kita sesuai yang diajarkan oleh agama Islam dengan cara memberikan mereka pendidikan terutama pendidikan agama Islam karena berguna untuk dunia akhirat mereka selain dalam ibadah. Salah satunya mendoakan orang tuanya yang sudah meninggal dunia, dan bisa menjadi imam dalam shalat jenazah untuk kedua orang tuanya, jika anak kita tidak kita bekalkan ilmu-ilmu agama mungkin mereka tidak akan mengerti bagaimana cara menyolatkan jenazah dan menguburkannya. Karena alangkah baiknya jika yang memandikan, mengkafani, menyolatkan, dan menguburkan kedua orang tua kita itu adalah kita sendiri bukan bilal.

Meskipun mereka sudah meninggal namun mereka tetap merasa malu jika auratnya dilihat oleh orang lain (bilal) sedangkan masih ada muhrimnya yaitu anak kandungnya sendiri. Nah, jika anak tersebut paham bagaimana memandikan, mengafankan, menyolatkan dan menguburkannya maka senanglah hati orang tua kita meski tidak terlihat oleh mereka, tapi jika sebaliknya kita tidak mengerti bagaimana melakukan hal-hal tersebut maka sia-sialah ia membesarkan anak mereka.

Baca juga: Mata Garuda LPDP Sumut Lantik Kepengurusan Baru

Setelah proses penguburan telah selesai maka tugas anak selanjutnya ialah mendoakan kedua orang tuanya setiap harinya setelah selesai shalat wajib maupun kegiatan yang lainnya agar mereka tenang di alam barza. Dengan melakukan investasi akhirat sesungguhnya ia meraih dua keberuntungan. Keberuntungan dunia, ia merasakan sentuhan kepedulian berbagi bersama orang lain, baik dengan harta ilmu atau keahlian lainnya. Sedangkan keuntungan akhirat, ia merasakan pahala yang berlipat ganda dan tidak terputus sampai hari kiamat. Subahanallah wallahu a`lam bis showab.

Editor: Khairatun Hisan

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles