Tragedi Mematikan Perayaan Halloween Itaewon

- Advertisement - Pfrasa_F
(Desainer: Tara Naura Siregar)

Penulis: Tara Naura Siregar

- Advertisement - jd

Pada 29 Oktober lalu, khalayak dikejutkan dengan tragedi mematikan di Itaewon. Malam itu harusnya menjadi perayaan Festival Halloween yang menyenangkan, karena sudah tiga tahun tidak diadakan. Namun, keadaan berubah menjadi traumatis dengan memakan korban jiwa yang banyak. Sebanyak 156 orang korban tewas, 149 korban luka-luka, dan 33 orang dalam kondisi kritis.

Dalam peristiwa ini, terdapat banyak laporan orang hilang dari Korea Selatan sendiri dan negara lain. Peserta yang hadir pada perayaan ini memang melonjak dibanding tahun-tahun sebelumnya, yaitu sekitar 100.000 orang. Insiden ini terjadi sekita pukul 22.20 Korean Standard Time (KST) dikarenakan over-crowded dan situasi tak kondusif di salah satu distrik. Wilayah tersebut adalah gang sempit dengan kontur jalan yang menurun dan menanjak, tingginya 45 meter, lalu lebarnya sekitar 4 meter.

Tepatnya berada di sebelah Hotel Hamilton dan di pintu keluar satu stasiun kereta bawah tanah, Itaewon. Ramainya orang di wilayah ini bukan tanpa sebab, di distrik tersebut terdapat pertigaan, jadi banyak tempat hiburan yang ingin dikunjungi orang. Meski gang sempit itu telah penuh, akan tetapi orang-orang terus masuk dari semua arah dan saling mendorong.

Akibatnya, orang-orang pada posisi menurun berjatuhan seperti domino. Inilah yang membuat pintu keluar terhambat, lalu terjadilah kekacauan yang mengerikan, karena mereka yang berada di posisi belakang tidak tahu bagaimana kondisi di depan, sehingga terus mendorong.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan bagaimana rupa orang-orang yang terhimpit saat jatuh seperti domino. Ada yang wajahnya sudah membiru, ada yang berteriak, dan ada yang berusaha memanjat bangunan di sebelahnya agar tidak kehabisan oksigen. Diperlihatkan juga bagaimana para polisi berusaha menyelamatkan kerumunan paling bawah dengan cara terus menarik tubuh orang yang sudah tak sadarkan diri tersebut. Mayoritas korban tewas karena mengalami cardiac arrest atau henti jantung.

Beberapa saksi mata menyebutkan bahwa keramaian di gang sempit tersebut mencapai 10 kali lipat dari biasanya. Bermunculan pula tweet para saksi mata di Twitter. Mereka menyebutkan bahwa pada awalnya memang kondisi di gang tersebut sudah ramai, tetapi tetap cukup terkoordinir, karena ada orang yang memandu jalan keluar dan masuk. Lalu, saat hari sudah mulai tengah malam, ada sekelompok orang berjumlah 5 sampai 6 orang pada posisi belakang yang tampak memprovokasi. Mereka menyuruh orang-orang untuk mendorong.

Bukti sekelompok orang ini beredar juga di Twitter. Terlihat bahwa saat mereka datang, di situlah situasi tidak kondusif terjadi. Salah satu orang di sekelompok itu adalah pria dengan poni belah tengah memakai topi telinga kelinci. Saat ini, polisi setempat sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait hal ini.

Meski adanya terduga provokasi, tetap tidak menutup kemungkinan bahwa insiden ini bisa terjadi, karena kelalaian pemerintah setempat. Kepolisian saat itu hanya mengerahkan 137 petugas, sedangkan 700 petugas dikerahkan untuk mengawal Presiden Korea Selatan yang sedang dinas. Petugas-petugas ini sebagian besar ditugaskan bukan untuk mengarahkan kerumunan para pengunjung, namun untuk memantau kemungkinan tindak kejahatan, seperti pelecehan seksual, pencurian, dan penggunaan narkoba.

Editor : Yaumi Sa’idah

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles