Surga Itu Bernama Pamah /2/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Dinamika)

Penulis: Muhammad Maulana Akbar

- Advertisement - jd

Lalu yang tak terduga pun tiba. Setelah menyantap makan siang yang kubawa dari hasil jerih payah ibu yang memasaknya, pandanganku teralihkan dan mulai kembali bertanya pada diriku sendiri, “inikan mbak-mbak yang kujumpai sewaktu tersesat tadi?” Tanpa pikir panjang, berbekal parfum yang kusemprotkan dan keyakinan bahwa pemikiranku adalah benar, kutemui ia bersama temannya yang sedari tadi sibuk menangkap gambar dengan gawainya. Setelah kutanya, ternyata sama seperti remaja pada umumnya, gambar tersebut akan diunggah ke media sosial, ucapnya. 

Setelah perkenalan singkat, sampailah pada sesi bertukar username media sosial, hingga akhirnya kukantongi satu username media sosialnya. Karena di sini tidak ada sinyal, maka media sosialnya akan kutambahkan sebagai ‘teman’ ketika sudah tiba di rumah nanti. “Kebetulan sekali,” ujarku dalam hati. Namun seperti biasa, batinku kembali berbisik “kamu ke sini untuk mencari ketenangan, bukan mencari pengganti.” Kita tidak pernah sendiri, kecuali kita yang menginginkan kesendirian. Buah pikir dari salah satu penulis dan pendaki kegemaranku tidak salah, bahwa ketenangan dan kedamaian itu diciptakan, bukan dicari.

Malam pun datang, rona indahmu kian berlalu tergantikan oleh gelap yang menemaniku. Namun kali ini ia tidak benar-benar menemaniku, karena ternyata air Tuhan itu turun membasahi kami yang ada di bawahnya. Hal yang kutakutkan kembali terjadi. Matras yang seharusnya kubawa selama persiapan ternyata tertinggal di sekretariat yang tak tahu di mana rimbanya. Hingga akhirnya aku harus kembali belajar menerima bahwa air yang merembes dari bawah tenda kian memberikan rasa dingin yang kini lebih dingin dari kamu.

Cacing di perut mulai menyuarakan haknya bahwa ia ingin diberi makanan segera. “Air hujan di luar masih begitu giat dan awan hitam kian menyelimuti,” ucapku kepadanya. Karena mengantuk, akhirnya kuputuskan untuk merebahkan badan sejenak sembari meletakkan beberapa harapan sebagai bantal yang semoga mimpiku tak seburuk realitaku. Beberapa jam berlalu dengan kesunyian, dua orang lelaki menyorotkan senternya ke arah tendaku dan bertanya, “udah tidur bang?” Sontak nyawaku kembali ke pelukan dan kesadaran kembali begitu cepat, seperti dahulu kamu membalas pesan singkatku sebelum ada pemeran penggantiku.

Kaget bukan kepalang. “Inikan di alam,” kataku dalam diam. Suara siapa itu barusan? Karena logikaku kian melebar, akhirnya kuberanikan diri untuk membuka tenda dan ternyata kakinya masih menginjak tanah. Sembari menjawab pertanyaan mereka, aku mengiyakan ajakan mereka untuk menghabiskan malam bersama teman-teman lain di tenda yang berdiri di sana. Berdiri dua tenda di sebelah kiri dan empat tenda di sebelah kanan. Karena hujan lebat tadi, aku tak mendengar suara berisik mereka di belakang. 

Kopi diaduk, keretek dibakar. Perbincangan kian melebar. Yang awalnya sekadar menanyakan nama dan alamat, kini memasuki babak baru, yaitu tentang kehidupan. Ternyata dua pria yang tadi membangunkanku dan beberapa orang lainnya yang ada di tenda sebelah merupakan mahasiswa yang satu kampus denganku. Tidak dipertemukan di bangku perkuliahan, namun dipertemukan di bawah sinar rembulan. Benar, selepas hujan yang cukup membuat kami menunggu, kini muncul rembulan sebagai penenang seperti senyummu kala itu yang membuatku yakin bahwa denganmu aku tenang.

Kopi yang disuguhkan berdiri satu-satu di hadapan kami dengan aroma khasnya, pahitnya senada dengan cerita yang kami suarakan, keretek yang dibakar seolah menggambarkan lenyapnya angan dan ekspektasi masa kecil bahwa dewasa nanti aku ingin ‘ini itu’, bisa ‘ini itu’, dan punya ‘ini itu’ yang pada akhirnya berpikir bahwa dengan bisa menghirup oksigen sampai saat ini sudah lebih dari cukup. Topik yang dibahas membawa kami seperti ada di negeri dongeng. Cerita yang kudapatkan dari mereka seakan membuka lembar baru dan menjawab pertanyaan di awal bahwa benar ini adalah pengalaman baru yang tak akan kulupakan dengan mudahnya seperti singkatnya ingatanmu tentangku.

Bertanya hubungan asmara hingga bertanya pekerjaan, menceritakan kisah masa lalu hingga membahas masa depan yang begitu ganas. Namun, ada satu kisah di mana teman baruku bercerita bahwa ia pernah di penjara demi menyuarakan opini rakyat tentang satu masalah perundang-undangan di negeri ini.  Saat ia sedang berorasi, kericuhan tidak dapat dihindari. “Temanku ada yang masuk dan bersembunyi di gorong-gorong parit demi menyelamatkan dirinya dan pendapatnya.

Singkat cerita, aku berada di salah satu daftar pencarian orang pihak berwenang. Setelah pelarianku yang panjang, aku lelah dan aku mengira mereka tak lagi memburuku. Ternyata pikiranku salah dan itu adalah keputusan terburuk selama aku hidup. Pada akhirnya, aku tertangkap di sebuah keramaian,” ujarnya sambil menyeruput kopi. Darinya, aku paham bahwa orang baik tak selalu mendapatkan tempat yang baik, orang baik tak selalu diperlakukan baik, dan orang baik tak selalu diberi jaminan yang baik. 

“Tak banyak basa-basi, mereka langsung memasukkanku ke dalam sel. Dari sinilah aku banyak tahu tentang sisi lain kehidupan. Mulai dari perlakuan para sipir, perpeloncoan anak baru, perdagangan ilegal, komunikasi yang sulit, dan nilai rupiah yang begitu berharga.”  Ia melanjutkan kisahnya dengan begitu antusias hingga tak terasa keretek yang disulutnya hampir habis, menandakan ia masih belum bisa menerima apa yang telah menimpa hidupnya dan membuatnya kehilangan setengah masa muda.

Tak terasa, waktu menunjukkan pukul dua dini hari, ditandai dengan aungan entah binatang apa di belantara hutan ini. Dingin yang mulai merasuk tulang seakan memberi tanda untuk dijeda saja perbincangan kita kali ini. Yang membuatku terkejut untuk kedua kalinya adalah suara perempuan yang memanggil untuk memasuki tenda. Suara perempuan itu berasal dari tenda sebelah kiri yang ternyata adalah teman mereka. Tak tahu teman atau apa, bukan urusanku. Kemudian kami bergeser tempat dan beranjak pergi menuju tenda masing-masing. Malam itu terasa panjang karena cerita yang begitu mengesankan.

Mentari pagi beri salam lagi. Suara burung menyambut. Hari berganti dengan embun yang masih menyelimuti misteri akan ada apa di hari ini. Aku mulai memasak sarapan dengan bumbu-bumbu dari masa lalu agar ke depannya aku tak lagi merasakan pilu yang sama. Selepas menyantapnya, aku kembali menjelajah ke tempat yang kemarin belum sempat aku singgahi. Kini, surga bernama pamah itu kembali menunjukkan dirinya dengan goresan awan dari Sang Maha Agung. Barisan pohon yang begitu memanjakan penglihatan. Sejenak aku duduk di kursi panjang sembari memandanginya dan berkata lirih di dalam hati “Alhamdulillah”. Kata sederhana yang maknanya tak dapat diremehkan ini berhasil menumbuhkan gairah mudaku bahwa tak ada yang salah dengan sebuah kesalahan, karena memang manusia adalah tempatnya salah.

Setelah kian terik, aku putuskan untuk beranjak dari tempat yang menyuguhkan segala tahu menuju rumah tempatku berpulang dan melepaskan pilu. Dengan berpamitan kepada mereka yang memberiku sebongkah pengalaman baru yang sudah siap kusimpan untuk bekal di masa depan, aku pun pulang dengan meninggalkan garis kenangan dan beberapa janji untuk kembali namun dengan versi yang lebih baik lagi. 

Terima kasih.

Editor: Putri Khairunnisa Nabilah

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles