Tips Lawan Corona Bagi Umat Muslim

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi. (Foto/Ilustrasi/Pixabay)
- Advertisement - jd

Penulis: Anisa Rizwani

Virus corona atau Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) merupakan jenis baru yang menginfeksi penyakit pada saluran pernapasan. Virus yang dalam istilah kedokteran disebut 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV) atau covid-19, saat ini sedang menjadi pandemi yang menimbulkan kecemasan bagi masyarakat dunia.

Covid-19 sendiri pertama kali terdeteksi muncul di pasar hewan dan makanan laut di Kota Wuhan, Tiongkok. Akibat penyebaran virus ini yang begitu cepat, pada 30 Januari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization atau WHO) menyatakan, kasus virus corona sebagai darurat global.

Tentu virus ini tak pandang bulu, pejabat, politisi, figur publik, artis, masyarakat,  siapapun bisa terjangkit. Beragam reaksi muncul, kecemasan dan kepanikan tak bisa dihindari. Ironisnya, di saat seperti ini ada sebagian masyarakat yang memanfaatkan situasi. Melonjaknya harga masker, naiknya harga kebutuhan pokok hingga langkanya produk penyanitasi tangan (hand sanitizer) menjadi bukti masih ada orang-orang yang egois, yang seolah hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri.

Namun tak semua begitu, ada juga yang berbaik hati melakukan kegiatan berbagi, bersedekah apa saja yang paling dibutuhkan untuk saat ini. Menjadikan masa ini sebagai ladang menyemai benih-benih kebajikan. Selain itu derasnya arus informasi yang tak diimbangi kemampuan literasi, membuat banyak masyarakat tertelan hoaks. Di sinilah kita semakin diingatkan untuk meneliti setiap kebenaran informasi, sehingga kecemasan dan kepanikan pun tak makin bertambah-tambah. Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi musibah ini?

Kita sendiri adalah negara muslim terbesar di dunia, maka sudah sepantasnya muslim di negeri ini berkaca dari apa yang terjadi pada masa Al-Amin, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. Sedikitnya ada tiga hal yang perlu kita lakukan untuk melawan Corona;

Patuhi kebijakan pemimpin

Bagaimanapun Rasulullah sallallahu alaihi wasallam telah mengingkatkan bahwa Tha’un (wabah penyakit menular) merupakan teguran dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya. Maka, dalam keadaan seperti ini hendaklah kita bersabar dan mematuhi aturan yang telah ditetapkan ululamri (pemimpin).

Dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 59 Allah swt. telah mejelaskan kewajiban menaati pemimpin. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” Di ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan rasul-Nya.

Pemerintah sebagai otoritas yang berwenang kini telah mengambil kebijakan karantina wilayah (lockdown), pembatasan sosial (social distancing) dan pembatasan fisik (physical distancing). Kita dilarang untuk masuk atau keluar dari suatu wilayah, diharuskan membatasi interaksi secara langsung, wajib menjaga jarak aman fisik antar satu dengan yang lainnya, menjauhi kerumunan dan tetap di rumah bagi yang bisa bekerja dari rumah.

Sebenarnya metode seperti ini juga pernah dilakukan sahabat Rasulullah Amr bin ‘Ash ketika Tha’un menyerang Kota Syam. Sesuai anjuran Rasul Amr bin ‘Ash yang saat itu merupakan gubernur, memerintahkan agar penduduk pergi berpencar dan saling menjauh satu sama lainnya. Diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Auf, Rasulullah saw. pernah bersabda “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya(HR. Muslim).

Rasulullah juga menganjurkan untuk memisahkan antara yang sakit dengan yang sehat agar tidak menyebabkan penularan. “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Hal ini sama dengan aturan isolasi atau karantina mandiri bagi yang sudah terinfeksi covid-19. Jadi, sangat disesalkan jika masih ada masyarakat yang sengaja keluyuran di saat pemerintah telah berusaha memutus mata rantai penyebaran virus corona ini.

Cegah bukan pasrah

Dalam keadaan seperti ini tentu sikap tenang dan sabar sangat diperlukan, tapi bukan berarti kita harus pasrah dan menyerah dengan keadaan. Belakangan ramai di sosial media kutipan yang berisi pernyataan “Takut kok sama virus? Takut tuh sama Allah”. Ada gazwul fikr (pertarungan pemikiran) di sini. Pendapat tersebut seakan mengisyaratkan kepasrahan. Padahal seorang cendikiawan muslim Prof. dr. AG. H. Muhammad Quraish Shihab, Lc., saat memberikan pandangan terkait covid-19 di acara Hitam Putih Trans 7 telah mengingatkan kita harus pandai-pandai menyikapi musibah ini. Jika kita mengatakan tidak takut pada virus corona sebab ia ciptaan Allah, maka secara tidak langsung kita mengartikan tenaga medis adalah musuh-musuh yang melawan ciptaan Allah.

Memang virus yang sedang merebak ini datangnya dari Allah namun, jangan samakan usaha menghindari diri dari penyakit, dengan takut kepada selain Allah. Karena usaha menjauh tersebut justru termasuk bentuk patuh dan tawakal kepada yang Allah perintahkan. Untuk itu,  jelaslah kita mesti berikhtiar mengambil langkah-langkah preventif. Mematuhi aturan, tidak bersikap sepele, cuci tangan sesering mungkin, memakai masker, menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), makan-makanan yang bergizi, serta istirahat yang cukup demi melindungi diri dan keluarga.

Ambil hikmah

Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari kejadian ini. Gara-gara virus corona, mungkin kita yang selama ini hanya bertemu keluarga di waktu pagi dan malam, kini berada seharian di rumah. Keharusan bekerja, belajar dan  beribadah di rumah membuat kita memiliki banyak waktu dengan keluarga. Begitu pun aktivitas ibadah kita bisa lebih berkualitas. Ketika kita di rumah, begitu mendengar azan kita bisa langsung mendirikan salat, bisa lebih banyak tilawah dan murajaah Al-Qur’an, dan mengerjakan ibadah-ibadah sunah.

Meskipun fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang larangan beribadah dalam jumlah masa yang banyak seperti salat Jumat di daerah zona merah wabah corona menimbulkan polemik, tetapi tentu fatwa yang dikeluarkan MUI adalah untuk kemaslahatan bersama. Dilansir dari kompas.com, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh mengimbau supaya penyelenggaraan salat Jumat dihentikan sementara selama virus corona masih mewabah, hal ini sebagai antisipasi penyebaran covid-19 yang lebih luas. Namun, di tempat yang potensi penularan rendah atau zona kuning dan hijau masyarakat bisa tetap salat Jumat seperti biasa.

Begitupun tentang tata cara fardu kifayah bagi jenazah positif corona. Sejak viral keluarga yang nekat membawa pulang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) corona di Kendari, Sulawesi Utara. Akhirnya pada 27 Maret lalu, melalui laman Instagram Kementrian Agama Republik Indonesia @kemenag_ri, kemenag menyebarluaskan protokol pengurusan jenazah positif corona, yang mana pengurusan jenazah dilakukan langsung oleh petugas kesehatan di rumah sakit yang ditetapkan kementrian kesehatan, dan mengikuti SOP WHO.

Pastilah pedih melihat anggota keluarga kita mendapat perlakuan berbeda pada saat akhir hayatnya. Tetapi sudah seharusnya pihak keluarga mengikuti aturan yang berlaku sebab, aturan tersebut diambil atas dasar untuk memelihara jiwa (hifzun nafs), karena jika dilakukan fardu kifayah seperti biasa, dikhawatirkan akan mendatangkan mudarat bagi jiwa yang lain.

Ada baiknya jika keluarga ingin sekali melihat proses fardu kifayah, bisa dilakukan pada saat di rumah sakit, mengenakan APD seperti petugas medis. Setelah itu jenazah langsung dikuburkan. Jadi hanya keluarga saja tidak perlu satu kampung menyaksikan, dibawa ke rumah, dibuka, dicium langsung yang tentu dapat berbahaya.

Dari wabah ini kita banyak mendapatkan ibrah (pelajaran), kita dilatih untuk sabar, ikhlas dan senantiasa meminta pertolongan dari Allah swt. Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah binti Abu Bakr Shiddiqah binti Shiddiqul Akbar, istri tercinta Rasulullah saw. menceritakan mereka yang bersabar akan dijanjikan syahid. “Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)” (HR Bukhori).

Editor : Ayu Wulandari Hasibuan

- Advertisement - DOP

Share article

Latest articles