Surga Itu Bernama Pamah /1/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Dinamika)

Penulis: Muhammad Maulana Akbar

- Advertisement - jd

Kisah ini beranjak dari kepenatan yang membumbun menjadi ajakan untuk pergi sejenak ke suatu tempat yang tidak ada peradaban, alam hanya menyuguhkan kesendirian. Kemudian otak mulai bekerja seiring dengan jari yang menyusuri tiap sudut gawai, akan ke mana tujuanku nanti?

Teringat satu tempat yang dahulu sangat ingin kutuju, sayangnya tak kunjung tertuju. Mungkin inilah waktu yang tepat, sembari menyenangkan diri sendiri. Aku pikir ini akan menjadi pengalaman baru yang takkan kulupakan begitu saja.

Aku mulai beranjak dari posisi nyaman ke persiapan untuk bisa berjalan aman. Malam itu juga kuambil tas carrier 45 liter dengan harapan “liburanku” esok sesuai perkiraan. Terkadang kita perlu egois terhadap sekitar untuk menyayangi diri kita yang sudah terlalu peka, sampai akhirnya lelah dan menyalahkan diri sendiri. 

Hari yang dinantikan pun tiba. Setelah sekian purnama, beribu rencana, dan menunggu waktu-waktu yang tepat. Inilah saatnya! Berjarak sekitar 63,9 km atau tiga jam perjalanan darat dari Kota Medan. Namanya Pamah Simelir, cukup terkenal. Katanya, keindahannya bak mahligai hingga menjadi sebuah destinasi yang begitu memikat. Aku berangkat dengan restu ibu juga pesan ayah untuk hati-hati selama di sana, “Itu alam raya, kita tidak tahu ada apa yang mengawasimu di balik itu,” begitu katanya. 

Pagi sejuk di hari itu, sekitar pukul sembilan yang beriringan dengan argumen burung yang bernyanyi. Motor kubawa dengan keyakinan bahwa hari ini tidak akan turun hujan dan pastinya menyenangkan. Seperti biasanya, karena bukan jam berangkat kerja maka jalanan tidak dipenuhi para ambisi pengisi jalan. Hanya dibarengi oleh debu dari truk-truk besar yang sedang mengangkut rezeki.

Rasanya perjalanan hari ini begitu terik,” ucapku dalam hati. Aku merasa dahaga ini sudah tak bisa lagi diajak negosiasi, kuputuskan untuk belok kiri sejenak menyinggahi toko serba-serbi negeri. Kuambil beberapa minuman dan kebutuhan secukupnya agar dahagaku bisa terpuaskan kembali. Sembari menikmati, aku bertanya-tanya pada diriku perihal kejutan apa yang akan kudapatkan di sana. 

“Eh, inikan pertama kalinya aku ke sana, sendiri pula. Memang aku tahu jalannya?” gumamku saat menghayal indahnya Pamah Simelir. Sontak kuhidupkan gawai yang sedari tadi menunggu untuk disentuh, setelahnya kucari letak tujuanku yang sebenarnya di penunjuk arah. Aku mulai menghidupkan kembali mesin motor dengan kesiapan, semoga tidak salah jalan

Sepanjang perjalanan disuguhkan oleh pemandangan kebun hijau dan teduhnya langit. Gunung sebagai pasak dan angin yang berhembus menjadikanku makhluk paling bahagia di hari itu. Awal perjalanan dari rumah hingga tempatku singgah tadi cukup membuat hati ini damai, kini ditambah dengan pemandangan hijau di kanan-kiri juga senyum warga yang menghiasi. Rasanya aku tak mau hari ini terlewatkan begitu saja tanpa kenangan yang mengabadikannya. 

Persimpangan demi persimpangan, nomor plat kendaraan yang kulewati, sususan terminologi kota-kota hingga hamparan luas kebun paman menghiasi benakku di siang itu. Sampai akhirnya yang diwanti-wanti pun terjadi. Benar sekali, aku melakukan kesalahan yang sama seperti manusia umumnya. Aku salah arah jalan. 

“Tuh, ‘kan, perasaan di internet enggak ‘gini jalannya. Ini kok terjal, ya, ke puncaknya?” Seperti ada kaget yang diadaptasi dari suasana akrab menjadi penuh harap. 

Ah, coba aku putar balik aja. Siapa tahu ada pengendara lain yang sama sepertiku,” pikirku dalam benak. 

Alhamdulillah, beberapa saat kemudian aku menemui dua orang wanita yang berboncengan menggunakan “motor bebek”-nya. Seakan paham, ia tersenyum pertanda mengizinkan aku untuk mengikuti mereka di belakang. Aku menerka-nerka dan berharap agar kali ini tidak salah lagi.

Dengan sedikit ragu dan berbekal keyakinan, akhirnya aku sampai di tujuan. Aku sempat berprasangka bahwa hari ini pasti berjalan sesuai rencana, ternyata tidak semudah itu. Aku bergegas membayar tiket masuk dan dikenai biaya lebih sebesar Rp25.000,00 karena ingin bermalam untuk beberapa purnama ke depan. 

Langkah kecilku sejenak berhenti, aku terpukau melihat keindahan yang selama ini hanya kukagumi lewat layar dua dimensi. Sekarang aku melihatnya langsung dengan dua mataku, tanpa sekat sedikitpun yang membatasi. Sembari melanjutkan langkah, kutimbang-timbang akan di mana kudirikan “istanaku” agar aku terlindungi dari panas, hujan dan rindu.

Setelah lelah berkeliling, aku memutuskan untuk berkemah di pinggir danau yang langsung disuguhkan hamparan air juga pemandangan gunung tinggi di sekelilingnya. Sungguh hal yang membuatku merasa nyaman dan sulit berpaling. Tas kurebahkan sembari mensyukuri segalanya sampai detik ini, kudirikan tenda dengan memaku pasak agar tidak beranjak saat kutinggal walau hanya sebentar. 

Siang hari pun tiba, matahari kini menunjukkan eksistensinya sebagai planet terbesar di tatanan galaksi bima sakti. Setelah semuanya siap untuk di huni, segera aku menyucikan diri untuk mendirikan tiang agama di tempat yang telah disiapkan pengelola, sebelum aku menyantap makanan yang disiapkan sang Ibunda.

Editor: Rika Wulandari

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles